Chelsea’s Coach

“Pak Ben saya baru saja menerima email dari klub Chelsea” ujar Blanco dengan nada yang terengah – engah.
“oh ya? Apa isi surat itu?” sahutku
“Anda ditawari klub untuk menjadi manager sekaligus pelatih.” Terang asistenku itu
“Coba kulihat sebentar.” Sanggahku dengan nada heran.
Blanco mengeluarkan tablet PC nya dari tas kecil miliknya, hampir saja terjatuh karna dia sangat gerogi. Sepertinya dia merasa sangat tidak percaya. Bahkan ketika harus menunjukkan email itupun dia sampai gemetaran.
“ini Pak..”
Lalu kubaca perlahan kata perkata dalam surat itu. Akupun kaget luar biasa, pasalnya aku hanyalah pelatih klub divisi 2 diliga Indonesia, itupun aku tidak pernah membawa tim itu juara sejak aku melatihnya 2 tahun lalu.
“coba kamu cek lagi, apa benar ini email resmi Chelsea?”
“sudah Pak, saya sudah mengeceknya..” jawab Blanco dengan nada yang meyakinkan.
“baiklah kalau begitu sehabis makan malam kita hubungi pihak klub untuk meminta konfirmasi”
Kami berdua pergi ke warteg terdekat untuk makan malam, seperti biasanya kami hanya makan – makan sederhana. Kami berdua sepakat untuk tidak makan makanan siap saji. Kami lebih suka makan ditempat seperti ini, dimana kami bisa berbincang – bincang dengan tamu warteg lainnya.
“Hey Pak Ben, kemarin bagus tuh anak – anak mainnya.” Sapa salah seorang ditempat itu.
“ah, masaih ada kekurangan disana – sini Pak.. Maaf kalo skornya Cuma 2 – 0” sautku padanya.
Masyarakat sekitar klub binaanku memang sudah mengenal akrab diriku dan asistenku. Kami sering bertemu ditempat – tempat umum dan saling sapa.
Usai makan aku dan asistenku langsung menuju apartemen sewaan kami. Blanco berjalan sangat tergesa – gesa saat itu, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk meminta konfirmasi dari pihak klub.
Blanco meminta kunci kamar apartemenku dan langsung membuka pintu dan segera menyalakan notebook milikku yang ku letakkan dimeja kerjaku.
“Pak, mau langsung dibalas emailnya?” tanyanya.
“langsung saja kamu balas lewat alamat email saya” jawabku.
Begitu koneksi internet terpasang diapun langsung mengetik email balasan dengan sangat cepat. Tak lama kemudian masuklah email balasan. Lalu akupun meminta Blanco untuk meminta pihak klub bertemu langasung tatap muka.
Dari perundingan itupun akhirnya pihak manajemen klub itu membuat janji temu di Hotel Ritz Charlton 4 hari lagi.
Hari yang dinanti itupun datang. Blanco yang biasanya hanya mengenakan polo shirt dan celana jeans kuminta untuk mengenakan baju formal. Dia tampak canggung dengan pakaian itu, cara berjalannyapun tampak aneh. Aku hanya tertawa kecil melihat hal itu.
Kemudian kami menuju hotel dengan menggunakan mobil murahan milikku. Mungkin karna melihat mobil yang jelek itu sehingga security di hotel itu berkali – kali menggaruk kepalanya dan bertanya, “Bapa ada keperluan apa?”. Sebuah pertanyaan yang cukup melecehkan buatku, tapi Blanco selalu bisa menenangkan emosiku dengan celetukan dahsyatnya. “kami mau mengantarkan tulang sapi untuk pengganti sendok makan disini” katanya sambil tertawa.
Kamipun langsung menuju ruang pertemuan yang sudah disiapkan oleh pihak klub. Diruangan itu sungguh mengejutkan ternyata tak hanya 1 orang perwakilan klub yang hadir. Disana hadir pemilik klub itu Roman Abramovich dan kepala management keuangan klub yang tidak aku kenal, baik wajah maupun namanya. Dan dibelakangnya ada mantan kapten klub itu, John Terry.
