Mama dan harapannya

Hari ini mama ulang tahun yang ke 55. Bahagia dan sedih semua tercampur aduk.
Bahagia karna aku masih beruntung punya Mama yang masih sehat, sedih karna belum bisa “bawa” Mama kesini lagi. Sejak tahun 2009 lalu aku selalu berdoa agar Mama dan Bapa bisa kembali lagi serumah denganku. Karna tentunya semua akan lebih indah ketika seluruh anggota keluarga bisa bertemu setiap hari.
Ah.. tapi bukan berarti aku tidak bersyukur dengan keadaan sekarang. Aku bahagia masih seatap dengan kaka-ku. Cintanya pada semua anggota keluarga tak bisa disangkal.
Dihari yang spesial ini aku ingin sedikit berbagi cerita tentang Mama. Walaupun aku tak tau secara keseluruhan, tapi tak akan mengurangi nilai seorang Mama.
Mama lahir 55 tahun lalu sebagai anak petani disebuah dusun bernama Huta Bayu Raja, diprovinsi Sumatera Utara. Mama kecil terbiasa dengan pola hidup sederhana bahkan kekurangan. Yang membuatnya tetap kuat menjalani hidup adalah sisi religious-nya. Mama pernah bilang bahwa kita hanya berhak bersyukur. Ya ! bersyukur adalah hak, berbeda dengan yang dikatakan oleh guru – guruku disekolah yang mengatakan bahwa bersukur adalah kewajiban.
Mama bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi. Mama hanya lulus sampai ditingkat SMP , pendidikan keperawatannya tidak tuntas karena sudah dilamar Bapa sebelum lulus. Namun bukan berarti Mama tidak punya keahlian. Mama punya keahlian yang super banyak, bukan sekedar bisa, Mama bahkan sangat mahir. Keahliannya diantaranya adalah merancang dan menjahit baju, berdagang, memasak, berorganisasi dan masih banyak lainnya. Bisa dibayangkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk sekolah agar semua keahlian itu didapat.
Mama dan Bapa dikaruniai 5 orang anak. 3 perempuan dan 2 laki – laki. Dalam perjalanannya mendapat anugerah itu Mama dan Bapa sempat mendapat guncangan yang sangat dahsyat. 3 anak yang pertama adalah perempuan, sedangkan dari kemauan kebanyakan orang batak adalah memiliki anak laki – laki. Alasannya sederhana saja yaitu agar ada yag meneruskan nama keluarga. Karna dalam adat batak laki – laki berperan untuk membawa marga dalam keluarga, dan itu merupakan suatu kebanggan ketika marga itu bisa terus menerus diturunkan.
Bapa sempat sedih karna hal itu, sampai akhirnya lahirlah anaknya yang keempat. Dialah abangku yang kemudian dinamai Alpon Sepriando Manurung. Seluruh keluarga sangat bahagia, apalagi Mama yang akhirnya lega karna hal itu.
Lalu 4 tahun berselang lahirlah aku. Mama dan Bapa makin bahagia, kini mereka punya keluarga yang besar.
Dalam membesarkan anak – anaknya, Mama selalu memberikan yang terbaik yang bisa diberikan. Ditengah kesulitan ekonomi, Mama dan Bapa tidak hentinya menyediakan susu selama kami masih kecil. Dan mereka berdua juga selalu memberikan kami makanan yang sehat. Mereka lebih memilih kami mengontrak rumah dan memberikan kami kecukupan gizi daripada membeli rumah tapi gizi kami terabaikan. Mama pernah bilang bahwa alasan mereka melakukan itu adalah agar kami punya otak yang cerdas dan bisa berprestasi. Ketika itu aku bertanya apa hubungan makanan yang kami makan dengan kemampuan otak kami. Dengan polosnya Mama menjawab, “di Tv katanya begitu.”
Menikah dengan Bapa-ku yang punya kepribadian keras merupakan ujian tersendiri buat Mama. Kerap kali Mama harus tahan terhadap suara bentakan Bapa ketika sedang dirundung masalah. Mama selalu bisa dijadikan tempat Bapa menuangkan sedih dan kesalnya. Tak sekalipun Mama berusaha menghindar, dia selalu menjadi pendengar yang baik bahkan Mama rela diam selama mendengarkan Bapa yang sedang marah karena situasi yang dihadapinya ditempatnya bekerja.
