Adeku

Lukisan ade

Lukisan ade

Namanya Nadia, dia adalah sahabat yang merangkap sebagai ade gw. Kami pertama kali kenal 6 tahun lalu karena kami kuliah sekelas sejak semester  1.

Awalnya kami hanya teman biasa aja, bahkan kami berbeda geng, main barengpun jarang. Tapi diakhir-akhir masa perkuliahan kami jadi semakin dekat. Kami sering berbagi cerita tentang hal-hal yang kadang gak penting dan gak perlu diceritain.

Semester 1

Semester 1

Kami sempat jauh karena dia memutuskan cuti kuliah satu semester demi berjuang bersama band musiknya yang sedang banyak panggilan manggung untuk promosi. Tapi pada akhirnya dia bisa ngejar kuliah dan kamipun lulus kuliah bareng. Kami saling bantu selama proses penulisan ilmiah maupun skripsi. Gw gak mau dia terlambat  lulusnya, sementara gw bisa bantu dia. Gw lakukan semaksimal mungkin supaya kami bisa beresin semuanya. Begitupun sebaliknya dia berusaha bantu gw selama ngerjain skripsi.

Try to fix your shoes on your final exam

Try to fix your shoes on your final exam

Brosis

Brosist

Entah kapan awal mula gw panggil dia “Ade” dan dia panggil gw “Abang”. Gw suka dengan panggilan itu, gw ngerasa jadi punya seseorang yang bisa gw bimbing, gw lindungi dan gw sayang.

Dia adalah pendengar yang baik, dia mau luangin waktunya untuk dengerin cerita-cerita gw. Cerita tentang hal baik maupun tentang hal yang kurang baik tetap dia dengarkan dan sesekali dia akan kasih feedback yang berguna buat penyelesaian masalahnya.

When I need you to hear me, then you start to tell your story :')

Setelah lulus kuliah kami mulai jarang bisa ketemu, tapi kami tetep berkomunikasi lewat sms, telepon ataupun whatsapp messanger. Kami tetep berbagi cerita keseharian kami masing-masing. Gw sering dapet kabar tentang dia yang lagi rekaman, ngajar les piano ataupun lagi latihan biasa. Sebaliknya diapun selalu dapet kabar gw lagi lomba dimana, interview di kantor apa, diterima kerja dimana dan lagi sibuk apa. Bener-bener kayak keluarga kandung.

Saking udah anggap dia ade beneran, tiap kali tau dia lagi sakit gw akan kepikiran sepanjang hari. Karena biasanya dia sakit karena faktor fisiknya yang kelelahan. Rasanya mau tukeran aja biar gw yang di posisi, karena gw tau betul cara memulihkan tubuh yang kelelahan.

When You are getting sick

When You are getting sick

Dia juga sering andalin gw dalam banyak hal. Dia sering nanya jalan kalo lagi ada undangan audisi ataupun dapet murid les baru. Seolah dia yakin gw tau semua jalan di Jabotabek ini hahaha. Selain itu, dia juga sering minta pendapat untuk hal-hal yang berbau gadget. Eh, ngomong-ngomong berkat saran gw, hp kami mereknya samaan loh, Himax ! Merek lokal yang kualitasnya high level hehehe..

 

Dear Nadia,

Terima kasih untuk semua yang udah ade kasih. Waktu yang mahal, telinga yang lebar, ide yang cemerlang dan hati yang tulus untuk terus mendukung apa yang abang lakukan. Terima kasih juga untuk ilmu ikhlas yang kamu tularin. Gak banyak yang bisa abang kasih, tapi akan selalu ada waktu untuk kamu, telinga ini akan sama lebarnya untuk mendengar keceriaan dan keluhan kamu, hati ini akan sama tulusnya untuk selalu dukung kamu. Semoga hubungan kita ini bisa bertahan sampe tua nanti, lucu bayanginnya nanti anakmu manggil aku “Tulang” dan anakku manggil kamu “Bu Le”😀

Love you, De..🙂

Screenshot_2015-08-15-23-29-40 Screenshot_2015-08-15-23-27-23

Vacancy to Bogor Batanical Garden

Vacancy to Bogor Batanical Garden

Break fasting together

Break fasting together

Holiday in Jogja

Holiday in Jogja

Trip to Untung Jawa

Trip to Untung Jawa

Pulang Kuliah

Pulang Kuliah

RUN never Stop

RUN never Stop

Ceritanya duet

Ceritanya duet

Ultah Ade

Ultah Ade

Lukisan pertama ade

Lukisan pertama ade

Sherenade chibi

Sherenade chibi

Dialah..

Malam ini gw mau cerita tentang Jule..

Iya Jule, perempuan yang ceritanya paling banyak di blog ini.

Beberapa hari lalu kami akhirnya bisa ketemu setelah lumayan lama gak ketemu. Biasanya saat kami ketemuan selalu ada temen lain juga yang ikutan, tapi kali ini nggak. Kami hanya berdua, tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya kami.

Awalnya gw gak mau cerita kesiapapun, tapi ternyata Jule udah duluan cerita ke orang lain.. yaudahlah sekalian aja gw ceritain disini hahaha..

Awal mula kami bisa sengaja ketemuan adalah karena perusahaan tempat gw kerja sedang menjalankan sebuah proyek di luar kota, tepatnya di Cepu, Jawa Tengah. Di proyek ini gw diminta ambil bagian untuk jadi site manager, artinya gw akan menetap disana sampai proyek selesai.

Selama sepekan pikiran gw bener-bener terganggu karena hal itu. Ada perasaan gak rela ninggalin semua yang ada di sini. Gw belom siap ninggalin 2 keponakan gw yang kocak, gw belom rela ninggalin temen-temen kuliah, temen-temen gereja dan tentunya gw gak siap ninggalin Jule.

Setelah gw ngabarin keluarga, gw langsung kabari Jule. Gw minta dia untuk bisa ketemuan, tapi sejujurnya gw gak mau maksa dia. Gw paham betul gak mudah bagi kami untuk bisa ketemuan karena berbagai alasan, tapi ternyata Jule sangat mengusahakan untuk bisa ketemuan. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama, sama-sama belum siap pisah untuk waktu yang lama.

Kami akhirnya ketemu di hari selasa 30 Juni 2015 di kampus H. Kebetulan hari itu ada acara buka puasa bersama iLab, tapi karena Jule bukan mantan aslab iLab jadi dia gak boleh masuk. Kamipun akhirnya ngobrol di luar. Lega banget bisa liat dia dari jarak sedekat itu. Bisa ngeliat dia senyum dan ketawa ngakak karena joke-joke gw yang sebenernya gak lucu-lucu amat bagi orang lain, tapi bagi dia itu lucu.

Gw selalu bisa bikin dia ketawa, dan gw suka tiap liat dia ketawa.. Kami simbiosis mutualisme yang tak terbantahkan.

Setengah jam berlalu kamipun angkat kaki dari kampus H, kami menuju Margonda untuk makan malam. Malam itu Jule yang pilih tempatnya.

Gw pesen makanan dengan porsi normal, sedangkan Jule pesen bubur yang porsinya sebaskom, entah apa yang ada dipikiran dia haha..

Rakus

Rakus

Malam itu gw yang pimpin doa, percaya atau tidak ini adalah pertama kalinya kami satu dalam doa. Doa spontan yang sebenarnya biasa aja, tapi gw bahagia banget bisa berdoa untuk dia dan didengar langsung oleh dia. Setidaknya dia tau bahwa gw sungguh-sungguh rindu dia.

Kami makan sambil cerita-cerita tentang keseharian kami. Dia dengan kesehariannya sebagai konsultan rekrutmen pegawai dan gw dengan keseharian sebagai pegawai serabutan. Lalu sesekali kami ingat memori masa lalu kami. Kami memang gak pernah keabisan cerita..

Dari dulu beginilah kami, tidak ada yang berubah. Mungkin kami pernah saling menyakiti, tapi kami selalu ingat untuk saling menyayangi. Apapun caranya..

Gw sering menahan diri untuk gak hubungi dia, gw gak mau ganggu hidup dia dengan perasaan-perasaan ambigu di diri gw. Ketika gw mulai kangen sama dia, maka gw akan liat foto-foto dia di facebook atau instagram. Setidaknya gw tau dia baik-baik aja.. Klise memang, tapi demikianlah faktanya. Gw selalu suka liat foto dia yang lagi senyum ataupun ketawa.

Malam itu gw bahagia karena gw tau dia gak berubah, dia tetap jadi Jule yang gw kenal.

