I am Manurung from Sirungkungon

Nama saya Usber Fransiskus Manurung, saya seorang mahasiswa jurusan Psikologi di Universitas Gunadarma. Saya bangga memiliki nama Manurung sebagai marga saya, Bapaku selalu berkata marga adalah identitas dalam suku Batak, bahkan orang lain akan lebih memilih mengingat marga daripada nama pemberian (nama asli dan atau nama baptis). Semasa kecil aku tidak terlalu perduli dengan margaku ini, namun suatu ketika aku bertemu dengan seorang ibu disebuah angkutan umum, dia bertanya asal kelahiranku, sebelumnya kami saling mengeluh mengenai macetnya Jakarta. Dia begitu terkejut begitu tahu aku orang Batak, karena logat bicaraku lebih mirip orang Betawi, dan dia makin terkejut saat dia tahu aku bermarga Manurung. Aku heran mengapa dia begitu terkejut, kemudian dia berkata bahwa suaminya juga memiliki marga Manurung. Kemudian aku ditanyai kembali silsilah ”Ke-Manurungan-ku”, aku sempat bingung harus menjawab apa, tapi seingatku Bapa pernah berkata bahwa jika ada yang bertanya mengenai hal ini maka aku harus menjawab, ”aku Manurung Simanoroni dari Sirungkungon”. Jadilah aku berkata demikian pada Ibu ini. Dalam sekejap Ibu ini berkata, ”oh berarti kau panggil aku Inanguda”. Menurut penjelasan beliau suaminya masih terhitung adik dari Bapaku, maka sejak hari itu kami menjadi Ibu dan Anak. Membingunkan bukan ?? ya memang begitulah adat Batak, orang yang memiliki marga sama maka dianggap bersaudara kandung dan anak si A adalah anak bagi kakak atau adik si A. Kami menyebut aturan ini dengan sebutan Tarombo. Belum sempat aku bertanya hal – hal lain kami harus berpisah karena aku harus trasnsit di Pasar Bintaro untuk naik angkutan selanjutnya kearah kampusku, bahkan aku lupa bertanya nama Inangudaku ini.
Sejak hari itu aku makin ingin tahu sisi ”ke-batakan-ku” terutama mengenai Manurung. Aku memang benar – benar buta mengenai silsilah dan adat Batak, bahkan Bapaku sempat berkata bahwa dia sedih karena aku lebih suka belajar bahasa inggris daripada bahasa Batak, tapi berkat pemjelasan mamaku akhirnya bapa memaklumi, walau Bapa tetap menyuruhku belajar belajar bahasa batak. Maka diliburan semester genap kemarin aku memutuskan untuk pulang kampung setelah terakhir aku pulang kampung 10 tahun lalu, itu pun karena opung doli-ku (kakek) meninggal dunia dan ketika itu aku masih anak – anak yang hanya suka bermain.
Tanggal 11 Agustus 2010 pukul 11.20 wib kupijakan kakiku di kota Medan, masih 4 jam lagi untuk sampai dirumah orang tuaku di Huta Bayu Raja, Tanah Jawa – Kabupaten Simalungun. Aku pun mulai sadar bahwa aku sudah harus menyesuaikan program bahasa diotakku. Di terminal mini bus Bayu Trans aku menunggu angkutan jurusan kerumah orang tuaku di Huta Bayu Raja. Ku mulai tengok kanan dan kiri berharap ada yang melihatku yang sedang kebingungan. Ternyata disinilah aku mulai harus berkomunikasi dalam bahasa Batak. Sesungguhnya aku sedikit mengerti maksud dari ucapan orang – orang dalam bahasa Batak namun setiap kali aku menjawab atau menanggapi mereka aku selalu menggunakan bahasa Indonesia baku, sehingga orang – orang di terminal itu mengira aku adalah turis domestik, oleh karenanya aku justru agak diacuhkan, mungkin karena mereka pikir aku tak akan mengerti ucapan mereka. Disinilah aku mulai merasa ”tuli” karena aku hampir tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan mirip ketika aku pergi ke China beberapa tahun lalu. Sempat aku bingung melihat seorang pemuda tertawa pada temannya setelah sebelumnya dia bertanya dimana rumahku. Tapi berhubung aku tidak tahu apa yang dia tertawakan jadilah aku tidak boleh tersinggung.