Mama juga yang mengajarkan kami untuk selalu tenang ketika menghadapi masalah. Dia punya 1001 cara untuk menyelesaikan masalah, mulai dari yang halus sampai yang paling keras.
Suatu ketika dalam perjalan hidup keluarga kami, kami mengalami guncangan ekonomi yang sangat dahsyat hingga kami terpaksa menghutang sana – sini. Dalam hal ini Mama –lah yang paling kuat menghadapinya, dia selalu mampu menyediakan telinganya untuk dicaci – maki oleh penagih hutang yang tak sabaran. Masih sangat jelas dimemoriku ketika aku sendiri dirumah dan penagih hutang datang. Aku bingung harus menjawab apa, aku tak tau Mama kemana (berdagang) , tapi sipenagih hutang itu tidak mau tahu dan terus – menerus membentakku. Aku menangis, aku takut.. aku yang hanya anak kelas 5 SD dihadapkan dengan monster seperti itu. Disaat seperti itulah sosok seorang Mama sangat dibutuhkan.
Kami selalu berdoa tiap hari semoga masalah kami segera teratasi. Jatuh bangun terus kami alami, mungkin lebih sering kami terjatuh. Kini aku mengerti situasi yang dirasakan Mama saat itu. Ketika itu Mama kerap menyembunyikan sedihnya dengan selalu tersenyum tiap kali aku meminta dibelikan sesuatu. Kalau sudah seperti itu biasanya Mama akan menyalakan TV 14 inchi milik kami dan mencarikan acara yang bagus untukku, kemudian memancingku dengan pertanyaan – pertanyaan yang menarik untuk kujawab. Ya begitulah cara Mama mendidik kami. Mama selalu bisa membuat kami bangga dengan apa yang kami punya. Begitupun Mama yang selalu bangga dengan apa yang diberikan anak – anaknya.
Mama biasanya akan terlihat bahagia ketika hari pengambilan raport anak – anaknya. Karna hampir pasti kami mendapat ranking 3 besar dan dengan nilai – nilai yang bagus. Mama selalu disanjung – sanjung oleh wali kelas, orang tua murid lain, dan tetangga – tetangga kami. Mereka semua kebanyakan heran pada kami anak –anaknya . Terutama kaka –ku yang bersekolah disekolah di Ricci II, bagaimana mungkin seorang anak miskin bisa bersaing dengan anak – anak orang kaya yang tentunya punya kelengkapan fasilitas dalam belajar. Mereka bingung apa yang diberikan Mama kepada kami sehingga kami bisa sedemikian rupa. Tapi Mama selalu merendah dengan berkata bahwa itu hanyalah keberuntungan.
Dari semua anaknya boleh dibilang aku adalah anaknya yang terbodoh untuk hal akademik. Aku sangat malas untuk belajar materi yang sudah kupelajari disekolah. Kadang Mama heran dengan ulahku itu, tapi Mama tetap percaya dengan kemampuanku, begitupun aku yang selalu berusaha untuk membayar kepercayaanya kepadaku. Aku selalu berusaha agar permintaannya bisa kuwujudkan misalnya saja permintaannya agar aku bisa masuk sekolah negeri. Dari SDN 01 Pondok Betung aku melanjutkan ke SMPN 161 Jakarta , lalu karna kendala jarak akhirnya atas inisiatif Mama aku pindah ke SMP 2 Pondok Aren. Dan saat masuk SMA aku berhasil masuk SMAN 32 Jakarta, sesuai dengan harapan Mama agar aku masuk sekolah yang juga adalah sekolah tempat abangku menempuh 3 tahun pendidikan SMA nya.
Saat semua sepertinya berjalan lancar – lancar saja, sepertinya aku akan kembali mewujudkan harapan Mama agar aku bisa masuk Universitas negeri. Tapi ketika itu aku mendapat ide agar aku cukup menekuni bidang athlete-ku saja, aku mendapatkan optimisme yang tinggi ketika itu. Mama-pun bertanya alasan mengapa aku memilih untuk tidak melanjutkan kuliah yang selalu kujawab dengan jawaban yang tidak masuk akal buatnya.
Pengumuman UAN tahun 2007 kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahun Mama. Petaka terjadi hari itu, sepupuku yang tinggal serumah dengan kami terkena DBD, akhirnya Mama harus membawa dan menemaninya di rumah sakit. Sore harinya Mama pulang sekedar untukmelihat anaknya yang akan memberikan berita kelulusan. Dihari ulang tahunnya itu bukannya memberikan kado yang indah justru aku mengecewaknnya dengan surat pernyataan ketidaklulusanku.