Dialah wanita yang bayangannya selalu muncul dalam tiap lamunan

Dialah wanita yang selalu jadi inspirasi di tiap karya gw

Dialah wanita yang namanya seringkali terselip dalam doa-doa gw

Dialah wanita yang jadi alasan gw bekerja keras

Dialah Yuliana Hutasoit

IMG-20150626-WA0006 IMG_20150630_194259 IMG_20150705_121644_1

IMG_20150630_204622

Pengalaman Spiritual Dari Cara Sederhana (Tribute to KKMK St. Matius Bintaro)

Halo semua,

Kali ini gw mau berbagi cerita tentang pengalaman spiritual gw beberapa waktu belakangan ini. Tenang aja gw bukan abis bertapa dan kesurupan. Hehehe..

Bulan April lalu, tepatnya tanggal 2 -4 April 2015 gw dan beberapa temen kampus pergi naik gunung ke Cikuray di Garut. Tanggal itu merupakan pekan suci buat umat Katholik, rasanya bodoh banget kalo gw malah gak ke gereja. Tapi yang gw pilih adalah pilihan bodoh itu, bukan tanpa alasan gw akhirnya memutuskan demikian.

Sabtu tanggal 28 Maret gw diajak temen untuk ikut, lalu gw gak bilang bisa ikut atau nggak. Baru di hari minggu tanggal 29 Maret, saat selesai misa gw gak langsung pulang. Saat itu gw duduk menatapi langit-langit gereja sambil merenung gw berucap dalam hati, “Kalau memang Tuhan hanya ada di Gereja tentu gak akan banyak yang bisa dilakukan Tuhan terhadap umatnya. Di sekolah, di Kampus, di Kantor pasti ada Tuhan, apalagi di Gunung.” Kalau kita sedikit ingat-ingat pasti kita akan menemui banyak orang-orang besar yang ke Gunung untuk berdoa, bahkan Yesus-pun ke gunung.

Hanya bermodalkan pemikiran demikian gw ambil keputusan untuk ikut naik gunung. Motivasi gw sederhana, gw mau merasakan pedihnya hari Jum’at Agung. Selama ini gw hanya bisa terharu dan bersedih ketika melihat Tablo Jalan Salib di geraja ataupun nonton film Passion Of The Christ yang hampir tiap tahun pasti di putar di tv.

Meskipun banyak teman yang menyindir, tapi gw gak ambil pusing karena yang gw lakukan adalah upaya untuk bertemu Tuhan.

Ini adalah pendakian pertama gw dan gw baru tau belakangan dari temen gw bahwa medan pendakian gunung Cikuray adalah salah satu yang tersulit.

Selama pendakian pelan tapi pasti menyadari keberadaan Tuhan disana. Mulai dari alam yang indah, cuaca yang cerah dan yang paling istimewa adalah ketika bertemu sesama pendaki. Walau tidak saling kenal, mereka dengan ramahnya menyapa dan menawarkan bantuan kepada gw saat kesulitan menaiki dinding-dinding jalur pendakian. Mustahil mereka melakukan itu semua tanpa campur tangan Tuhan, apalagi ditengan perjalanan gw terpisah dari kelompok gw. Dari sana gw memahami bahwa sesulit apapun masalah kita pasti akan ada perpanjangan tangan-tangan Tuhan yang datang membantu. Mereka menolong gw tanpa bertanya darimana gw berasal, apa suku gw dan apa agama gw. Mereka menolong begitu saja, sama seperti Tuhan Yesus yang mengasihi kita, tanpa memandang seberapa besar dosa yang sudah kita perbuat.

Dari pengalaman ini gw semakin yakin bahwa Tuhan ada dimana-mana.

Cikuray

Cikuray

Beberapa hari setelah pendakian ke Cikuray selesai kaka gw menginformasikan ada Misa Gunung yang diadakan oleh Kelompok Karyawan Muda Katholik (KKMK) Gereja Santo Matius. Mendengar acara naik gunung gw semangat banget untuk ikutan, tapi sejenak gw berpikir mengingat penyelenggaranya adalah pemuda gereja. Gw gak terlalu tertarik jika harus bergabung dengan organisasi atau perkumpulan yang berbau gereja. Penyebabnya adalah ketika gw kuliah gw sempat berdebat dengan salah seorang anggota Kelompok Mahasiswa Katholik (KMK) tentang kutipan-kutipan Kitab Suci. Lalu di lain kesempatan gw juga bertemu dengan pengurus lingkungan, saat kami sedang ngobrol beliau terus-menerus mengait-ngaitkan kebobrokan negri ini karena dipimpin oleh orang yang tidak memahami nilai-nilai ke-Katholik-an. Dari situ gw langsung menggeneralisir bahwa orang-orang yang ikut organisasi keagamaan cenderung ofensif dan memandang orang lain bodoh. Bagi gw kitab suci tidak untuk diperdebatkan, maka gw putuskan untuk meninggalkan dan tidak mau terlibat lagi dengan orang-orang macam itu.

Lanjut lagi ke Misa Gunung, singkat cerita gw putuskan untuk ikut, tapi gw tidak mau ikut terlibat dalam kegiatan pemuda. Kemudian entah bagaimana tiba-tiba aja Ka Tety menawarkan gw untuk gabung di grup Whatsapp KKMK. Gw awalnya menolak, tapi karena perasaan gak enak akhirnya gw mau. Seperti yang gw duga sebelumnya grup ini pasti akan tampil religius. Dalam sehari entah ada berapa kali kata-kata bijak dan doa-doa dibagikan dalam grup ini. Jenuh sekali rasanya.. Bukan, gw bukan orang yang benci dengan hal-hal seperti itu, karena gw pun sebenarnya sering melakukan hal yang sama di media sosial.

Persepsi gw tentang kelompok ini berangsur berubah, terutama ketika gw coba mengangkat kasus Mary Jane. Dari sana gw bisa paham bahwa kelompok ini adalah kelompok yang pemikirannya luas, tidak berfokus pada segelintir ide saja. Mereka demokratis, mereka kritis dan ide mereka taktis.

2 minggu menjelang pelaksanaan Misa Gunung, kami berkumpul untuk technical meeting dan pelatihan dasar, karena sebagian besar dari peserta belum pernah naik gunung. Menyenangkan sekali ikut technical meeting ini karena mentor menyajikan dengan sangat jelas. Saking asiknya ikut TM ini gw sampai merelakan membatalkan permintaan mengisi acara di pernikahan temen. Kebetulan waktu itu hujan deras, jadi masih ada alasan untuk membatalkan acara itu. Heheh..IMG_20150503_123158

Tanggal 14 Mei 2015, Hari H tiba.

Misa Gunung di Gunung Gede akan segera kami lakukan. Kami berangkat dengan 2 mobil tronton. Awalnya gw sempat khawatir bakal bengong sepanjang perjalanan, karena baru sedikit sekali yang gw kenal dan tau namanya. Tapi ternyata gak sampai 15 menit sudah banyak celetukan-celetukan segar dari peserta. Sepanjang perjalanan banyak sekali tawa bertebaran, sampai-sampai suara jadi serak

.IMG_20150514_140333IMG_20150514_130223

Ditempat penginapanpun demikian kami semua larut dalam candaan yang kadang cukup sadis, tapi kami semua tertawa lepas tanpa ada yang merasa tersinggung. Aneh sekali kalau diingat-ingat karena gw belom tau nama mereka satu persatu tapi bisa bercanda sekocak itu.

IMG_20150514_170404IMG_20150514_175911

Mereka juga orang-orang yang terbuka dengan masukan-masukan. Waktu itu gw coba membagikan trik menghangatkan badan untuk menghindari diri dari hipotermia. Tadinya mau pake hipnotis, tapi suasananya terlalu rame, khawatir gak bisa fokus. Akhirnya pake teknik pernafasan aja.

Tanggal 15 Mei 2015, Hari pendakian dimulai.

Kami semua memulai pendakian sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Di kelompok gw ada Martin, Angel, Stephanie, Josua, Nando, Hans dan Gw sendiri. Rencana awalnya adalah Hans jadi leader dan gw yang jadi sweeper, tapi dalam perjalanannya kami ternyata sering terpisah, tapi untungnya masih ada kelompok lain yang bisa beriringan selama pendakian. Petaka terjadi saat kami beristirahat di Pos 3, kaki kanan cedera dan gak bisa ditekuk penuh. Cedera yang udah lama gw punya sejak beberapa tahun lalu dan terakhir kambuh saat gw sedang mendaki Cikuray.

IMG_20150515_061701 IMG_20150515_063706

IMG_20150515_075020

Sakit banget rasanya, tapi perjalanan harus diselesaikan. Disinilah gw mulai kembali merasakan kehadiran Tuhan. Gw berujar dalam hati,

“Tuhan, batas kemampuanku sudah hampir habis, beri aku pertolonganmu ya Tuhan. Apapun itu.”