“selamat siang Pak Ben, senang bertemu dengan anda.” Sapa Terry padaku.
“siang juga, terima kasih”
Lalu kamipun melakukan diskusi mengenai tawaran klub ini, selayaknya sebuah perundingan kesepakatan besar, kami banyak berdiskusi mengenai target dan gaya kepelatihanku. Roman hanya mendengarkan dan sesekali dia tertawa karna penjelasanku. Tentu itu bukan tertawaan menghina, dia seperti kagum dan heran.
Robert Adam tak hentinya menanyai apa yang akan kulakukan nantinya, sepertinya dia tidak mau rugi bila nantinya klub itu tidak memiliki target besar. Dan ditempat itu aku langsung mengatakan bahwa targetku adalah klub harus juara liga. Kusampaikan target itu dengan nada yang sangat optimis.
Perbincangan selama 2 jam itupun berakhir dengan tawaran kesepakatan nilai kontrak $ 300.000 perpekan dengan durasi kontrak 2 tahun dengan opsi perpanjangan 5 tahun. Sedangkan untuk Blanco disodorkan nilai kotrak 30% dari nilai kontrakku, yang membuatnya girang bukan main. Tidak heran karna sejak pensiun sebagai pemain sepakbola di liga Indonesia dia hanya bergaji Rp. 1.000.000 perpekan sebagai asistenku. Bahkan karna hal itu dia tidak pernah pulang kenegara asalnya Venezuela karna tak pernah memiliki uang yang cukup, sehingga kini ia memilih menjadi warga Negara Indonesia agar tak harus membayar pajak warga asing tiap tahunnya.
Sepulanganya dari pertemuan itu Blanco tak hentinya mengucapkan terima kasih padaku, dia merasa bersyukur bekerja sama denganku. Aku sampai meneteskan air mata karna melihatnya begitu bahagia. Aku tiba – tiba teringat dengan awal pertemuan kami. Ketika itu dia sedang duduk menyaksikannku melatih sepak bola disebuah perkampungan didaerah Pondok Aren kota Tangerang. Sekilas dari kejauhan aku sepertinya mengenal wajahnya, lalu kudekati dia dan ternyata benar dia adalah Fabio Blanco , salah seorang pemain Persita Tangerang yang kabarnya akan segera pensiun. Kami banyak berbincang saat itu. Sampai – sampai anak asuhanku menyadari keberadaan Blanco dan malah meminta tanda tangan. Lucu sekali melihat mereka berebut meminta tanda tangan ketika itu. Tapi tak sedikitpun Blanco merasa risih dengan anak – anak kecil itu, dia malah merangkul salah satu dari mereka sambil membubuhi tanda tangan di kaos mereka.
Sepekan kemudian tepatnya usai pertandingan liga aku dan Blanco mengumpulkan teman – teman di klub Satria Tangerang di aula berukuran 20 x 20 meter milik klub. Aku dan Blanco sangat tegang, kami takut mengecewakan semuanya. Kemudian akupun mulai berbicara.
“temen – temen jadi maksud saya mengumpulkan kalian semua adalah untuk menyampaikan kabar baik yang juga mungkin adalah kabar buruk .”
Seketika ruangan yang tadinya penuh canda tawa itu langsung mendadak hening dan penuh ketegangan, mereka nampak bingung.
“Langsung aja donk coach, jangan bikin bingung gini” ucap Suroso , salah seorang pemain klub binaanku.
“iya, saya akan cepet aja” timpalku
Aku menghela nafas dan membenarkan kerah bajuku. Kuperhatikan sekelilingku, ada yang menunduk ada pula yang menggenggam botol air mineral.
“Saya dan Blanco beberapa hari lalu dikirimi email dari klub Chelsea dan kami sudah melakukan pembicaraan kerjasama.”
Serentak ruangan itu langsung kaget bukan main, beberapa diantara mereka tertawa karna mengira ini hanyalah candaanku saja.
“sudah.. sudah..saya mengerti kalian pasti banyak yang tidak percaya, tapi faktanya memang saya sudah melakukan pembicaraan.”
