Ringkasan film “Temple Grandin”

Awal film ini dikisahkan dimana Temple pergi kerumah bibinya disebuah peternakan. Temple banyak belajar dari apa yang ada disekelilingnya, termasuk sapi yang ada dipternakan tersebut. Dia juga belajar bagaimana sapi – sapi diperlakukan. Suatu ketika ia terheran – heran saat melihat sapi yang dipaksa masuk kesebuah alat yang cara kerjanya adalah dengan menekan / menjepit bagian tubuh sapi tersebut, dan Temple pun bertanya mengenai apa yang sedang dilakukan para gembala sapi tersebut. Merekapun menjelaskan bahwa alat itu dibuat untuk menenangkan sapi dari rasa stress. Suatu ketika Temple mengalami stress yang cukup tinggi akibat kamar miliknya “dirasa” bukan miliknya lagi dan tampak ada yang aneh yang membuatnya takut bukan main. Lalu dia teringat akan alat penurun stress yang dipakai untuk sapi tadi, diapun langsung berlari dan meminta bibinya untuk menjepitnya ddengan alat itu, dan ajaibnya Temple merasa stress-nya berkurang.
Ibunya yang datang kepeternakan mengajak Temple untuk kembali bersekolah. Pada tahun 1966 ia masuk ke Universitas. Disini ia mengalami rasa gugup yang sangat luar biasa yang membuatnya depresi, hal ini diakibatkan ia belum benar – benar siap beradaptasi dengan lingkungan asrama itu. Ibunya yang mengetahui hal itu hanya bisa membiarkannya dengan maksud agar Temple mampu mengatasi proses adaptasinya tersebut. Lalu Ibunya teringat pada masa kanak – kanak Temple, dimana Temple kurang bisa focus dan mudah marah. Sejak usia 4 tahun Temple memang sudah divonis mengidap autis. Selain tidak focus dan mudah marah Temple juga menghindari sentuhan dengan orang lain.
Dokter yang telah memvonis Autisme yang diidap Temple menyarankan agar Temple dimasukan ke tempat khusus, namun ibunya tak menghiraukan dan memutuskan membesarkannya dengan cara yang sama dengan anak normal lainnya dan menyewa seorang pelatih bicara untuk Temple.
Diuniversitas Temple membuat alat yang serupa dengan alat penenang yang ada dipternakan bibinya. Ini dia lakukan karena dia masih sering mengalami stress, namun setelah mengetahui hal tersebut, pihak universitas melarang keberadaan alat itu karena dianggap sebagai alat pemuas seks. Namun Temple tak tinggal diam, diapun pergi kerumah bibinya lalu memintanya berbicara pada pihak universitas mengenai spesifikasi dan kegunaan alat itu, dan Temple pun menjelaskan dengan cara ilmiah kegunaan dan cara kerja alat itu dalam menurunkan stress. Pada akhirnya pihak universitas-pun mengizinkan penggunaan alat itu dan Temple juga tak ragu untuk meminta teman – temannya memakai alat itu untuk menunjukan bahwa alat itu juga bekerja sama baiknya pada orang normal dalam menurunkan stress.
Sebelumnya Temple baru saja dikeluarkan dari universitas lain karena dia memukul kawannya. Dari banyak pengajarnya hanya satu orang – yang benar – benar memahami potensi Temple, dia adalah Dr. Carlock yang kemudian memotivasi Temple agar mau meneruskan kuliahnya. Dan Dr. Carlock juga selalu mengajarkan pada Temple agar mau menemukan “pintu” baru sebagai bentuk penjelajahannya didunia yang baru. Pada akhirnya Temple lulus dari universitas dan bekerja di peternakan. Dia juga menyanyikan lagu “You’ll never walk alone” untuk menggambarkan bagaimana ia memotivasi dirinya dan orang lain, bahwa semua orang tak akan pernah sendiri saat mengarungi hidup. ini ia berhasil menciptakan sebuah alat yang mirip dengan alat penenang sapi yang dulu namaun dengan beberapa instrument tambahan. Dia juga membuat sebuah track untuk sapi – sapi yang bentuknya mirip dengan pola jalan sapi pada kondisi alamiah seekor sapi. Dia juga berhasil menemukan cara membunuh sapi ternaknya dengan cara yang lebih halus / manusiawi.
Dalam sebuah kesempatan Temple diminta berbicara disebuah konvensi autism, dia menceritakan bagaimana ia mengatasi permasalahannya sebagai seorang autis dan mencapai pendidikan akademik sebaggaimana layaknya orang normal. Dia juga menceritakan bagaimana ibunya mereawat dan mendidiknya. Semua orang yang hadir disana sangat terkesan dengan pengalaman Temple.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s