Tak lama setelah berujar demikian beberapa teman mulai menyadari ada yang aneh dengan langkah gw, merekapun menolong. Ya, benar gw selalu berusaha tampak baik-baik saja. Semua kemampuan fisik dan pengetahuan gw tidak cukup untuk menuntaskan pendakian ini. Beruntung ada mereka yang selalu mengulurkan tangannya, meneriakan semangat dan menunggu kaki ini sedikit pulih untuk langkah-langkah kecil ke atas.

Sampai di Surya Kencana, kaki ini seperti terselamatkan karena medannya yang datar-datar saja. Saat itu gw ditemani Mimi untuk menuju camp yang lokasinya dekat dengan sumber air. Mimi adalah salah satu dari tim medis yang geraknya sigap. Dia selalu mencoba membantu peserta yang keram ataupun kelelahan, walaupun ternyata dia gak ngerti cara memijat bagian-bagian yang cedera. Heheh..IMG_20150515_153349

Pukul 21.00 hampir semua peserta sudah masuk tenda untuk beristirahat. Kebetulan waktu itu hujan turun rintik-rintik. Jam 00.30 gw kebangun karena ada suara keras dari seoarng pria bersajak rindu di luar tenda. Mas Edy berusaha mengaggumi angkasa dengan untaian kata-kata romantis sembari mengingat sang rindu. Ini orang reseh banget ganggu tidur orang hahaha.. Pokoknya sejak itu gw gak bisa tidur dengan tenang. hahaha

Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede, sekitar 1 jam waktu yang kami butuhkan untuk tiba dipuncak. Gak lama kemudian matahari mulai mengintip malu-malu menyapa pendaki. Dia menawarkan cahaya-cahaya jingganya sedikit demi sedikit sampai kami puas.

PicsArt_1431812343444

Setelah semua janji-janji keindahan puncak kami lahap, kamipun turun. Baru beberapa langkah kaki kanan dan kiri gw mendadak sakit luar biasa. Rasa sakit seperti ini terakhir kali gw rasakan waktu gw abis lari maraton. Karena kaki hampir sama sekali gak bisa diandalin untuk menuruni puncak gunung maka gw bergerak kayak orang utan. Tangan kanan dan kiri gw bergantian meraih batang-batang kayu dipinggiran jalur pendakian, sedangkan kaki hanya pasrah mengikuti arah tangan meraih batang-batang pohon. Sampai akhirnya gw benar-benar jadi yang paling belakang karena lambatnya. Beruntung masih ada Mbak Yeni & Mas Byan yang sabar memantau dan menolong gw. Mereka juga sangat membantu gw dalam menjaga semangat dengan cara terus mengajak gw ngobrol sampai akhirnya gw  bisa memijakkan kaki di tanah datar Surya Kencana.

Setelah berkemas-kemas kami memulai Misa Gunung yang dipimpin oleh Romo Alfons. Ini adalah pengalaman pertama gw mengikuti misa di gunung. Keren banget rasanya bisa misa sambil merasakan semua elemen alam. Membaur bersama saudara seiman, meresapi kehadiran Sang Khalik dalam hati masing-masing. Misa yang rasanya gak akan bisa gw lupain seumur hidup gw. Kapan lagi misa bisa pake kaca mata item dan muka ditabrak-tabrak angin hahaha..

IMG-20150519-WA0002 IMG-20150519-WA0005

Selesai misa kami bersiap untuk turun gunung. Disinilah kekhawatiran terbesar gw muncul. Ketika naik menuju Surya Kencana, hanya kaki kanan saja yang cedera, sedangkan saat akan turun kondisinya lebih parah, dua kaki gw udah payah. Untuk sekedar melangkah normal aja gw harus menahan sakit, apalagi harus menopang berat badan saat memijaki turunan gunung ini. Atas seizin Mas Yoyon gw boleh pinjem trekking pole punyanya. Alat ini sangat membantu untuk menjaga keseimbangan saat melangkah, berasa punya 3 kaki.

IMG_20150516_112501

Karena besarnya rasa kasih tim medis, gw didampingi 3 orang sekaligus untuk menuruni gunung ini. Ada Anni, Else dan Mimi yang langkahnya selalu mengawasi gw. Selain itu juga ada Mbak Yeni, Paul M dan Mas Byan yang menjadi sweeper. Berkali-kali gw harus meringis kesakitan karena salah landing akibat dari kaki yang memang udah gak bisa ditekuk sempurna.

Karena irama langkah yang makin melambat akhirnya tiga tim medis itu maju duluan karena masih banyak yang butuh bantuan di depan sana. Tinggallah kami berempat dibarisan paling belakang sampai hari mulai gelap. Paul M selalu berusaha mengulurkan tangannya untuk membantu, tapi gw selalu menolak karena gw yakin masih bisa dan karena dia juga udah kesakitan jari-jari kakinya. Hal yang membuat gw masih bertahan untuk terus melangkah adalah watak gw yang gak mau nyerah. Itu adalah berkat terbesar dari Tuhan yang gw miliki. Lalu seolah Tuhan tidak hentinya memberi pertolongan, Ia kirimkan Paul dan Wawan untuk membantu kami menuju pos penginapan.

IMG_20150516_171946

Sampai di penginapan kami semua segera berkemas untuk pulang menuju Gereja Santo Matius Bintaro.

Dari kejadian ini gw kembali menemukan Tuhan dalam hati dan tindakan temen-temen di KKMK. Kemurahan hati untuk menolong, kemurahan hati untuk  bersabar dan setia kawan.

Sepekan berlalu setelah Misa Gunung, tersiarlah rencana untuk Napak Tilas ke-2 di tanggal 30 Mei 2015 sebagai pentup bulan Maria. Napak Tilas ini mengambil rute jalan kaki dari Gereja Santo Matius Bintaro sampai Gereja Katedral Jakarta dengan jarak total 26 Km. Awalnya gw gak bisa ikut karena udah berencana naik gunung sama temen-temen kantor dan kalaupun batal naik gunung sudah ada request dari temen untuk ngisi acara di pernikahannya.

Ada perasaan ingin terus ikut semua kegiatan KKMK yang waktu dan tempatnya bisa gw jangkau. KKMK juga sedang menggiatkan senam Zumba Dance yang dilaksanakan tiap sabtu jam 7 pagi. Sayangnya gw gak bisa ikut karena memang sabtu juga kerja. Lalu ada juga badminton yang lewat bantuan Romo Tyo kami bisa menggunakan hall sekolah Ricci II.

Lewat grup Whatsapp kami semua berkomunikasi untuk segala kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan, termasuk ketika akan mengadakan doa  Rosario bersama. Hmmm… udah lama banget gw gak ikut doa Rosario bareng dimana gw bisa mendapat giliran membacakan doa Salam Maria. Kalo gak salah tahun 2012 gw terakhir kali ikut doa Rosario bareng kayak gini. Tahun lalu gw masih ikut doa Rosario tapi massal di Gereja Santo Thomas Kelapa Dua, sebelum misa di mulai. Makanya ketika Satrio mengajak, gw pastikan gw ikut dan batalkan semua orderan sketsa.

29 Mei 2015, Kemarin saat Rosario Bareng gw udah ngeprint tata cara doa Rosario. Mungkin kemarin temen-temen ada yang liat gw masih terus menerus liat kertas saat doa Rosario berlangsung, maaf karena gw memang bener-bener gak inget urutannya. Ampuni aku ya Tuhan. Heheh..

IMG_20150529_200109

30 Mei 2015, Napak Tilas

Gw sebelumnya bilang akan mengusahakan untuk bisa ikut, gw akan kejar waktunya supaya bisa sempat join. Ternyata gayung bersambut, konsep acara pernikahan temen dimodifikasi, untuk hiburan dilangsungkan menjelang siang hari, jadi gw gak harus berpartisipasi karena gw masih kerja di kantor. Ketika gw datengpun hiburannya udah hiburan tradisional. Gw langsung ngabarin Adji untuk bisa ikut Napak Tilas.

Kami semua ngumpul jam 21.00 di sekolah Ricci II, lalu memulai perjalanan jam 21.21, rute perjalanan yang dipilih mirip dengan rute angkot dengan alasan keamanan seluruh peserta. Kami dibagi kedalam 4 kelompok, gw tergabung dalam kelompok 3 dengan ketuanya adalah Fia.

IMG_20150530_223247 IMG_20150530_230911 IMG_20150531_010055 IMG_20150531_031221

Beberapa panitia tidak ikut Napak Tilas karena bertugas menjadi koordinator rute, konsumsi dan dokumentasi. Salut buat konsumsi yang gak habis-habis, jangan-jangan ada sentuhan tangan Tuhan kayak pas Yesus melakukan mujizatnya terhadap 2 ikan dan 5 roti hahaha..

