lembaran baru

Tulisan ini dibuat secara spontan, ya spontan atas respon tulisan – tulisanmu di twitter.
Sebisa mungkin aku menjaga perasaanmu, bahkan saat kuputuskan untuk meyudahi hubungan kita, aku masih memberi isyarat untuk kembali mengevaluasi kembali keputusanku. Tapi entah mengapa kau seperti ingin menyudutkanku bahwa akulah yang salah, akulah yang tak mengerti, akulah yang tak bisa menerima kau apa adanya. Mungkin kau pikir dengan menyudutkanku akan membuatku menyesal dan memitamu kembali, hmm… sejujurnya aku memang ingin kembali, ya aku ingin kembali kewaktu itu, dimana kita saling mencoba untuk mengenal..tapi maaf sekarang semua sudah berubah. Aku sepertinya sudah mengenal seluruh dirimu, dan kusimpulkan bahwa kita tidak bisa untuk bersama lagi. Aku tak bisa terus menerus memposisikan dirimu dalam kondisi belajar, karena kau sudah cukup pintar untuk seorang yang sedang belajar, bahkan sering kulihat kau sedang mengajari orang lain, ya kau adalah master sekaligus Doktor untuk urusan cinta. Dan aku hanyalah awam yang tidak akan pernah mampu mengimbangimu. Tapi setidaknya aku lebih manusiawi saat mengucapkan kata – kata, aku berpikir lebih lama sebelum mengucapkan. Aku sabar seperti balon, semakin kau tiup maka aku akan semakin besar dan terlihat menyenangkan, tapi ketika kau meniupnya melebihi batas maka aku tak akan bisa lagi seperti sebelumnya.
Baiklah aku tak akan membahas siapa yang salah. Kalau kau berkenan aku yang salah yasudahlah aku yang salah. Tiap hari juga teman – teman kita menganggap aku yang salah. Sekarang aku ingin kembali kekehidupanku yang dulu, aku ingin menulis lebih banyak cerita – cerita indah, bukan cerita menyedihkan seperti ini. Aku rindu saat aku bisa membuat teman – temanku tersenyum atas apa yang kulakukan, aku rindu bisa bercanda dengan adik – adikku di SMA 32 , dan aku rindu untuk jatuh cinta. Untuk yang terakhir tadi mungkin aku masih bisa menundanya karena aku masih punya teman – teman yang bisa mengisi kekosongan hariku dengan cintanya . Mereka bisa mempercayaiku bahkan ketika aku tidak bisa percaya pada diriku sendiri.
Terima kasih pernah menjadi lembaran dalam buku kehidupanku, aku berdoa agar kau menemukan pangeranmu yang bisa memahamimu dan melindngimu. Sekarang aku akan menggoreskan tinta kehidupanku pada lembaran yang baru dengan senyuman – senyuman baru tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s