Kremasi

Beberapa hari lalu aku menonton film berjudul “Shaolin”. Sebuah film yang mengisahkan perebutan wilayah dan pengkhianatan yang berujung pada pertumpahan darah yang nyaris sia – sia.
Namun bukan seluruh isi film itu yang ingin aku bahas, aku hanya ingin membahas salah satu bagian ketika seorang anak panglima perang tewas setelah terjatuh dari jurang, kemudian mayatnya dikremasi.
Dan itulah yang kali ini ingin aku bahas, Kremasi. Meskipun aku tidak tau secara detil makna dari kremasi itu sendiri tapi aku memiliki pendapat tersendiri mengenai kremasi.
Kremasi atau dalam bahasa sederhananya “membakar jasad mati” banyak dilakukan oleh penganut beberapa agama, misalnya Hindu dan Budha. Setelah dilaksanakan upacara pembakaran mayat selanjutnya abu akan ditempatkan dalam sebuah kendi kecil yang kemudian oleh beberapa orang ada yang disimpan didalam rumah ada pula yang dihanyutkan disungai.
Banyak dari kita memandang kremasi sebagai hal yang kejam. menyeramkan, aneh atau bahkan tidak manusiawi. Namun bila saja dilihat dari perspektif kepercayaan dan keyakinan penganut agama seperti Hindu dan budha nampaknya kita akan paham atau setidaknya sedikit tahu dan memaklumi.
Saya yang bukanlah umat yang menganut agama Hindu atau Budha memiliki pandangan lain mengenai kremasi. Saya memandang kremasi sebagai bentuk cinta terhadap orang yang sudah meninggal. Pada hakekatnya tiap kepergian selalau menyisahkan perasaan sedih, bahkan tak jarang malah menimbulkan rasa ketakutan pada orang yang ditinggalkan, takut yang dimaksud adalah kekhawatiran untuk menjalani hidup tanpa orang yang sudah meninggal tersebut.
Terlepas dari ajaran agama manapun saya menyikapi kremasi dengan perspektif logika dan perasaan. Berikut ini saya coba menyimpulkan apa yang menjadi hakikat kremasi itu sendiri. Buat saya kremasi adalah cara paling jitu untuk “Mengurangi frekuensi kesedihan”
Sering kali orang terus mengenang orang yang disayanginya (yang telah meninggal ) dalam kurun waktu yang cukup lama, biasanya untuk menghapus rindunya mereka pergi ke makam dan menangis disana dan terus menerus diulang berkali – kali yang artinya akan sering terjadi suasana sedih dan haru. Hal ini tentu tidak akan terjadi pada jasad yang dikremasi, setidaknya frekuensinya tak akan sebanyak pada kasus jasad yang dimakamkan.
Saat kita bersedih karena hal itu artinya kita sudah melegitimasi diri bahwa “saya rindu dia” , yang berarti kita belum seutuhnya ikhlas. Karena bagaimanapun juga ketika kita sudah memutuskan ikhlas artinya kita sudah sepenuhnya menyerahkan “dia” kepada Tuhan yang jelas – jelas cintanya pasti lebih besar daripada kita. Bukankah semua menjadi lebih indah ketika kita berada dalam posisi ikhlas. Ikhlas bukan berarti tidak memikirkan atau tidak peduli. Ikhlas adalah kondisi dimana kita seutuhnya berserah pada kehendak Tuhan, percaya pada tiap keputusan Tuhan.
Ingat masih banyak orang didunia ini yang juga membutuhkan kita dan butuh perhatian kita. Dan bukankah kita hidup hari ini untuk mempersiapkan masa depan ? Jadi memang seharusnya kita memprioritaskan masa depan dari pada sibuk mengenang masa lalu.
Cukup panjang pemaparan diatas, mungkin anda yang sedanga membacanya malah jadi jenuh dan bertanya tentang arah tulisan ini. Secara jujur saya akan mengatakan bahwa ketika tiba waktunya maka saya ingin dikremasi.
Mungkin terdengar tabu, tapi itulah yang saya rasa perlu dilakukan. Dibanyak tulisan saya, saya selalu mengatakan bahwa cita – cita tertinggi saya adalah “mati dikenang”. Dalam hal ini mungkin agak rumit mendeskripsikannya, tapi pada intinya adalah saya tidak ingin menjadi pemicu kesedihan. Saya mungkin akan lebih bahagia bila orang – orang mengenang saya daripada menangisi. Meskipun saya sudah tidak lagi merasa bahagia ataupun sedih.
Untuk dikenang menurut saya kita harus menyediakan waktu – waktu berkulitas pada banyak orang. Dan salah satu caranya adalah dengan meninggalkan catatan – catatan perjalanan hidup. Beruntung buat saya karena saya sudah, sedang dan akan melakukan itu. Pepatah China kuno pernah menyebutkan, “jika anda ingin mengenal dunia maka anda harus membaca. Bila anda ingin dunia mengenal anda maka anda harus menulis.” Kalimat yang sangat sederhana untuk dipahami.
Seberapapun catatan yang kita tulis sebenarnya sudah memberikan petunjuk pada dunia mengenai siapa kita. Tidak perlu berkhayal seluruh dunia tahu siapa kita, yang penting adalah tiap orang yang membaca akan belajar dari kita walaupun sedikit. Ini juga sebagai bentuk kita mengahrgai diri sendiri.
Dari banyak orang ternama yang sangat dikenang mungkin hanya ada satu orang yang selama hidupnya tidak meninggalkan catatan namun tetap dikenang, orang itu adalah Socrates. Saya rasa dialah orang yang layak dikenal dan dikenang tanpa harus meninggalkan catatannya sendiri. Karena dia justru membuat orang lain mencatat tentang dirinya, akan kearifan pola pikirnya yang bijak dan membangkitkan gairah belajar bagi siapapun yang ditemuinya. Dan saya rasa dijaman seperti sekarang hal itu musatahil terjadi lagi.
Apakah saya orang yang haus akan ketenaran ?
Saya rasa jawabannya adalah tidak, saya cenderung banyak melakukan pemikiran – pemikiran kontradiktif yang tidak populer dimata orang kebanyakan, jadi akan sulit bagi saya untuk mencapai kepopuleran jika itu yang saya tuju.
Lewat tulisan ini saya ingin pembaca menyampaikan hal ini kepada keluarga saya bila waktunya tiba nanti. Ya boleh dibilang ini semacam surat permintaan terakhir.
Semua bahasan makin tercampur aduk dan mulai tidak berarah.. mohon maaf bila kalimat yang saya gunakan tidak berkenan dihati pembaca. Sekali lagi ini hanyalah opini, tak berteori dan berstruktur.

2 responses

  1. Saya suka cara pikir anda walaupun tidak berarah & intinya simple tp lugas & bebas. Sungguh pemikiran yg kontradiktif namun bermakna. Awalnya saya memang berpikir untuk kremasi jika tiba waktunya, namun suami saat dengar hal itu terlihat tidak setuju & saya tidak bisa memaparkan alasan2 pribadi mengapa saya memilih kremasi sampai akhirnya setelah saya baca wacana anda ini. Terima kasih teman.🙂 GBU~ @lyndlin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s