Diawal perjalanan gw lancar-lancar aja dan kecepatan gw juga cukup stabil, tapi di sepertiga akhir perjalanan gw lagi-lagi cedera, kali ini ditelapak kiri, alhasil gw harus menyelesaikan perjalanan dengan terseok-seok. Lagi-lagi kesetiakawanan anggota kelompok  sangat terlihat disini. Mereka selalu menunggu gw yang berkali-kali harus meregangkan dan meluruskan kaki. Meskipun harus jalan terpincang-pincang Puji Tuhan gw masih bisa sampai di Gereja Katedral dengan selamat. Setelah semua kelompok tiba, acara dilanjutkan dengan doa Rosario bersama sebelum kami pulang dengan metro mini yang rasanya seperti Alphard hahaha..

IMG_20150531_050056

Next, kita akan mengadakan operasi bersih (opsih) tapi dengan konsep yang tidak membuat KKMK hanya menjadi petugas kebersihan. Semoga bisa terlaksana.

Mumpung masih bertugas di Jakarta gw akan coba untuk bisa mengikuti kegiatan-kegiatan KKMK. Syukur-syukur bisa berkontribusi lebih..

Terima kasih Tuhan untuk semua kebaikanMu mengirimkan tangan-tangan kecil untuk mengajakku masuk komunitas yang baik ini.

Terima kasih Romo Alfons untuk semua khotbah dan teladan manusiawinya. Saya baru tau seorang Romo-pun bisa luwes bergabung dengan anak muda. Hehe..

Terima kasih untuk Mimi, Else dan Anni yang selalu menghibur di saat kondisi sudah serba payah, aku izinin kalian manggil “Aim” sampai kapanpun kalian suka hahaha..

Terima kasih Mas Byan, Mbak Yeni, Mas Wawan, Paul, dan Paul M yang sudah bersedia menjadi sweeper di masa-masa kritis.

Terima Kasih Mas Kelik, Mas Miko, Mas Edy dan Satrio  yang udah ngasih banyak ilmu hiking

Terima Kasih Adji dan Ka Tety yang udah mefasilitasi untuk gabung di KKMK

Terima kasih Mas Yoyon yang bersedia minjemin trekking pole-nya

Terima kasih kelompok 2 hiking (Hans, Martin, Angel, Stephanie, Josua dan Nando) yang terpaksa direpotin selama pendakian.

Terima kasih untuk Ka Josephine yang udah nyediain konsumsi selama Napak Tilas episode 2.

Dan terima kasih buat semua anggota KKMK yang gak disebut namanya, bisa puluhan lembar kalo semuanya ditulis.

Terima kasih sudah mau menerima gw dalam komunitas baik dan koplak ini, kalian adalah perpanjangan tangan Tuhan yang sedang membantu gw untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Semoga kita segera dipisahkan karena pernikahan hahaha..

IMG_20150516_061100 IMG_20150516_062148 IMG_20150516_064503

Belajar dari Cikuray

Tanggal 2, 3 dan 4 April 2015 adalah hari yang udah gw persiapkan untuk pergi ke Garut, lebih spesifiknya ke Gunung Cikuray. Untuk  pertama kalinya gw akan naik gunung. Sebenernya boleh dibilang gw cukup dadakan untuk ikut trip ini, karena awalnya gw cuma diceritain aja sama temen gw, Bejong dan Jon waktu gw lagi main ke rumah Bejong tanggal 28 Maret 2015. Singkat cerita gw ambil jatah cuti di kantor untuk bisa ikut trip ini.

Salah satu hal yang memungkinkan gw bisa ikut walau dengan persiapan yang mepet adalah karena Kakak gw punya alat lengkap untuk naik gunung, jadi selain gw gak perlu repot nyiapin alat juga sangat mengirit biaya hahaha.. Gw tinggal buat ceklis perlengkapan apa aja yang akan gw bawa.

Untuk mempermudah komunikasi antar anggota kelompok yang ikut trip ini, Bejong buat grup di Whatsapp. Seru ngeliat obrolan di grup ini karena selain gw, masih ada Moe dan Githa yang juga baru pertama kali bakal naik gunung, jadi pertanyaan mereka berdua tentang persiapan hiking ini seringkali adalah pertanyaan yang mau gw sampaikan juga hehehe..

Awalnya rombongan kami ada 6 orang, yaitu Gw, Bejong, Jon, Moe, Githa dan Arum, tapi beberapa hari sebelum keberangkatan Arum mengundurkan diri karena siklus bulanannya datang, lalu yang paling tragis adalah Githa yang batal ikut karena di hari H diminta orang kantornya untuk tetep kerja di hari sabtunya. Mungkin diantara kami juga sempet terlintas untuk ngebatalin aja, apalagi kalo ngeliat cuaca saat itu memang sedang tidak kondusif.

Malam tiba, temen-temen yang lain sudah bergerak menuju terminal Kampung Rambutan, sedangkan gw masih bingung mau berangkat pake apa karena jarak rumah gw lumayan jauh kalo harus ditempuh pake mobil, tiba-tiba gw kepikiran untuk bawa motor aja. Gw langsung hubungin Aji supaya gw bisa nitip motor dirumahnya, kebetulan rumah Aji jaraknya gak jauh dari terminal Kampung Rambutan.

Sampe di rumah Aji gw disambut sama Opa dan Mama Aji, karena Aji masih di jalan sehabis pulang dari kantor. Untungnya gw udah sangat akrab sama keluarga ini, jadi gak perlu canggung-canggung lagi. Gw dan Mama Aji ngobrol banyak hal sampai akhirnya Aji datang dan ikut ngobrol juga. Sekitar jam 21.30 gw pamit dari rumah Aji untuk menuju Kampung Rambutan karena sudah ada Jon yang udah nunggu lama.

Berangkat

Berangkat

Sekitar Jam 22.30 akhirnya kita semua sudah lengkap. Kami makan nasi padang di warung makan dekat terminal, lalu dilanjut ke dalam terminal untuk naik bus jurusan Garut. Setelah semua kursi terisi jam 23.00 Bus berangkat menuju garut, tarifnya adalah Rp.52.000. Perjalan malam itu lumayan macet, aneh ya padahal udah tengah malam dan bukan hari libur tapi kok macet ya ? Singkat cerita kami semua tiba di terminal Guntur jam 5.50. Disana sudah ada Fahmi dan Hilman, mereka gabung dengan rombongan kami, jadi total kami ada 6 orang. Setelah ngumpul temen-temen langsung menuju mushola untuk sholat.

Nyampe Guntur

Nyampe Guntur

Di terminal Guntur gw ketemu temen gw waktu masih kerja di iLab Gunadarma, namanya Ridwan. Dia mau naik gunung Papandayan katanya. Sebenernya gw juga ngeliat banyak mahasiswa Gunadarma, tapi gw gak tau namanya jadi waktu papasan palingan kita cuma bisa tukar senyum dan sesekali ada yang nyapa, “Hei kak..”, pasti dia dulu praktikan di iLab hehe..

Setelah selesai sholat dan sarapan kami langsung menuju mobil angkot yang kami carter untuk anter kami ke kaki gunung Cikuray. Tarif dari terminal Guntur ke kaki Gunung Cikuray adalah Rp.45.000. Ditengah perjalanan menuju kaki bukit angkot yang kami naiki diberhentikan oleh seorang yang punya mobil bak terbuka dan setelah berdiskusi dengan Pak supir, kami semua dipindahkan ke mobil bak terbuka itu karena alasan keselamatan. Sempat terlintas pikiran negatif karena gak percaya masa angkot dianggap gak aman naik bukit ?? Tapi begitu dijalani gw baru percaya karena memang jalurnya sangat terjal, jadi butuh mobil dengan silinder cc lebih besar.

IMobil bak Kebun teh

Kami hanya diantar sampai di bawah pos Pemancar, pos terakhir dimana mobil bisa lewat, selebihnya kami tapaki dengan kaki kami masing-masing. Baru sebentar Moe udah mulai kelelahan karena tas yang dia bawa berat dan gak sesuai sama ukuran badannya yang kecil. Lalu gw putuskan untuk tukeran tas sama Moe, karena ukuran tas gw lebih kecil. Lalu kami lanjutkan lagi menuju Pos 1 melewati jalan setapak di kebun teh.

Sampai di Pos 1 kami harus didata dulu untuk jaga-jaga seandainya kami tersesat, agar ada yang bisa bantu kami nantinya. Tidak ada tarif khusus di pos ini, jadi seikhlasnya saja kami memberi uang ke petugas pos jaga.

