waspadalah !!

Sore itu kira – kira pukul 17.30 aku berdiri di persimpangan Pasar Minggu untuk menunggu Kopaja 614 jurusan Pasar Minggu – Cipulir. Tak biasaya Kopaja 614 lama sekali datangnya, kira – kira 10 menit lamanya aku menunggu hingga sampai akhirnya Kopaja-pun dating. Belum sempat aku menaiki Kopaja itu tiba – tiba saja ada seorang pria yang menabrakkan dirinya kebadannku, lalu ia berkata,
Mr. X : “eh, kamu yang tadi gerombolan lima orang yang tadi abis nyolek dan ngerampok perempuan ya?, kamu tau gak, dia itu anaknya bos preman pasar minggu”
Lalu saya jawab,
Saya : “oh bukan, mungkin Bapak salah orang, saya dari tadi disini nunggu bus disini”.
Mr. X : “memang sih saya bukan saksi mata pas kejadian, tapi kata teman – teman saya ciri –cirinya itu kaya kamu, pake baju coklat dan celana jeans biru”
Saya : “lah tapi saya beneran baru aja disini dan Cuma nunggu bus”
Mr.X :”oke gini aja, kita ke pos biar si perempuan itu yang liat kamu langsung, kalau kamu memang bukan pelakunya nanti kamu boleh langsung pulang.”
Karena merasa bahwa aku tidak bersalah maka aku mau saja diajak ke tempat yang dia maksud.
Dalam perjalanan mengikuti Mr. X ke pos yang dituju, mulai datanglah 2 orang temannya yang “menggiring”-ku disamping kanan dan kiriku. Sekitar 100 meter aku digiring – tepatnya di persimpangan gereja pasar minggu- aku mulai curiga.
Saya : “Pak, sebenernya kita mau kemana sih ?” , tanyaku pada Pembantu 1
Pembantu 1 : “udah ikutin aja” ucapnya dengan nada rendah dan senyum
Disaat bersamaan Mr. x sedang menelpon seseorang, lalu bertanya padaku, “siapa nama-mu ?”
“Ben”, jawabku padanya
Lalu Mr. X memberikan handphonenya padaku, “ini kamu bicara dulu sama bos saya”
Saya : “halo pak !”
Bos : “halo Ben tolong kamu bantu anak buah saya, biar cepat selesai masalahnya ya !”
Saya : “ oh iya Pak saya akan bantu sebisa saya”
Karena merasa mulai terancam, saya-pun mulai beralasan agar bias pergi,
Saya : “Pak, tolong dengerin saya, saya mau pulang, kaka saya lagi sakit dirumah, saya harus cepat – cepat pulang”
Pembantu 2 : “tolong donk kerja samanya, kita juga mau buru – buru selesai”
Mr. X : “kamu jangan macem – macem, ada 30 orang (preman) yang sedang ngeliatin kamu, kalau kau macam – macam, bisa mati kau !!”
Mendengar hal itu aku jadi makin ketakutan, logika-pun jadi tidak berjalan, padahal aku bisa saja lari dan menghampiri Polisi yang sedang mengatur lalu lintas, tapi mendadak aku hanya bias menurut saja dalam kondisi yang sangat ketakutan.
Lalu masih dalam keadaan serba bingung dan ketakutan, Mr. X menjawab telepon dari seseorang yang sepertinya bosnya, aku bisa menebak seperti itu karena aku sempat menyebut “Oke Bos”.
Sesudahnya ia berkata bahwa “si korban” sudah dibawa ke rumah sakit Medika Bintaro. Lalu berhubung aku tinggal didekat Bintaro, dan aku tak pernah mendengar ada rumah sakit bernama Medika Bintaro, maka aku pun bertanya, “Medika Bintaro itu di sektor berapa ya Pak ?”, kemudian mereka malah marah dan memebentakku, “udah jangan banyak tanya, bukan kamu kok yang bayar ongkosnya !!!”
Sebenarnya bukan ongkos yang kupermasalahkan, melainkan aku khawatir akan dibawa kesuatu tempat dan akan dipukuli sampai tewas.