Sekitar 20 menit aku menceritakan semuanya dan juga menjelaskan keinginanku untuk menerima tawaran itu. Dan aku juga member i tahu bahwa secara resmi pihak klub Chelsea akan mengirim perwakilannya pekan depan untuk membicarakan proses transferku dengan pihak klub Satria Tangerang.
Aku kembali melihat sekelilingku dan banyak diantara mereka yang mulai mentakupkan kedua tangannya di wajah mereka. Kini mereka percaya, karna memang selama ini mengenalku sebagai orang yang bisa dipercaya.
Usai itu bubarlah semua orang diruangan itu dan petugas kebersihan mulai membereskan aula itu. Seperti tidak percaya aku mulai meneteskan air mata karna harus meninggalkan klub ini. Ditempat inilah aku pertama kalinya bisa merasaka atmosfer sepakbola professional. Klub inilah yang berani berspekulasi memakai jasaku. Bahkan ketika aku masuk klub ini banyak diantara pemain didikanku berusia lebih tua dariku. Ya usiaku baru 31 tahun ketika itu.
Seminggu berselang usai pembicaraan transfer, aku dan Blanco pamit dengan seluruh anggota klub Satria Tangerang. Salah satu pemain andalanku meneteskan air mata yang tidak sedikit, Blanco langsung menghampirinya dan memeluknya. Jelas kami semua bersedih saat itu. Demi karir yang lebih tinggi lagi tentunya itu sangat harus terjadi.
Keesokan paginya aku bersama Blanco bersiap untuk terbang ke London untuk melakukan tes kesehatan. Blanco agak sibuk ketika itu karna harus membawa banyak barang kesayangannya. Dia membawa 1 koper besar dengan 2 tas jinjing berisi cd music favoritnya.
Didalam pesawat kami lebih banyak berbincang mengenai para pemain – pemain kami di klu ST FC. Sesekali kami tertawa mengingat kelakuan para pemain diruang ganti yang sering mempeloroti celana rekannya atau ketika mereka saling cela dalam candaan mereka.
Setelah menempuh perjalanan 1 hari penuh kamipun tiba di Stansted London. Dan kami sudah disambut oleh orang kiriman dari klub. Kami langsung dibawa ke Stamford Bridge dan menuju tempat pemeriksaan dan tes kesehatan. Tapi kami tidak lansung mengikuti tes itu, karna kami masih terlalu lelah, lagi pula memang masih pagi buta. Kami pun beristirahat dan melaksanakan tes kesehatan pukul 13.00 waktu setempat.
Usai melakukan pemeriksaan & tes kesehatan kami diminta menunggu 2 jam. Sambil menunggu kami kerestoran dekat stadion dan ternyata kami kebingungan harus makan apa. Bahkan Blanco berkata bahwa lidahnya sudah menjadi lidah lokal, dia sempat salah sebut. dia berseru minta pergedel. Aku hanya bisa tertaawa melihat asisten yang usianya 10 tahun dariku itu.
Setelah makan siang dan menunggu sejenak akhirnya hasil tes keluar dan kami dinyatakan lolos tes kesehatan. Kemudian kami diminta beristirahat agar nanti malam bisa langsung bertemu dengan petinggi – petinggi klub dan mulai membicarakan visi – misi.
Kami disediakan kamar diareal stadion. Tempatnya sungguh nyaman, aku merasakan suhu ruangan kamar kami lumayan hangat padahal suhunya hanya 18˚C. mungkin karna diluar suhunya jauh dibawah itu. Aku dan Blanco sama – sama merasa kedinginan, maklum dinegara asalnyapun Blanco tinggal daerah yang cukup panas.
“Pak Ben, aku khawatir tak tahan kalau harus tiap hari seperti ini.” Keluhnya.
“Ah kau ini, nanti juga terbiasa.” Sahutku sambil memegangi jari – jari kakiku yang mulai bergetar.
Kami akhirnya tertidur , aku lebih memilih tidur disofa agar lebih hangat, tempat tidurku kubiarkan kosong karna bantal dan selimutnya sudah kuambil. Sedangkan Blanco, dia mengkerutkan badannya seperti udang.