Sampai dirumah orang tuaku-pun mama memperkenalkanku pada tetangga dalam bahasa Batak, aku benar – benar pusing saat harus menjawab pertanyaan mereka semua. Namun lama – kelamaan kami justru bisa saling memahami kondisi ini. kami mensiasatinya dengan cara aku tetap berbahasa Indonesia dan mereka berbahasa Batak, tapi komunikasi kami tetap berjalan. Mamaku yang melihatku mengobrol dengan para tetangga malah tertawa kecil, begitupun Bapa yang hanya bisa tersenyum.
Beberapa hari kemudian aku mulai berani menggunakan bahasa batak, walaupun lebih sering kucampur dengan bahasa Indonesia. Aku sering tertawa sendiri setelah terlontar ucapan dari mulutku sendiri saking seringnya salah ucap pelafalan. Opung boru- ku (nenek) dari Bapa hampir sama sekali tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia, jadi tiap kali kami berbincang selalu saja butuh bantuan Inanguda-ku yang kebetulan serumah dengan opung. Tugas Inanguda adalah sebagai translater. Kalau ku ingat – ingat lagi rasanya lucu sekali.
Dihari ketujuh pada malam harinya aku meminta mama untuk menceritakan tentang tanah asal dari keluarga kami. Dulu saat aku masih duduk dibangku SMP, Bapa pernah bercerita bahwa keluarga besar Manurung memiliki sebuah kampung bernama Sirungkungon, Bapa bilang tanahnya luas dan biasa ditanami bawang, dan rasa penasaran akan tanah leluhur inilah yang juga menjadi motivasiku untuk pulang kampung. Malam itu aku banyak bertanya mengenai asal – usul Sirungkungon. Mama mengatakan bahwa disinilah sebenarnya Tanah asli keluarga Manurung selain di Sibisa. 4 Manurung bersaudara adalah pelopornya yaitu, Oppu Marhula, Oppu Jaronjang, Oppu Bona Uluan dan Oppu Tanda Raja. Dari keempat bersaudara ini keluarga kami berasal dari keturunan Oppu Bona Uluan. Jadi bisa disimpulkan bahwa kami memang keturunan asli tanah Sirungkungon, dan mama menambahkan bahwa keluarga kami cukup dihormati jika datang kesana karena alasan tadi. Maka tanpa berlama – lama aku meminta agar kami segera kesana untuk melihat tanah Sirungkungon.
Tanggal 21 Agustus 2010 aku tiba Aji Bata, dari sinilah aku memulai penyebrangan menuju Sirungkungon. Pemandangan menabjubkan Danau Toba membuatku sangat nyaman, jernihnya air yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi kini sudah kurasakan. Bahkan aku bisa melihat ikan nila dan ikan mujair yang sedang mengambil nafas atau sedang mengumpat dibalik alga. Tak disangka semua orang didalam kapal motor diesel itu sepertinya mengenal Mama, kalaupun tidak mengenal wajah Mama mereka akan langsung tahu jika Mama menyebut identitasnya “Oma Runggu”, itu adalah sebutan bahwa dia adalah Ibu dari anak tertuanya yang bernama Runggu. Memang sudah menjadi budaya orang Batak untuk menyebut dirinya dengan sebutan seperti itu. Namun bila seseorang sudah memiliki cucu maka sebutan orang itupun akan berubah. Misalnya ia sudah memiliki cucu yang bernama Raissa maka sebutannya akan menjadi “Op. Raissa” (baca ; oppu Raissa).