Mama menangis, jelas itu bukan tangisan untuk dirinya. Itu adalah tangisan untukku yang diterpa musibah. Tapi tak sedikitpun terbesit dipikirannya untuk marah, dia malah menyemangatiku. Dia juga menyama –nyamaiku dengan peserta olimpiade yang juga tak lulus UAN yang pernah ia lihat di TV.
Sejak hari kelabu itu Mama terus mendukung apapun yang kumau. Bahkan keputusanku untuk tidak kuliah, yang dulunya tidak didukung menjadi hal yang masuk akal buat didukung.
Setelah menuntaskan ujian paket C, aku memilih menjadi seorang atlet dan bekerja sebagai tukang foto kopi ditoko milik pamanku, meskipun ada banyak tawaran beasiswa dari banyak kampus. Berkat latihan dan doa Mama akhirnya aku kembali bisa membanggakan Mama dengan terpilih menjadi salah satu wakil Indonesia di olimpiade Beijing pada tahun 2008. Di Beijing pulalah aku bertemu Pak Bunawan, salah seorang official Timnas yang kemudian menawarkan agar aku masuk kampus Gunadarma setelah ia tau aku belum kuliah.
Sesampainya di di Indonesia aku terus – menerus memikirkan tawaran itu, dan akhirnya aku coba mendiskusikannya dengan Mama. Ternyata masih terbesit dibenak Mama agar aku mau kuliah. Maka dari itu akupun memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku. Mama sama sekali tidak kecewa meskipun akhirnya aku tidak kuliah di universitas negeri. Buatnya yang trpenting adalah aku bisa menjadi kebanggaan keluarga. Ya benar hanya itulah yang mampu membuat kami terhindar dari cemoohan orang – orang yang tidak mengenal kami.
Bulan maret tahun 2009 Mama dan Bapa memutuskan untuk tinggal dikampung halaman untuk menikmati hari tuanya. Menurutnya aku harus bisa hidup lebih mandiri lagi agar mengerti esensi dari kehidupanku sendiri.
Tadi pagi aku menelepon Mama sekedar untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kami terlibat obrolan selama 34 menit 23 detik memanfaatkan paket talkmania telkomsel. Di obrolan itu Mama banyak menanyai kabarku. Dia masih terus bertanya tentang karirku sebagai atlet dan tentunya kuliahku. Sepeti Ibu pada umumnya dia sangat bangga bila mendengar ananknya menikmati perjalan kuliahnya. Sesungguhnya aku bahagia menjalani kuliah karena tau itu adalah yang bisa membuat Mama bangga bila ditanya sanak saudara, “si bontot sekarang sibuk apa?” , lalu Mama akan menjawab, “kuliah psikologi dia” dengan senyum lebar karna tidak tahu apa itu jurusan psikologi. Mungkin kalau ditanya apa yang bisa ku berikan saat ini untuk Mama, jawabannya adalah “Harapan”. Satu hal yang selalu kujanjikan pada Mama adalah, bahwa Mama selalu bisa berharap dariku. Apapun itu !! termasuk harapannya yang baru saja tadi pagi ia ucapkan agar aku meneruskan kuliah S2 –ku tanpa tahu alasannya.
Ma… aku janji selama yang Mama minta ke aku dapet restu dan doa dari Mama pasti aku jalanin, meskipun permintaan itu sulit. Aku bangga punya Mama yang baik, pinter, taat, sabar dan bisa jadi panutan. Terima kasih udah percaya sama setiap pilihanku, dan tentunya terima kasih juga buat ilmu menyembuhkan diri sendiri yang sekarang selalu jadi andalanku kalau lagi sakit, dari dulu aku selalu nanya kenapa Mama bisa nyembuhin aku cukup dengan berdoa. Sekarang aku ngerti Ma.. aku sudah bisa melakukannya sendiri. Oh iya Ma.. sekarang aku udah ga atheis lagi , aku udah percaya seutuhnya sama Tuhan. Tiap aku sakit doanya udah langsung ke Tuhan, bukan lagi minum obat yang aneh – aneh.. 
Akhir kata aku mau ucapin Selamat Ulang Tahun untuk Mama.. semua doa terbaik untuk Mama 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s