Tes Stanford Binet dan WAIS

Konsep intelegensi menurut beberapa pendekatan :
A. Teori belajar ( Mahoney & Waltz )
Dasarnya adlah hukum pembentukan tingkah laku, yaitu pemahaman terhadap intelegensi tergantung pada hukum – hukum dan prinsip umum individu dalam memahami tingkah laku tertentu atau bentuk perilaku baru, implikasinya adalah intelegensi dilihat berdasarkan perilaku yang nampak bukan berdasarkan konsep mental intelegensi (pengukuran menggunakan tes).
Menurut para ahli perilaku intelegen adalah :
1. Perilaku yang berisi proses belajar pada level fungsional tinggi dan merupakan respon khusus terhadap tuntutan dari luar.
2. Intelegensi tidak bersifat konkrit kepribadian , tetapi merupakan kualitas hasil belajar yang telah terjadi.
B. Pendekatan Neurobiologis ( Halstead dan Cattel ) dengan teori intelegensi biologis
Dasarnya adalah intelegensi dapat ditelusuri berdasarkan neuro anatomis dan neurobiologisnya. Pendekatan ini sangat mementingkan penelitian korelasi antara intelegensi dan aspek – aspek anatomi, elektrokimia dan fisiologis.
C. Pendekatan Psikometris
Dasarnya adalah suatu konstruksi / sifat psikologis yang tarafnya berbeda – beda untuk setiap individu.
Pendekatan ini mengutamakan pada cara – cara praktis dalam melakukan klasifikasi dan reduksi berdasarkan hasil pengukuran intelegensi.
Arah studi pendekatan ini adalah :
1. Bersifat praktis dan lebih menekankan pada penyelesaian masalah.
2. Menekankan pada konsep dan penyusunan teori tes.
Kelemahan adalah setelah alat tes dibuat dan ketika pengukuran dilakukan menggunakan alat tes tersebut.
Seagel mengkritik bahwa pendekatan ini terlalu menekankan pada aspek kuantitatif, intelegensi dilihat berdasarkan skor IQ saja, sedangkan aspek kualitatif kurang mendapatkan perhatian.
D. Pendekatan teori perkembangan ( Piaget dan Erikson )
Dasarnya adalah perkembangan intelegensi secara kualitatif yaitu berkaitan dengan tahap – tahap perkembangan individu secara biologis. Misalnya melihat intelegensi individu dewasa dan anak kecil dari cara berpikir mereka


Alfred Binet
 Alfred Binet ( 1857 – 1911 ) adalah ahli psikologi, direktur lab. psikologi di Universitas Sorbonne.
 Melakukan pengukuran intelegensi menggunakan metode Paul Broca yaitu dengan mengukur diameter tempurung anak – anak, yang biasa disebut metode kraniometri.
 Tahun 1895 menulis jurnal ilmiah berjudul “L’anne Psychologique” membahas tentang kraniometri tetapi kemudian meragukan hasil penelitiannya terhadap hasil kraniometri.
 Tahun 1904 Binet berpaling ke metode pskologis, beliau membuat alat bantu untuk mengukur ketajaman bayangan , ketahan dan kualitas perhatian, ingatan, kualitas penilaian moraldan estetika serta kecakapan menemukan kesalahan logika dan memahami kalimat – kalimat.
 Oktober 1904 Binet dan Theodore Simon membuat skala intelegensi pertama yaitu skala Binet Simon ( skala 1905 ), merupakan alat ukur utama untuk membedakan anak yang lemah mental dan normal. Cirinya adalah terdiri dari 30 soal yang disusun berdasarkan tingkat kesukaran yang semakin meningkat, penekanan pada daya penilaian, daya pemahaman dan kemampuan penalaran. Menghindari pertanyaan – pertanyaan berkaitan dengan pelajaran sekolah dan hasil pendidikan tidak mempunyai petunjuk pasti.
 Tahun 1908 ( skala 1908 ) jumlah tes diperbanyak, beberapa tes pada skala pertama yang tidak baik dibuang atau diadaptasi.
 Tahun 1911 skala Binet – Simon diterbitkan
 Tahun 1916 Lewis Madison Terman menyatakan kelemhan skala Binet – Simon karena keterbatasan jumlah anak (1000 anak – anak dari California saja).
 Tahun 1986 versi terbaru dari Stanford – Binet terbit dan memuat 4 kelompok penalaran dan terdiri dari berbagai macam tes.