Mama juga tak hentinya memperkenalkanku pada semua saudara – saudaraku dikapal ini, selama perjalanan mama yang duduk dikabin bawah tak hentinya tertawa dan berbagi cerita pada sahabat lamanya. Aku memilih duduk diatas agar bisa mengambil banyak gambar dan merasakan angin sepoi –sepoi yang justru membuatku masuk angin. Aku tidak sendiri diatas sana, ada Bapa Tua (abang dari Bapa-ku berdasarkan silsilah kesamaan marga) yang juga lebih suka duduk diatas. Kebetulan sekali beliau juga lama di Jakarta jadi kami bisa ngobrol banyak hal dengan lebih mudah, bahkan dihampir tahu semua jalan protokol di Jakarta. Dalam perjalanan yang menepuh waktu 1 jam dan 15 menit itu Bapa Tua banyak menceritakan kondisi Tanah Sirungkungon yang kini sudah dihuni lebih dari 100 kepala keluarga. Beliau merasa senang karena sekarang sudah ada perusahaan dari pengusaha Swiss yang berdiri di Danau Toba yang dikelola langsung oleh warga Sirungkungon, hal ini pula yang membuat para pendatang betah karena sudah ada pekerjaan yang menjanjikan. Beberapa waktu silam banyak orang yang memutuskan keluar dari Tanah Sirungkungon karena harus mencari penghasilan lebih untuk kebutuhan hidup dan sekolah anak –anaknya.
Saat aku sedang mengambil gambar yang cukup bagus sudutnya Bapa Tua langsung menjelaskan nama daerah yang kuambil gambarnya itu, ”Nah kalo yang itu namanya dusun Sigapiton” , kata Bapa Tua. Tak heran namanya Sigapiton, karena bentuk dusun memang memang seperti diapit 2 gunung besar. Lalu beberapa saat kemudian Bapa Tua menunjuk sedikit kearah kanan, ”Nah inilah Sirungkungon”. Begitu mendengar itu akupun langsung mengambil gambar. Kemudian kapalpun menuju lokasi Kerambah milik perusahaan Swiss untuk laporan, karena disinilah pos satpam Sirungkungon dioperasikan. Tak lama kemudian kapalpun melanjutkan perjalanannya, saat itu aku pikir kami akan segera sampai, tapi ternyata aku salah. Kata Bapa Tua perjalanan masih agak jauh, akupun bertanya padanya, ”loh tadi kan Bapa Tua bilang kita sudah lewat Sirungkungon kok ga nyampe – nyampe ?”. kemudian Bapa Tua berkata, ”dermaganya dibalik sana.” sambil menujuk kearah yang jauh. Akupun kaget saat tahu bahwa Tanah Sirungkungon lebih luas dari dugaanku, dalam imajinasiku luas Tanah Sirungkungon hanya berkisar 10 sampai 20 hektar, namun melihat fakta yang ada sepertinya luasnya lebih dari 20 hektar. Bahkan belakangan ini Bapa mengatakan bahwa luas Tanah datar yang terletak diatas bukit adalah 250 hektar, sayangnya aku tak diizinkan Mama untuk naik keatas karena butuh waktu lebih dari 4 jam untuk sampai diatas, kemudian Namboru (bibi) juga mengatakan hal yang senada, ”kalau kau mau naik mungkin semangat, tapi nanti turunnya kakimu sudah bergetar kami khawatir kamu kecelakaan, kecuali kau mau tinggal disini 1 minggu, biar tidur diatas sana dulu, jadi pas turun masih kuat kakimu.”. mendengar ucapan Namboru yang memang adalah petani kopi di atas bukit itu akupun terpaksa menunda kesempatan itu.
Begitu kapal mulai berbelok kearah kiri akupun mulai bisa melihat dermaga dan pemukiman, dan disaat inilah tubuhku aku mulai gemetar melihat betapa besarnya Tanah Sirungkungon, dan kilauan pantulan sinar matahari dari Danau Tobapun seolah menyambutku. Sesaat sebelum aku turun dari kapal itu, setidaknya ada 3 orang saudara kami yang mengajak agar kami singgah dirumahnya, mereka menginginkan kami untuk makan siang dan tidur dirumah mereka. Sebuah hal yang wajar menurut Mama karena mereka semua adalah keluarga dekat dan juga sudah lama mereka tidak bertemu. Tapi Mama justru memilih untuk kerumah Namboru – ku yang lain, alasannya Namboru dirumahnya sendirian dan dia sudah tua. Kamipun mengetuk pintu rumahnya, Namboru langsung kegirangan saat tahu kami yang datang. Merekapun saling bertukar cerita hingga suasana seperti