Perjalanan sesungguhnya dimulai dengan Fahmi sebagai Leader, sedangkan gw dan Bejong bergantian menjadi sweeper. Sebagai sebuah pengalaman pertama gw gak pengen banyak mengeluh, tapi apa daya medan mendaki yang gak basa-basi bikin gw kualahan, belum sampai kami di Pos 2 tapi gw udah stress, bahkan ketika otak gw masih optimispun ternyata kaki kiri gw udah gemetar hebat. Gw putuskan untuk minta berhenti sejenak untuk balikin kekuatan kaki. Fahmi, Hilman dan Bejong yang jam terbangnya udah banyak mengingatkan untuk jangan malu-malu untuk minta istirahat kalau memang sudah lelah.

Break

Tired

Sampai di Pos 2 kami istirahat untuk makan siang. Disinilah pertama kalinya gw mengenal alat-alat masak di dunia pendakian hahah..

Break

Break

Selesai makan kami langsung melanjutkan pendakian. Entah apa yang merasuki otak gw sampe bikin semangat banget. Gw naik duluan dan berada paling depan diantara temen-temen yang lain, tapi itu gak berlangsung lama karena akhirnya kesusul sama Hilman dan Bejong karena kaki kiri gw kembali gemetar. Bejong dan Hilman terus melaju karena mereka mau segera dapetin lapak buat bikin tenda.

Di Pos 3 gw istirahat sambil nunggu Jon, Fahmi dan Moe. Ada perasaan bersalah juga karena tadi sempet egois naik duluan. Gw lupa ada Moe yang pasti lebih lemah dibanding kami semua. Sekitar 10 menit gw tunggu mereka gak keliatan juga, akhirnya gw putuskan jalan sendiri lagi, mulai dari situ gw jalan bareng kelompok lain. Medan dari Pos 3 menuju ke Pos 4 adalah yang paling sulit karena suduh kemiringannya hampir rata 90 derajat. Butuh bantuan pegang batang dan akar pohon untuk nanjaknya. Bahkan gak jarang orang yang mau naik dibantu dari atas oleh yang sedang turun gunung.

Tiba di Pos 4 gw dan beberapa anggota dari kelompok lain istirahat sejenak, tanpa terasa gw malah ketiduran sekitar 5 menitan. Beruntung gw dibangunin sama orang yang sejak di Pos 3 selalu bareng gw, mungkin kalo gak dibangunin gw bisa tidur lama banget karna kecapean.

Baru sampe di Pos 5 gw udah disambut sama hujan rintik-rintik. Hampir semua pendaki mulai panik dan bergerak lebih cepat, gw pun jadi ikut demikian haha.. Maklum gw gak ngerti harus apa kalo ngadepin situasi pendakian kayak gitu, jadi apa yang gw liat adalah yang akan gw tiru haha

Sekitar jam 13.30 akhirnya gw tiba di Pos 6. Begitu masuk di Pos 6 gw celingak-celinguk nyari Bejong dan Hilman, karena gak ngeliat mereka gw putuskan teriak aja..”Jooooooooooonnngggg !!!!!!!”

Langsung disautin Bejong yang nongol dari dalem tenda “Woiii”

Si Bejong malah ketawa karna katanya gw teriak kayak bocah hahaha..

Rebahan sebentar dan mulai coba beresin tenda yang masih ala kadarnya itu..

Disinilah Bejong untuk pertama kalinya bilang bahwa berdasarkan pengalamannya, pendakian gunung ini adalah yang terberat yang pernah dia lalui, lebih berat daripada Semeru. Whattttt??

20 menit kemudian Fahmi, Jon dan Moe nyampe. Muka Moe udah pucet banget, gw langsung rangkul Moe dan bantu dia lepas ransel. Berhubung hujan makin deras Jon langsung ngeluarin tenda dan kami langsung rakit tenda itu, tapi ternyata Bejong dan Fahmi lupa susunannya. Beruntung ada kelompok lain yang tau dan datang membantu kami untuk merakit tenda itu. Setelah tenda selesai dirakit eh hujannya berhenti hahah..

Setelah tenda berdiri dan sudah dibersihkan, kami bergantian masuk tenda untuk berganti baju karena sudah kotor dan basah. Setelah merasa bersih persiapan memasakpun dilakukan. Ada hal baru lagi yang gw pelajari,kali ini dari Fahmi dan Hilman, yaitu cara membuat kompor darurat dari kaleng bekas dan spirtus. Kebetulan kami mau masak nasi dan lauk secepatnya, perut kami sudah lapaaarrr hahaha..

MasakCapek

Menarik karena makanan yang dibawa benar-benar sederhana tapi jadi terasa sangat enak karena dibuat di alam bebas🙂

This is it !

Selesai makan hujan turun lagi, Fahmi dan Hilman masuk ke tenda kecil, sedangkan gw, Jon, Bejong dan Moe di tenda besar. Kira-kira jam 19.00 kami awalnya ingin langsung tidur karena sudah lelah, tapi ternyata yang bisa tidur cuma Jon. Sedangkan kami bertiga masih asik ngobrol. Obrolan kami gak jauh-jauh dari masalah kehidupan sehari-hari kami di tempat kerja dan masalah jodoh hahah.. Malam itu Moe jadi subjek utama untuk curhat ini-itu, kami berdua berusaha mancing-mancing supaya Moe mau cerita ini-itu dengan leluasa hihihi..Entah jam berapa akhirnya kami mulai ngantuk dan tumbang satu per satu.

Seperti biasanya gw bangun di Jam 01.00, ya ini adalah alarm alamiah dari tubuh gw, lalu gw sayup-sayup denger Moe

“Ber.. gw kedinginan.. Ber gw kedinginan..”

Gw langsung lepas sleeping bag punya gw dan taro ke badannya Moe. Lalu ada kejadian kocak disini, karena dengan gerakan santai si Bejong langsung ambil sleeping bag itu dan ngelipetnya.. Setelah gw perhatikan sepertinya dia setengah sadar ngelakuin itu alias ngigo hahaha.. Tapi dia juga ngelepas jaketnya dan kasih ke Moe. Bingung kan sebenernya Bejong ini sadar atau nggak ?? hahah

Jam 03.30 gw bangun karena mulai kedengeran suara pendaki-pendaki lain yang mulai nyiapin diri untuk lanjutin perjalanan ke puncak. Gw saat itu gak langsung bangunin temen-temen karena sepertinya mereka masih lelah. Berhubung gw juga kedinginan jadi gw coba main teknik pernafasan untuk hangatin tubuh.

Sekitar jam 03.50 gw bangunin temen-temen supaya bisa siap-siap masak makanan biar punya tenaga untuk nanjak kepuncak. Kami makan dan minum sedikit aja pagi itu, lalu lanjut ke pendakian sekitar pukul 04.50

Dengan keadaan yang masih gelap itu kami berjalan menuju puncak. Perjalanan lanjutan ini lumayan ringan karena kami gak bawa ransel carrier. Tantangan terberatnya ya karena gelap jadi harus lebih hati-hati, meskipun gw bawa senter LED tetep aja harus jeli supaya kaki gak kesangkut di akar ataupun batu. Tiba di Pos 7, ternyata di sini tanah datarnya lumayan luas jadi lebih bagus seandainya kami pasang tenda di sini, tapi apalah daya kemarin kami sudah lelah ahahah

Kami sempat istirahat sekali sebelum sampai di puncak. Selesai istirahat matahari mulai muncul, senter mulai gw padamkan dan kami melajutkan perjalanan dengan lebih mudah.

Break

“Kiiiiiiiw.. kiiiwww….”

Begitulah cara pendaki meminta kode pada pendaki lainnya untuk tau apakah puncak sudah dekat atau masih jauh, jika mendapat balasan dari atas maka artinya puncak sudah dekat..

“Kiiiiiw.. Kiiiiww..”

Begitulah balasan yang kami terima, tak lama kami bisa mendengar banyak suara euforia pendaki lain yang asalnya dari puncak.

“Akhirnya….” Ucap gw saat itu..

Gw semangat banget naik ke puncaknya..

Perjalanan hampir 1 hari 1 malam akhirnya tuntas di tanggal 4 April 2015 jam 05.50 WIB

Puncaaaaakkkk

Puncaaaaakkkk

Matahari dari ufuk timur mengintip malu-malu

Awan putih berebut posisi memeluk gunung

Angin lembut mengalir di wajah-wajah pemuda

Terdengar sorak-sorai pendaki memuja Sang Khalik

Getar kaki mengiringi syukur kami pada-Nya

Tanpa berjanji dia memberi bukti bahwa dia indah

IMG_20150404_061447 IMG_20150404_061047 IMG_20150404_060108

Dipuncak ini kami bisa liat wajah-wajah bahagia yang mungkin beberapa jam lalu sudah sangat kacau balau menahan lelah. Kami semua membaur dalam bahagia, menjadi saksi bahwa alam ini bukan untuk ditaklukan, karena dia adalah kawan.