Jam waker berbunyi tepat pukul 18.00 , kami segera menyiapkan diri menuju meeting room. Tak seperti biasanya ketika aku bangun tidur maka akan banyak sekali keringat ditubuhku, bahkan sering menimbulkan bau badan. Kali ini justru berbeda, maka kuputuskan untuk tidak mandi, begitupun Blanco.
Sekitar pukul 19.00 datanglah orang suruhan untuk mengantarkan kami ke meeting room. Tadinya kupikir kami akan dijemput dengan mobil atau benda semacamnya, ternyata kami diantar hanya dengan berjalan kaki. Meskipun jaraknya tidak cukup jauh tapi aku merasa cukup kaget awalnya. Berbeda dengan ketika kami di Indonesia. Tapi setelah kuberpikir aku bisa mengerti, disini harga BBM sangatlah mahal. Aku salut klub sekaya ini ternyata juga masih berfikir untuk irit.
Akhirnya kami sampai diruang meeting. Blanco duduk disebelah kananku, sementara dikanannya ada kapten kesebelasan, Woods. Tinggal 1 kursi yang belum terisi, yang merupakan tempat untuk pemilik klub, Roman Abramovich.
“sepertinya Boss sedang dijalan, kita tunggu 10 menit lagi.” Ujar Robert sambil melihat jam tangannya.
Lalu tak lama kemudian Boss datang dan rapatpun dimulai.
“maaf saya telat, tadi kebetulan aku bertemu dengan kawan lama direstoran.” Ujarnya menyesali keterlambatannya.
Awal pembukaan rapat itu sungguh menjenuhkan bagiku, karna yang dibahas lebih kepada undang – undang internal klub ini. Jujur saja aku tidak terlalu ingin mendengar lagi aturan internal, karna hampir setiap klub sudah mengikuti aturan baku FIFA, aku mungkin sudah hafal urutannya.
Rapat mulai menarik ketika sudah menyangkut anggaran klub. Dari segala jenis anggaran, aku paling terkejut ketika disebutkan anggaran belanja pemain baru yang mencapai 250 juta euro. Angka yang sangat fantastis, aku bahkan sempat berfikir dengan uang sebanyak itu maka aku bisa membeli seluruh pemain dari 4 klub bebeda di Indonesia. Melihat aku tersenyum – senyum sendiri merekapun langsung menyadarkanku.
“Mr. Ben.. Mr. Ben..” ujar salah seorang diruangan itu yang tak kuketahui namanya.
“oh.. maaf.. aku sangat kaget mendengar angka fantastis itu.” Kataku sambil tersenyum malu.
Setelah selesai dengan anggaran – aggaran itu, kemudian Roman langsung mengambil alih pembicaraan.
“Bapak Ben, jadi berapa pemain yang akan anda beli dimusim ini?” tanyanya dengan nada yang cukup serius
“kami tentunya tidak mau klub kami hancur dengan pilihan buruk anda.” Lanjutnya.
Mendengar ucapan itu aku lumayan bingung, karna sebelumnya aku bahkan mengidolakan pemain – pemain diliga eropa dan kini aku dimungkinkan menjadikan mereka pemain asuhanku.
“mungkin aku akan membeli 12 pemain untuk semua posisi.” Lontarku pada Roman
“anda gila ??” tanyanya dengan nada yang cukup tinggi.
“tentunya saya tidak gila, tapi memang saya butuh pemain yang baru untuk setiap posisi.”
“lalu mau dikemanakan pemain yang sudah ada?” tanyanya lagi
“pemain yang sudah ada akan tetap kita pakai, mereka akan menjadi mentor bagi pemain baru.”
“aku tak mengerti dengan maksud anda, masa kita harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli pemain cadangan??” ucapnya sambil memegangi kepalanya.
“aku akan membeli pemain – pemain dari mancanegara, yang bahkan anda mungkin tidak mengenalnya. Itu semua kumaksudkan agar terjadi keragaman karakter, kemudian ketika mereka sudah beradaptasi dengan tim maka mereka berhak masuk tim inti.”
Ketika menyampaikan itu seluruh petinggi klub dan kapten tim menjadi sangat heran dan mereka tampak berdiskusi dengan orang disebelahnya masing – masing.