arisan Ibu – ibu. Sejam kemudian aku dan Mama berkeliling kampung untuk menemui sanak saudara. Akupun diperkenalkan kepada mereka dengan semangat luar biasa oleh Mama. Aku yang bukan orang yang lahir di Tanah itu merasa sangat dihormati, layaknya orang yang baru pulang dari pertandingan. Mereka berkata padaku bahwa mereka mengenal Mama sebagai sosok yang sabar dan bersahabat, salah satu dari mereka bahkan berujar, ”Mamamu ini ga pernah nagih uang jahit walaupun telat bayar 1 bulan”. Aku langsung tersenyum lebar melihat cara mereka bercerita yang penuh semangat.
Hari mulai gelap, namun aku tak bisa mengambil gambar sunset dikarenakan posisi matahari tertutup bukit. Dinginnya udara dipesisir Toba-pun mulai menyerangku bertubi – tubi, aku pun memutuskan masuk rumah kembali menemui Mama dan kerabatnya yang sudah berkumpul untuk bertukar cerita. Dinginnya udara seperti tida lagi terasa karena kehangatan canda tawa kami semua. Obrolanpun berakhir sekitar pukul 23.30, itupun karena usulan Amangboru (paman) , beliau khawatir kami kelelahan dan ketinggalan kapal.
Minggu pagi menyambut akupun sudah bersiap untuk pulang, namun Mama lagi – lagi ingin bertemu saudar – saudara yang belum sempat dikunjungi kemarin. Namun keputusan Mama tersebut justru membuat kami ”ditahan” untuk tidak pulang hari itu. Tiap saudara yang kami kunjungi tidak ingin melepas kami untuk pulang hari itu, akhirnya kamipun memutuskan untuk menginap semalam lagi. Aku pun tak menyia – nyiakannya. Aku mulai menjalankan aktivitas autis-ku. Aku memfoto sana – sini karena memang pemandangannya luar biasa indah dari berbagai sudut. Ada hal yang sangat berkesan hari itu, aku mencoba mencelupkan kakiku didanau jernih itu, lalu ikan – ikan kecil dan udang perlahan menghampiri kakiku dan mulai ”mencubiti”, mirip sekali dengan terapi ikan tawar yang pernah kulihat di tv, tapi bedanya ini langsung dari alam. Sungguh tak kuduga sebelumnya ini akan kualami sendiri.
Esok harinya aku pulang dengan pengalaman yang menabjubkan yang sulit diceritakan, inilah untuk pertama kalinya aku merasa bisa menyatu dengan tanah yang kupijak. Keramahan dan kehangatan masyarakat Sirungkungon meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan. Ungkapan ”orang batak galak kalau bicara” tak sedikitpun kutemui. Ada rasa bangga sebagai orang Batak yang menaungi semangatku sekarang.
Melihat banyak hal di Toba dan Sirungkungon membuatku terinspirasi menjadikannya tempat wisata yang berkelas dan membangun perekonomian, tempatnya orang Batak dan pendatang memutar uangnya untuk kelangsungan hidup yang lebih baik, bukan tak mungkin suatu saat nanti Tanah Sirungkungon akan menjadi sesuatu yang membanggakan buat masyarakat Sumatera Utara bahkan Indonesia. Sekarang tugas kita semua adalah bekerja keras untuk mau terlibat dalam pembangunan Tanah kita ini.
Warm regard
Usber Franciscus Manurung

6 responses

  1. wah…. keren ya…..

    jadi pengen ke sirungkungon aq…

    padahal awak kerja di parapat.

    dekat emang, tapi gk ada libur….

    ya gk bisa jln² lah….

    lam kenal ya…..

  2. Mungkin kita kerabat jauh karena saya masih keturunan Op. Tanda Raja. Sudah lama sekali saya tidak ke Sirungkungon (saya lahir disana tapi semua keluarga sudah tinggal di Jakarta kecuali Ito saya), sudah direncanakan beberapa kali tetapi tidak pernah terlaksana, mudah2an cerita ini menginspirasikan untuk merampungkan rencana saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s