Setelah puas dengan indahnya matahari, awan,udara dan lekuk gunung kami berenam turun kembali menuju tenda kami di Pos 6. Perjalanan turun kali ini menghadapkan kami pada situasi kebalikan dari sebelumnya dimana kami harus selalu mengalah dan mendahulukan pendaki lain yang ingin naik. Kalau kata Bejong ini adalah cara kita menghargai pendaki yang sudah mengumpulkan momentum untuk mendaki, jangan sampai hentakan nafasnya putus karena terganggu orang yang sedang turun gunung.

Turun Gunung

Turun Gunung

Turun Gunung

Untuk terakhir kalinya kami memasak makanan untuk isi tenaga turun gunung. Gw pribadi mencoba untuk menikmati makanan ini dengan perasaan yang beda. Entah kapan lagi gw akan merasakan pengalaman ini, sepanjang hari ditemani suara alam yang jujur..

Makan terakhir

Makan terakhir

Masak terakhir

Masak terakhir

Sebelum berangkat menuju kaki bukit kami kumpulkan semua sampah milik kami dan membakar sampah milik orang lain yang ada disekitar tenda kami. Kata Hilman Ini adalah etika pendaki sejati.

Bawa sampah

Bawa sampah

Kami turun dengan kecepatan yang biasa-biasa saja, namun sayang karena dijalan antara Pos 3 dan Pos 2 hujan turun dengan derasnya, kamipun sempat beristirahat dan memasang tenda sambil menunggu hujan reda, tapi hampir setengah jam berlalu hujan tak kunjung reda. Kami putuskan tetap berjalan walau hujan masih turun rintik-rintik. Ujian kembali datang karena hujan deras kembali turun dan kali ini kami pasrah saja melanjutkan perjalanan.

Turun Gunung

Turun Gunung

Kami kesulitan menuruni gunung ini karena selain medannya yang terjal juga karena hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan cenderung membahayakan keselamatan. Di Pos 2 kaki kiri gw gemetar hebat dan mulai terasa sakit.

“Makin sulit.. makin sulit..”

Begitu kalimat yang gw ucapkan dalam hati.

“Jong, kita tukeran kaki kiri Yuk..” Ucap gw saat bercanda ke Bejong yang kaki kanannya udah cedera dari kemarin.

“Yaah.. rusak dua-duanya donk gw..” Kata Bejong menimpali candaan gw itu.

Hujan makin deras, kami masing-masing berusaha menambah kecepatan supaya segera sampai Pos 1, alhasil Fahmi, Hilman dan Jon menghilang dari pandangan kami. Sedangkan Bejong memperlambat langkahnya karena melihat gw yang juga masih fokus bantu Moe yang udah sangat lelah. Lalu Bejong ambil sampah yang gw bawa dari sejak awal kita turun, supaya gw bisa bantu Moe lebih mudah. Tapi apalah daya, Moe udah sangat lemah, sesekali dia mengeluh kakinya sudah sangat capek. Mendengar itu Bejong kembali mempersulit dirinya dengan membawakan ransel yang dibawa Moe. Sekarang Bejong bawa 2 ransel. 1 carrier besar di belakang dan 1 ransel sedang didepan. Sedangkan gw kembali membawa kantong sampah sambil terus menjaga Moe.

Sesekali Moe minta istirahat, hal inilah yang membuat kami berdua akhirnya terpisah dari Bejong. Gw bahkan gak tau sekarang Bejong ada di depan kami atau belakang kami. Gw fokuskan untuk terus bantu Moe supaya dia tetap bisa jaga irama langkahnya walau sudah sangat lambat. Beberapa kali moe jatuh terpeleset karena kakinya gak berpijak di tempat yang bener.

Sejak di Pos 2 kaki kanan dan kaki kiri gw udah sangat sakit dibagian belakang lutut, serasa uratnya mau putus. Tapi itu semua gw abaikan ketika gw harus bantu Moe. Benar kata orang, bahwa kita akan menjadi lebih bersyukur ketika kita sadar ada orang yang kondisinya lebih parah dibanding diri kita. Gw terus melangkah menuruni gunung sambil menginjak tanah untuk membuat jalur buat Moe supaya dia bisa melangkah lebih mudah. Beberapa kali gw jatuh terpeleset saat mencoba mebuat jalur pijak untuk Moe. Gw abaikan celana, baju dan sepatu yang udah gak jelas bentuknya itu. Yang ada di otak gw adalah gimana caranya supaya kami bisa tiba di Pos 1 dengan selamat.

Nafas ini makin sesak saat gw jatuh terpeleset, kali ini bukan karena licin melainkan karena mata gw gak fokus ngeliat jalan. Gw berdiri secepatnya supaya jaga semangat gw dan Moe, karena pasti dia bakal stres kalo gw gak bangkit segera. Dia aja udah lemah dengan langkahnya, apalagi kalo harus ikut mikirin langkah gw.

Akhirnya kami bisa ngeliat Pos 1 dari kejauhan, medan yang kami tempuhpun makin sulit karena jalurnya murni dari tanah lempun yang licin lebih parah daripada medan sebelumnya, Puji Tuhan kami bisa sampai Pos 1 dan bertemu denga teman-teman lainnya. Gw sempat kaget karena ternyata Bejong gak ada, padahal gw pikir dia udah mendahuli kami berdua. Sempat bingung karena perasaan kami berdua udah sering berhenti. Jangan-jangan cedera Bejong makin parah.. Mau nyamperin tapi kaki kanan dan kiri gw udah mau remuk rasanya, gw cuma bisa berharap-harap cemas saat itu. Kami memilih berpositif thinking bahwa Bejong baik-baik saja. Fahmi langsung melaporkan ke petugas Pos jaga bahwa kami berenam sudah turun dengan selamat.

Sekitar 5 – 10 menit kemudian akhirnya Bejong dateng dengan kondisi yang kayaknya lebih parah dari gw, tapi syukur alhamdulillah dia udah tiba dengan selamat.

Kami lanjutkan perjanalan kami menuruni bukit menuju stasiun pemancar untuk naik mobil charter menuju terminal Guntur. Disinilah puncak rasa sakit kaki kanan gw terasa, bahkan untuk menuruni jalan setapak sesekali gw memilih untuk ngesot aja dibanding harus menapaki, karena sakitnya udah parah banget.

Setelah setengah jam lebih kami menunggu, akhir mobil bak yang akan membantu kami menuju terminal datang. Berhubung saat itu masih hujan, jadi kami diberikan terpal yang membuat kami semua yang menaiki mobil bak itu serasa mirip seperti sayuran yang baru saja dipanen. hahaha..

Ya begitulah pengalaman pertama gw naik gunung, apapun itu gw sangat bersyukur.

Terima kasih Tuhan sudah memberikan pengalaman yang berharga lewat kejadian dan kemungkinan terburuk yang terjadi, mulai dari mendaki medan dengan kemiringan 90 derajat, hujan saat pendakian dan turun gunung dan yang terakhir yang paling sulit adalah saat harus pura-pura kuat padahal udah sakit banget. Terima kasih Tuhan.. Terima Kasih..🙂

IMG_20150404_063520 IMG_20150404_064810 IMG_20150404_065254 IMG_20150404_065722 IMG_20150404_080100 IMG-20150405-WA0113 IMG-20150405-WA0133 IMG-20150405-WA0137 Turun Gunung

Sadar

Jam 01.00 pagi ini gw terbangun, sejak awal mau tidur memang gw udah mulai resah sama apa yang lagi gw pikirin. Gw merasa ada yang ganjil dari hidup gw. Gw punya impian untuk kembali ke kampung halaman dan berkarya disana, tapi belakangan ini gw malah menikmati berada di kota ini, dan di saat bersamaan gw terlupa sama impian besar itu. Gw butuh ditampar untuk sadar bahwa gw harus terusin mindset gw yang dulu, yang  selalu tertuju kesana.

Kemarin malem gw sempet chatting singkat sama temen gw, namanya Adli, untuk bikin janji ketemu buat sekedar sharing. Rencananya ada Muhammad Kharisma (Mamat) juga disana. Mereka berdua adalah dua teman lama gw sejak SMA, sekarang mereka sedang dalam progres tinggi dalam bisnisnya masing-masing. Adli tahun 2014 kemarin berhasil punya omset 2 miliar, sedangkan si Mamat udah sering dipercaya untuk jadi nara sumber dalam seminar ataupun workshop bisnis, yang artinya dia sudah sukses. Mudah-mudahan dengan ngobrol bareng mereka gw bisa dapet pencerahan baru dan bisa nemuin lagi semangat-semangat yang dulu sudah gw bangun.