“Baiklah, semua kuserahkan pada anda. Saya juga sudah melihat video tim lama anda. Saya cukup puas melihat pemain – pemain di tim lama anda bisa memainkan sepakbola indah padahal mereka bukanlah pemain top.” Ujar Roman dengan senyum keyakinan.
Setelah itu kami bubar dan menuju penginapan masing – masing. Sambil jalan menuju tempat penginapan kami, Blanco berbicara padaku dalam bahasa Indonesia.
“Pak, saya khawatir klub akan kecewa dengan ucapan anda tadi.” Ujarnya dengan penuh kekhawatiran.
“Awalnya aku juga berpikir demikian, tapi tadi kau lihat sendiri Roman berkata demikian. Ini adalah peluang besar buat kita.” Kataku meyakinkannya.
“baiklah aku tak pernah berani untuk ragu padamu Pak.” Sahutnya.
Kemudian kami menghampiri pedagang majalah yang ada didekat apartemen kami. Aku berkenalan sejenak dengannya.dia cukup kaget ketika tau yang mengantarku adalah orang yang idikenalnya sebagai pegawai klub yang memang tugasnya adalah menemani pelatih dan pemain baru.
“Jadi anda adalah pemain baru klub ini?” tanyanya heran.
“oh bukan, aku adalah pelatih baru klub”
“mana mungkin, anda masih muda. !!” ujarnya lagi
“iya memang usiaku baru 33, tapi memang aku dikontrak untuk melatih disini.”
“sulit kupercaya, tapi memang aku sudah mendengar kabar bahwa akan merekrut pelatih baru yang belum pernah melatih klub eropa. Kalau boleh tau dari mana anda berasal?”
“aku dari Indonesia, mugnkin anda tidak tahu Negara apa itu.. hahah”
“ah tentu aku tau, aku pernah berkunjung kesana. Aku berlibur ke Raja Ampat tujuh tahun silam”
“wah bahkan aku tidak pernah berkunjung kesana sebelumnya”
Setelah bersenda gurau dengannya aku, Blanco, dan Christ segera masuk apartemen. Christ memberikan banyak pengarahan mengenai apartemen kami. Intinya kami sudah resmi menghuni apartemen itu untuk 1 tahun kedepan, dan segala fasilitas tambahan akan menyusul.

Keesokan harinya kami kembali berkunjung kemarkas dan mulai berkenalan dengan pemain. Banyak diantara mereka yang sudah kukenal, karna aku sudah sering melihat mereka di televisi. Mereka memang pemain – pemain top, tapi kini mereka hanyalah pemain didikanku. Aku hanya bisa tertawa dalam hati melihat kenyataan ini.
Aku mulai memperkenalkan diri, begitupun Blanco. Beberapa pemain junior bahkan mengira Blanco – lah pelatih baru mereka.
Setelah berkenalan dengan semua jajaran klub termasuk pelatih fisik dan dokter klub kami mengadakan sedikit sesi unjuk kebolehan. Aku meminta pemain yang paling mahir untuk maju dan memamerkan kemampuannya padaku. Semua pemain berteriak memanggil – manggil nama Woods, kapten tim yang memiliki kemampuan paling lengkap. Diapun akhirnya maju dan mulai melakukan juggling dan permainan apik mirip atlet freestyle football. Dan penutupnya dia melakukan tendangan bebas dari tengah lapangan.
“Mr. Ben lihatlah bola ini tidak akan pernah masuk kegawang.” Katanya dengan senyum lebar.
“tentu saja, itu sangat sulit dilakukan dari jarak sejauh itu.” Ujarku sambil tertawa kecil.
Bolapun ditendang dengan sekuat tenaga.. dan yang terjadi adalah…. Bola mengenai mistar gawang dan memantul keluar lapangan. Kemudian dia melakukan tendangan yang kedua dan hasilnya juga sama, begitupun untuk bola ketiga. Seluruh pemainpun bergemuruh kagum melihat apa yang dilakukan kaptennya itu. Aku makin tertarik dengan pemain ini, akupun tak heran bila musim lalu dia mencetak 18 gol dan semuanya dari hasil tendangan bebas.
Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s