Tak lama setelah menelpon Bos situ, Mr.X pergi sekitar 50 meter, dan 2 orang pembantunya memegang tanganku dengan maksud agar aku tidak lari, berkali – kali mereka berdua berkata, “udah nurut aja ya, nanti si bapak itu (Mr. X) malah marah”, lalu saya pun menurut saja. Beberapa saat kemudian ada taksi yang dihentikan dan dari jarak 50 meter itu aku dapat melihat bahwa Mr. X sedang berbicara pada supir taksi. Lalu taksi itu menghampiri kami dengan Mr. X yang sudah lebih dahulu masuk dan duduk dikursi bagian belakang.
Dalam pikiranku aku selalu terujar, “lari… ngga… lari… ngga..”, kemudian aku mendapat ide agar bisa kabur maka aku harus duduk didepan.
Saya : “Pak saya duduk didepan aja” tanyaku pada pembantu 1
Pembantu 1 : “kamu dibelakang aja, saya didiepan”
Pembantu 2 : “iya kamu dibelakang aja, biar lega”
Mr.X : “ayo cepat, jangan macam – macam kamu”
Lalu akupun masuk dengan sangat terpaksa. Saat itu aku diapit oleh Mr. X dan pembantu 1. Merekapun mulai menyuruh Pak supir untuk jalan.
Supir Taksi : “ kemana kita Pak ?”
Mr. X : “Ke RS Medika Bintaro”
Supir Taksi : “oh BIntaro ya, berarti kita putar arah aja ya”
Sepertinya supir taksi itu juga tidak tahu, dia mungkin hanya tahu Bintaro saja.
Kemudian taksi mulai berjalan menuju jalan TB Simatupang.
Di dalam taksi aku ditanyai banyak hal, terutama identitas, dan ciri – cirri fisikku.
Mr. X : “tadi kau bilang kuliah dimana ?”
Saya : “ di Gunadarma”
Mr. X : “ berapa nomor handphonemu?”
Saya : “0857xxxxxxx”
Mr. X : “apa merek sepatumu ?”
Saya : “ G**or”
Mr. X : “bla, bla bla…………….”
Sambil bertanya ia pun terlihat mengetik semua ciri fisikku dalam sebuah bentuk pesan singkat. Melihat hal itu akupun mulai sadar bahwa itu ditujukan untuk dikirim ke keluargaku, untuk meminta tebusan atas diriku. Lalu aku berpura – pura tidak mengerti dan bertanya,
Saya : “ itu diketik untuk apa Pak ?”
Mr. X : ini buat laporan saya sama bos, biar langsung dibacanya”
Aku sangat bingung dan tak bisa berpikir jernih, dalam keadaan seperti itu aku terus terpikir untuk loncat keluar, tapi itu sangat mustahil aku lakukan karena posisiku ada ditengah dan kulihat Si pembantu 2 seperti memegang benda tajam dibalik celana jeans-nya. Aku makin putus asa saat melihat pintu taksi itu sepertinya dikunci terpusat (central lock), maka aku pun merasa sudah tidak akan terselamatkan lagi dan hanya bisa berdoa dalam hati sambil berharap ada keajaiban.
Didalam taksi itu Mr. X mulai membuat keterangan yang sangat aneh dan tak masuk akal, dia mengatakan bahwa pelaku perampokan itu berjumlah 5 orang dan merampok 1 buah laptop , uang 1,2 juta dan handphone nokia N71. Dan pelaku itu berpakaian almamater salah satu kampus (saya tak mau menyebut nama kampus tersebut). Dalam hatiku terucap, “ dasar orang tolol, udah tahu bedaLalu dia kembali menanyaiku beberapa pertanyaan .
Mr. X : “ apakah kamu membawa 1 buah laptop ?”
Saya : “nggak lah, kan tas saya aja enteng”
Mr. X : “ udah kamu jawab iya atau tidak aja, jangan banyak omong”
Dia membentakku sambil menarik jenggotku dengan keras.
Mr. X : “apakah kamu membawa uang 1,2 juta ?”
Saya : “ tidak”
Mr. X : “coba liat dompetmu !!”
Lalu saya berikan dompet milik saya, dan ia mendapati bahwa isi dompet saya hanya 12 ribu rupiah. Kemudian dia kembali bertanya dengan nada yang kesal sekali, “ ada lagi uang yang kamu bawa ?”, aku langsung menunjukan uang yang ada di kantong dan tempat kaca mata yang seluruhnya hanya berjumlah 70 ribuan. Lalu ia pun mulai kesal karena sepertinya ia merasa salah target penculikan. Berkali – kali ia bertanya dan berkali – kali pula aku menjawab dengan jawaban yang diluar harapannya, terutama saat dia bertanya tempat tinggalku yang kujawab dengan “NGONTRAK di Pondok Aren”
Lalu mereka sudah tampak sangat frustasi karena mereka benar – benar merasa salah target penculikan, maka kalimat bodohpun kembali terucap
Mr. X : “wah, kayanya memang bukan dia perampoknya”
Pembantu 1 : “iya, dari tadi dia jawabnya jujur koq”
Pembantu 2 : “iya ga mungkin perampok jujur terus”
Mr. X : “ya udah disini aja lah kau turun, nanti kami hubungin lagi kalo ada apa – apa. Kan nomormu sudah saya catat”
Pembantu 1 : “pinggirin aja Pak mobilnya” ucapnya pada Pak Supir
Ketika itu saya melihat Pembantu 2 mengeluarkan uang sebesar 15 ribu rupiah, sedangkan argo menunjukkan angka 12 ribu rupiah. Saya menduga mereka juga akan turun sesaat setelah saya turun.
Saat saya turun dari taksi itu, Mr. X sempat mengancam saya agar tidak pergi sebelum mereka memberikan instruksi melalui telepon.
“kamu tunggu dulu disini, nanti kalo 5 menit saya ga telepon kamu boleh pulang”
Melihat cara mereka mengancam aku pun hanya tertunduk dan berjalan menuju halte di dekat kantor ACC jalan TB Simtupang – Jagakarsa. Aku tidak sempat menghafal no. plat taksi tersebut, bahkan aku tak ingat wajah mereka semua. Yang kurasakan saat itu adalah lega luar biasa, dan tak lupa kuucapkan rasa syukurku pada Tuhan.
Merekapun berlalu dengan taksi itu, dan aku tak tahu kemana mereka setelahnya.

Salah Satu hal yang pantas untuk dipelajari dari pengalaman ini adalah, jangan terlalu polos saat bertemu dengan orang yang tidak dikenal, dan jangan pernah mau diajak menyelesikan persoalan tanpa bantuan penegak hukum (polisi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s