Udah ah mau lanjutin tidur haha

Sahabat dan Profesionalisme :)

Udah hampir 3 minggu berlalu sejak gw resmi menjadi salah satu personil Handling Agent buat perusahaan tempat gw kerja. Kalau ditempat sebelumnya fisik gw lumayan terkuras karena sering kurang tidur, disini justru pikiran gw yang lebih sering terkuras. Setiap saat mikirin bagaimana kalau begini bagaimana kalau begitu.

Beruntung gw punya banyak orang-orang dekat yang selalu support gw kapan aja. Mereka adalah tempat gw bercerita tentang hari-hari gw yang kadang gak semulus yang keliatan di media sosial. hehehe..

Tanggal 23 Februari 2015, secara resmi gw diangkat sebagai karyawan tetap ditempat ini. Gw sangat bersyukur karena gw gak harus pusing lagi mikirin nasib gw di tempat ini. Sebenernya managerpun tau bahwa gw gak akan berlama-lama di perusahaan ini, tapi beliau tetap memutuskan untuk merekomendasikan gw untuk diangkat.

Dibalik pengangkatan itu sebenarnya ada tugas berat yang akan gw pikul. Beberapa hari setelah belajar dari Bang Dedy tentang Handling Agent, gw dikasih tau bahwa gw akan bertanggung jawab untuk menggantikan posisi dia. Jujur gw kaget banget karena ini adalah pengalaman pertama gw kerja di korporasi, bahkan belum ada 6 bulan gw join disini. Sejak pertama join memang orang-orang disini sangat mempercayai gw, terutama Pak Candra. Dia adalah yang orang yang cuma butuh waktu 5 hari untuk menerima gw kerja disini.

Sebenernya gw gak mau ngasih tau ke siapapun selain keluarga gw, tapi apalah gw tanpa doa restu mereka. Mereka yang selalu jadi tempat gw berbagi bahagia dan keluh kesah. Ternyata benar, setelah ngasih kabar, mereka langsung ngajakin ngadain kumpul-kumpul semacam acara perpisahan karena ada kemungkinan gw akan lama gak ketemu mereka. Bagi orang lain mungkin ini terasa lebay, tapi bagi mereka ya ini adalah hal wajar.

Walau kami ini udah jarang ketemu, tapi karena jarak kami masih gak terlalu jauh jadi kami merasa aman-aman aja. Masih berpikir gampang kalo mau ketemuan. Tapi semua berubah ketika sadar bahwa kami akan terpisah oleh jarak untuk waktu yang lama.

Lucu ya padahal kami itu palingan bisa kumpul 2 bulan sekali, itupun gak pernah lengkap orangnya. Kesibukan kami masing-masing bikin kami susah buat nyamain jadwal. Ada yang udah jadi dosen, ada yang jadi konsultan, ada yang jadi admin, ada yang jadi tester, ada yang jadi teraspis, ah banyak deh pokoknya. Untungnya sekarang udah ada whatsapp. Kita masih bisa ngalor-ngidul via grup whatsapp.

Sekarang emang udah waktunya kami untuk sadar bahwa kami udah bukan lagi anak-anak yang bisa santai, kami sedang bergerak untuk menjadi profesional di dunia baru kami masing-masing. Setelah ini pelan tapi pasti kami akan menikah lalu kami akan fokus pada keluarga masing-masing. Entahlah apa kami masih akan bisa menjalin persahabatan seperti ini lagi dikemudian hari..

Kita liat aja nanti..

Departemen Baru – Tanggung Jawab Baru

Hari ini gw mau sedikit cerita tentang kerjaan gw..

Jadi gini ceritanya, pertanggal 7 Februari kemarin gw resmi pindah departemen. Dari yang tadinya di departemen servis, sekarang pindah ke departemen operasional. Ternyata surat ini sudah dibuat sejak tanggal 1 Februari, tapi berhubung tanggal 5 dan 6 Februari kemarin gw masih dinas di luar kota untuk tugas di departemen servis, maka gw baru terima surat itu tanggal 7 Februari. Ya namanya juga MT, harus siap kapanpun dipindah-tugaskan hehe..

Ada perasaan seneng dan juga ada perasaan khawatir. Seneng karena ketika pindah departemen artinya gw dianggap berhasil di departemen sebelumnya. Sedangkan kekhawatiran gw adalah masalah tanggung jawab yang akan gw pegang nantinya. Baru beberapa hari setelah mulai bekerja disini gw udah dihadapkan pada tugas administrasi yang berhubungan langsung ke Pertamina. Di departemen yang baru ini gw mnjabat sebagai Handling Agent Officer, lebih spesifiknya gw mengemban tugas administrasi maupun operasional untuk bisnis unit ONWJ, KJI dan Lyman. Artinya gw akan memonitor handling agent wiayah Jakarta dan Kalimantan. Mudah-mudahan gw bisa segera paham sama semua jobdesc-nya.

Di departemen ini gw akan dibimbing oleh Mbak Wulan untuk urusan administrasi dan Bang Dedy Zulkarnain untuk urusan operasional. Lalu gw juga akan dibimbing oleh Pak Bambang dan Pak Candra untuk penentuan ataupun pengabilan kebijakan.

Gw sangat bersyukur karena mentor-mentor gw tersebut orangnya baik dan humoris jadi untuk nerima ilmunyapun asik🙂

Sejuah ini gw sudah langsung praktek mengerjakan urusan administrasi ke Pertamina, dan udah belajar teori tentang alur bisnis unit ini. Bang Dedy Z menerangkan dengan baik, apalagi dengan contoh kasus yang real, jadi gw bisa langsung memahami isi materinya.

Meskipun sudah di departemen baru 2 minggu, kadang gw masih pengen ngerjain projek aset yang dulu gw handle sendiri di departemen servis. Gw senang selama berada disana karena Manager gw sangat memberikan keleluasaan ke gw untuk berkreasi dalam mengerjakan projek itu. Sebenernya gw udah memikirkan apa yang akan gw lakukan untuk projek itu, tapi belum sempat terlaksana. Yaudahlah gak apa-apa, udah waktunya untuk konsentrasi di tempat yang baru.

Dea God, Thanks for everything🙂

Bersyukur Bahagia Sukses

Kemarin diskusi sama temen lama via telepon. Rupanya dia sekarang sudah punya tabungan 9 digit dari hasil kerja kerasnya, tapi dengan jujur dia mengaku bahwa dia merasa gak lebih bahagia dari gw.

Dari pengakuannya dia tidak korupsi ataupun melakukan kecurangan lainnya, dan memang demikianlah dia yang selama ini gw kenal, selain baik dia juga taat.

Karena penasaran sama ucapan dia yang bilang gw lebih bahagia dibanding dia, gw pun bertanya, “Emang menurut lu apa yang bikin gw terlihat lebih bahagia dibanding lu ?”

Lalu dia jawab, “Lu itu hidupnya kayak gak punya target, jadi gak dikejar-kejar waktu.”

Mendengar ucapan itu gw langsung sanggah, “Eitss salah, gw juga punya target, bahkan mungkin lebih tinggi dibanding target lu sekarang.”

Lalu dia lanjut bertanya, “Maksudnya lebih tinggi gimana ? Kok lu gak keliatan kayak dikejar-kejar ? Malahan masih sempet-sempetnya aktif di sosial media.. haha..” ucap dia dengan tawanya yang keras..

Dengan cukup tenang gw menjawab dia yang kecepatan nafasnya mulai cepat.

“Sebenernya kita sama aja, sama-sama sedang menuju sukses, bedanya gw sedang membangun fondasi yang luas sedangkan lu sedang membangun menara yang lebih tinggi.”

“Mungkin hal yang paling keliatan beda adalah strategi sukses kita, gw berpikir politis sedangkan lu berpikir pragmatis. Gw berusaha merangkul semua kalangan, sedangkan lu memperkokoh posisi dengan hanya bergaul dengan kalangan bisnis saja dengan harapan lu bisa saling sharing ilmu dan saling berbagi bisnis.” lalu dia membenarkan ucapan gw itu.

“Terus, apa yang gw lakukan salah ?” tanya dia lagi.

