Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman dan Belanda

Nama Batak sebagai identitas etnik
ternyata tidak berasal dari
orang Batak sendiri, tapi
diciptakan atau dikonstruksi
para musafir barat. Hal ini
kemudian dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah
Batak sejak tahun 1860-an.
Simpulan ini dikemukakan
sejarahwan Unversitas Negeri
Medan (Unimed) Ichwan Azhari
yang baru usai melakukan penelitian di Jerman. Di Jerman, sejarahwan bergelar
doktor ini memeriksa arsip-arsip
yang ada di Wuppertal, Jerman.
Dalam sumber-sumber lisan dan
tertulis, terutama di dalam
pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata
Batak untuk menyebut diri
sebagai orang atau etnik Batak.
Jadi dengan demikian nama
Batak tidak asli berasal dari
dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari
luar. “Kata Batak awalnya diambil
para musafir yang menjelajah
ke wilayah Pulau Sumatera dari
para penduduk pesisir untuk
menyebut kelompok etnik yang
berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang
diberikan penduduk pesisir ini
berkonotasi negatif bahkan
cenderung menghina untuk
menyebut penduduk
pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di
hutan,” kata Ichwan Azhari di
Medan, Minggu (14/11/2010). Dalam penelitiannya yang dimulai
sejak September lalu, selain
memeriksa arsip-arsip di
Jerman, Ichwan juga melengkapi
datanya dengan mendatangi
KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
atau the Royal Institute of
Southeast Asian and Caribbean
Studies) di Belanda. Dia juga
mewawancari sejumlah pakar
ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler
dan Lothar Schreiner. Hasilnya, pada sumber-sumber
manuskrip Melayu klasik yang
ditelusurinya, seperti manuskrip
abad 17 koleksi Leiden, memang
ditemukan kata Batak di
kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label
untuk penduduk yang tinggal di
rimba pedalaman semenanjung
Malaka. Dalam manuskrip itu,
saat Malaka jatuh ke tangan
Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat
dihina dan direndahkan oleh
teks ini, melarikan diri ke hulu
sungai dan dalam teks itu
disebut, “… masuk ke dalam
hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak.
Maka diambil oleh segala
menteri Batak itu, dirajakannya
Puteri Gunung Ledang itu dalam
negeri Batak itu.” Tidak hanya di Malaysia, di
Filipina juga penduduk pesisir
menyebut penduduk pedalaman
dengan streotip atau label
negatif sebagai Batak. Untuk itu
menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan
kalau peneliti Batak terkenal
asal Belanda bernama Van der
Tuuk pernah risau
dan mengingatkan para
misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak
untuk nama etnik karena imej
negatif yang terkandung pada
kata itu. “Di Malaysia dan Filipina
penduduk yang diberi label
Batak tidak mau menggunakan
label merendahkan itu menjadi
nama etnik mereka. Di Sumatera
Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman
dan pemerintah kolonial Belanda
yang memberi konstruksi dan
makna baru atas kata itu,”
katanya. Disebutkan Ichwan, para
misionaris itu sendiri awalnya
ragu-ragu menggunakan kata
Batak sebagai nama etnik,
karena kata Batak tidak dikenal
oleh orang Batak itu sendiri ketika para misionaris datang
dan melakukan penelitian awal.
Para misionaris awalnya
menggunakan kata bata
sebagai satu kesatuan dengan
lander, jadi bata lander yang berarti tanah Batak,
merupakan suatu nama yang
lebih menunjuk ke kawasan
geografis dan bukan kawasan
budaya atau suku. Di arsip misionaris yang
menyimpan sekitar 100 ribu
dokumen berisi informasi
penting berkaitan dengan
aktivitas dan pemikiran di tanah
Batak sejak pertengahan abad ke-19 itu, Ichwan menemukan
dan meneliti
puluhan peta, baik peta bata
lander yang dibuat peneliti
Jerman Friedrich Franz Wilhelm
Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta
Junghuhn dibuat. “Peta-peta itu memperlihatkan
adanya kebingungan para
musafir barat dan misionaris
Jerman untuk meletakkan dan
mengkonstruksi secara pas
sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan kepada nama
satu kelompok etnik yang
heterogen yang sesungguhnya
tidak mengenal kata ini dalam
warisan sejarahnya,” tukas
Ichwan. Dalam peta-peta kuno itu, kata
bata lander hanya digunakan
sebagai judul peta tapi di
dalamnya hanya nampak lebih
besar dari judulnya nama-nama
seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada
nama batak sama sekali. Dalam
salah satu peta kata Batak di
dalam peta digunakan sebagai
pembatas kawasan Aceh dengan
Minangkabau. Kebingungan para misionaris
Jerman untuk mengkonstruksi
kata Batak sebagai nama suku
juga nampak dari satu temuan
Ichwan terhadap peta misionaris
Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata
lander sebagai judul peta dan
membuang semua kata Batak
yang ada dalam edisi penerbitan
peta itu di dalam laporan
tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah
menggunakan kata Batak itu. Kata Batak yang semula nama
ejekan negatif penduduk pesisir
kepada penduduk pedalaman,
kemudian menjadi nama
kawasan geografis penduduk
dataran tinggi Sumatera Utara yang heterogen dan memiliki
nama-namanya sendiri pada
awal abad 20, bergeser menjadi
nama etnik dan sebagai nama
identitas yang terus mengalami
perubahan. “Setelah misionaris Jerman
berhasil menggunakan nama
Batak sebagai nama etnik, pihak
pemerintah Belanda juga
menggunakan konsep Jerman
itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis
kolonialisme mereka. Nama
Batak juga digunakan sebagai
nama etnik para elit yang
bermukim di Tapanuli Selatan
yang beragama Islam,” tukasnya.
*suumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s