Sub tes tersebut adalah :
Verbal Reasoning Vocabulary ( perbendaharaan kata )
Comprehension ( pemahaman )
Absurdities ( berkaitan dengan ke norma / di luar norma )
Verbal Relation ( hubungan antar kata )

Quatitative Reasoning
Quantitative Number Series (hitungan)
Equation Building (bentuk bangun / balok)
Number Series (deret angka, 1 – 3 – 7 – 9)

Abstrak / Visual Reasoning
Pattern Analysis (analisi pola)
Copying
Matrices
Paper folding & Cutting

Shortterm Memory
Bead Memory
Memory For Sentences
Memory For Digits
Memory For Object (puzzle)


WAIS
 Versi awal dari Stanford – Binet tidak begitu diterima sehingga tahun 1939 David Wechsler mengembangkan Wechsler Bellevue Intelligence ( WB – Scale ), merupakan tes yang didesain untuk orang dewasa.
 Item WB – Scale sudah disusun sesuai dengan tingkatan usia dan dibagi menjadi persubtes. Misalnya item – item aritmatika disusun dalam satu subtes dan disusun secara berurutan mulai dari yang paling sulit sampai yang paling mudah. Tambahannya adalah adanya skala performance dan skala verbal ( dibagi menjadi 6 dan 5 subtes).
 IQ setiap skala dihitung terpisah kemudian diadakan perhitungan untuk full scale IQ (IQ total)
 Wechsler menggunakan konsep deviasi IQ yaitu intelegensi dibagi secara normal dibandingkan dengan usia kelompok individu, artinya performance individu yang berusia 15 tahun akan dibandingkan dengan individu lain yang juga berusia 15 tahun.
 Metode ini secara statistika memunculkan IQ 100 sebagai mean dari setiap kelompok usia.
 WAIS (1955), merupakan versi terbaru WB – scale.
 Revisinya adalah WAIS – R (1981)
 Versi terbarunya WAIS IV (1997)
Terdiri atas 14 subtes yaitu :
Verbal Performance
Vocabulary
Similarity
Arithmatic
Digit Span
Information
Comprehension
Letter Number Sequencing
Picture Completion
Digit Symbol – coding
Block Design
Matrix Reasoning
Picture Arrangement
Symbol Scale
Object assembly
Perubahannya adalah :
1. Adanya reversal item pengulangan pada beberapa subtes
Dalam subtes ini dimulai dengan 2 item dalam basal ( range ) yang sama dan harus mendapatkan nilai sempurna, jikan tidak item sebelumnya harus diberikan terlebih dahulu sehingga skornya sempurna untuk 2 item berturut – turut.
2. Adanya index score dalam penambahan IQ (IQ verbal, performance dan IQ total)
Tujuannya adalah memperoleh IQ dan index score dengan mengkonversi row score kedalam scale score disesuaikan dengan kelompok umurnya. IQ dan index score didapatkan dengan menjumlahkan scale score dari subtes yang dipilah lalu dikonversikan kedalam equivalen IQ / kategori IQ.
Memberikan evaluasi yang lebih detail mengenai kekuatan dan kelemahan testee pada setiap tugas yang diberikan.

Empat Index Score :
1. Verbal Comprehension
 Vocabulary
 Similarity
 Information
2. Perceptual Orgaization
 Picture Completion
 Lock Design
 Matrix Reasoning
3. Working memory
 Arithmatic
 Digit Span
 Letter Number Sequencing
4. Processing Speed
 Digit Symbol
 Symbol Search – Coding

WISC
 Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1949
 Revisi tahun 1974 yaitu WISC – R
 Revisi selanjutnya tahun 1991 yaitu WISC – III
 Versi terakhir adalah pada tahun 2003 yaitu WISC – IV
 Digunakan untuk usia 6 – 16 tahun, terdiri dari 10 subtes inti dan 5 subtes pelengkap, memiliki struktur hirarki dimana subtes digolongkan kedalam 4 kelompok index, yaitu :
1. The Verbal Comprehension index (VCI)
 Similarities
 Vocabulary
 Comprehension
Tambahannya : Subtes Information dan word reasoning (IQ verbal pada tes Wechsler lainnya)
2. The Perceptual Reasoning Index (PRI)
 Block Design
 Picture Concept
 Matrix Reasoning
Tambahannya : Picture completion (IQ performance pada tes Wechsler yang lain)
3. The Working Memory Index (WMI)
 Digit Span
 Letter Number Sequencing
Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan anak menyimpan informasi dalam kesadaran dan menunjukan beberapa operasi matematik
4. The Processing Speed Index (PSI)
 Coding & Symbol Search
Tambahannya adalah mengukur kecepatan memproses informasi dan tugas – tugas yang menggunakan waktu.

Kegunaan Tes Intelegensi
1. Estimasi dari level intelektual yang umum
Alat ukur untuk mendapatkan estimasi level intelektual, jadi klinisi bukan hanya mendapatkan skor IQ tetapi juga menginterpretasikannya.
2. Prediksi kesuksesan akademis
Logisnya intelegensi merefleksikan kapasitas yang bagus disekolah (akademik)
3. The Appraisal of style
Yaitu tidak penting apakah klien / testee berhasil atau gagal pada item – item yang ada, tapi yang penting adalah bagaimana proses klien / testee bisa berhasil atau gagal.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s