“Oh tentu nggak, tapi mungkin hal itulah yang membuat lu merasa seperti dikejar-kejar. Karena orang pada level tertentu punya kultur tertentu juga. Dengan cara gw bergaul dengan semua level maka gw punya toleransi yang rentangnya lebih luas, jadi ketika gw capek ada kalangan yang bisa memaklumi gw, sedangkan ketika gw semangat ada kalangan yang bisa mendorong gw lebih tinggi lagi sambil menjaga gw dari bawah. Sedangkan lu, semua rekan lu adalah orang yang ada di level yang tinggi, jadi mereka semua sedang mengangkat lu dari atas. Ketika lu gak cukup kuat menahan tarikan mereka dari atas lalu lu jatuh, mereka akan sulit untuk membantu narik lu ke atas lagi, bukan gak bisa, tapi sulit”

“Karena menghadapi situasi dan konsekuensi itulah lu akan berusaha untuk menggenggam tarikan mereka sekuat tenaga, makanya sekarang lu merasa dikejar-kejar. Iya sih, kita akan bekerja lebih baik, lebih maksimal dan lebih powerfull saat kita dalam keadaan terdesak, tapi apa iya lu mau berada dalam posisi terdesak terus-menerus ?, kalo iya wajarlah kalo lu selalu kelelahan, selalu tidak bahagia.”

“Lu munafik, Ben, kalo bilang uang gak bisa bikin lu bahagia. Hehehe..” katanya..

“Justru lu yang munafik, kalo bilang lu bahagia dengan uang. Karena sebenernya bahagia itu adalah ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita punya dan orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Bahagia itu bakal berlipat ganda rasanya ketika orang lain ikut bahagia melihat apa yang kita raih. Gw bisa berbagi bahagia dengan uang Rp. 10.000 ketika gw pake duit itu untuk beliin coklat kesukaan keponakan gw. Tapi di sisi lain apakah partner bisnis lu itu akan suka ketika lu beli sesuatu seharga Rp. 10. 000 ? bahkan mungkin lu aja minder pas beliinnya, kan ?”

Lalu dengan nada rendah dia bilang, “Iya sih..”

Lalu obrolan kami berlanjut cukup lama dengan dia yang sudah bisa memandang dari perspektif lain yang gw punya. Diapun kembali bersemangat dan berjanji akan mencoba untuk menemukan definisi bahagianya supaya tidak terus-menerus merasa tertekan. Diapun dengan ramah menutup obrolan kami saat itu,“Thanks Ben untuk sharing hari ini, lain kali kita harus ngobrol lagi..”

Jadi ya begitulah gak ada yang salah dengan impian menjadi sukses, tinggal bagaimana kita menyikapi cara dan konsekuensi yang akan kita hadapi di depan, dan yang perlu diingat adalah kita harus mengenal diri kita terlebih dahulu, tau batasan kemampuan diri kita jadi gak akan ada yang namanya jatuh terperosok sangat dalam lalu sulit untuk bangkit.

Hal terakhir dan yang utama harus disadari adalah bahwa orang hanya akan sukses ketika dia bahagia, bukan sebaliknya. Karena hanya dengan pikiran yang damai (bahagia) kita bisa bekerja dengan maksimal, menularkan energi positif kepada orang sekitar dan mendapatkan dukungan tulus dari orang lain.

Bersyukur → Bahagia → Sukses

Kau dengan kelompokmu - Aku dengan mereka semua

Kau dengan kelompokmu – Aku dengan mereka semua

5 Bulan meninggalkan – 5 bulan bersama

waiting room keren :)

iLab Team

pei

Hari ini tepat 5 bulan lalu gw meninggalkan iLab. Tempat yang memberikan begitu banyak kenangan indah.

Disini ketemu temen-temen yang pinter dan kocak

Disini ketemu mahasiswa yang menyebalkan sekaligus menyenangkan

Disini gw bisa sangat disegani

Disini gw bisa sangat dihormati

Disin gw bisa sangat dihargai

Disini gw bisa sangat dicintai

Yang paling utama adalah disini gw bisa jadi diri sendiri

Bukannya gak bisa “move on”, tapi memang apa yang ada di iLab selalu membawa kenangan manis. Beberapa mahasiswa yang punya nomor hp gw masih sering menghubungi dan kadang bilang pengen gw balik lagi kesana, setidaknya datang sesekali untuk ngeliatin mereka praktikum. Mereka cuma mau ngerasa aman aja saat praktikum, dalam artian gak canggung kalo mau nanya materi praktikum. Sebenernya hal itu juga kadang terlintas dipikiran gw, tapi apa daya situasinya sudah berubah.😦

Sekarang gw bertugas di Post Energy Indonesia sebagai orang yang boleh dibilang “ban serep” atau bahasa kerennya “Super Sub”. Kenapa gw bilang begitu ? Karena apa yang gw kerjakan lebih banyak sebagai back-up disaat rekan lain tidak bisa mengerjakannya, jadi memang boleh dibilang kerjaan gw campur aduk. Tapi secara khusus gw adalah pemain tunggal yang ditunjuk manajemen untuk project asset perusahaan. Sedih karena gw kehilangan banyak waktu untuk melakukan hal lain di luar kerjaan kantor, bahkan gw sudah tidak pernah latihan bridge lagi. Jalan-jalan ke luar kota sama temen udah nggak pernah, bahkan ngumpul aja belom tentu sebulan sekali bisa.

Tapi dibalik kesedihan itu banyak hal yang sangat gw syukuri sejak masuk di perusahaan ini.

Bisa dikenal sama semua karyawan, bahkan Presiden Direkturpun kenal

Bisa dapet ilmu dari rekan-rekan di bidangnya masing-masing yang jauh dari kemampuan dasar gw

Bisa dapet fasilitas kantor yang sangat baik

Dan yang paling utama adalah gw sering dimintai tolong untuk mengerjakan ini dan itu ketika rekan lain kebingungan, ini artinya gw dipercaya mereka. Hal inilah yang bikin gw bertahan, perasaan memiliki peran.

Setiap orang punya fungsi tapi gak semua orang punya peran. Fungsi tiap orang bisa digantikan, tetapi peran tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun. Contohnya seorang Ayah. Fungsi Ayah adalah menafkahi dan melindungi keluarga, dan hal ini bisa digantikan oleh siapa saja. Lain halnya dengan peran Ayah sebagai simbol keluarga yang menjadikannya panutan dalam keluarga. Maka ketika sosok Ayah itu pergi maka tidak akan ada yang  bisa menggantikan perannya.

Sama seperti yang sudah-sudah, gw akan melakukan yang terbaik yang gw bisa dimanapun dan kapanpun.

Warm Regard

Usber Manurung

Aku lelah mungkin Aku Bahagia

Aku lelah..
Sekarang sudah jam 22.55 WIB tetapi aku belum memejamkan mata. Harus aku akui menjadi pegawai bukanlah hal mudah, apalagi jika job desc yang diterima berbeda dengan disiplin ilmu yang dipelajari selama ini.

Aku lelah..
Entah sudah berapa banyak tombol di keyboard dan mouse yang aku pencet untuk pekerjaan yang aku coba selesaikan ini.

Aku lelah..
Setiap mata ini harus terfokus pada layar untuk memastikan aku tidak menuliskan informasi yang salah, mata ini makin lelah.

Aku lelah..
Ketika orang lain mengira aku hanya duduk di depan laptop seolah bercumbu dengannya.

Aku lelah..
Ketika aku melihat orang lain bisa bepergian kesana kemari, aku iri. Aku makin lelah karenanya.

Aku lelah..
Ketika aku habiskan waktu hanya untuk menunjukan kepada atasanku bahwa aku bisa.

Aku lelah..
Ketika orang lain melihatku melakukan ini itu tapi mereka hanya tau aku bisa. Pernahkah mereka tau bahwa aku lelah ?

Aku lelah..
Ketika aku berlindung dengan segala senyum dan candaku. Hanya sekedar memastikan bahwa mereka aman bersamaku.

Mungkin Aku masih bisa bahagia..
Saat mereka tidak tau aku ada untuk mereka.

Mungkin Aku masih bisa bahagia..
Saat mereka tidak mengasihaniku.

Mungkin Aku masih bisa bahagia..
Saat mereka tertawa karena senyum palsuku.

Mungkin Aku masih bahagia..
Saat mereka bisa melalui hari setelah bersamaku yang kelelahan.

Mungkin aku masih bisa bahagia..
Saat uangku masih cukup untuk membeli kebahagiaan kecil untuk mereka.

Aku bahagia..
Karena aku hanya ada satu.

Aku bahagia..
Karena ada senyum manis yang selalu mengintipku di meja kerja dibalik laptopku.

Aku bahagia..
Karena handphoneku masih berdering, memanggilku untuk sekedar menjawab sapamu.

Aku bahagia..
Karena ada seseorang yang menjadi alasanku untuk tetap berdiri tegak, mengangkat kepala dan membusungkan dada dikala virus lelah itu merayu dengan sadisnya.

Pada akhirnya aku tau, aku bahagia dengan diriku yang seperti ini.