Tuhan, Ada berapa ?

Tuhan Yesus Kristus, pagi ini aku melaksanakan rutinitasku seperti kehendak-Mu. Menempuh perjalanan jauh dengan motor tua bermerek Honda itu. Sesekali aku dibuat emosi oleh pengguna jalan lainnya, tapi aku sudah biasa dengan itu. Cukup membuka helm dan menatap matanya maka masalah itu selesai.

Sampai dikampus aku sendiri dikelas itu, tidak ada orang lain selama setengah jam lebih. Bahkan ruang kelas itu menjadi sangat dingin karena hanya aku yang menikmati penyejuk ruangan itu. Kau tau Tuhan aku tidak suka dingin, dalam hitungan menit badanku akan panas dan menggigil. Tapi itu bukan masalah, cukup kupakai jaketku lalu kukatupkan kedua tanganku maka semua akan kembali normal lagi.

Lalu saat belajar aku mulai kebingungan dengan materi yang diberikan dosen. Tuhan, Kau tahu aku benci saat aku tidak bisa memahami pelajaran, rasanya percuma aku jauh – jauh kekampus tapi aku tidak mendapat ilmu apapun. Tapi itu bukan masalah, cukup kuangakat tangan dan kumulai bertanya pada dosen maka semua akan lebih jelas.

Istirahat makan siang tiba, aku sudah lapar sejak malam kemarin. Tubuhkupun sesekali terasa gemetar karena laparnya. Tuhan kau tau saat aku lapar maka aku akan mulai lupa dan cuek dengan banyak hal, termasuk pengamen yang menyanyi merdu sekalipun. siang ini setidaknya ada 2 pengamen yang kuacuhkan. Tapi itu bukan masalah besar, cukup kukeluarkan lembaran uangku maka sepiring nasi akan menghapus laparku.

Kembali diruang kelas, aku mulai kedinginan lagi rasanya badanku mulai kaku dan suhu tubuh meningkat lagi. Kau tau Tuhan aku tidak suka ini, ya Kau tau. Tapi itu bukan masalah karena ada banyak tawa diruang itu yang menghangatkan tubuhku kembali.

Pulang dari kampus aku dan salah seorang sahabatku, Seto pergi mencari kost”an untuk kami berdua. Hujan rintik – rintik membasahi tubuh kami. sesekali air hujan itu meluncur tajam kemataku. Kau tau Tuhan aku bisa saja celaka saat dalam keadaan seperti itu, bahkam Seto bisa saja ikut celaka. Tapi itu bukan masalah karena cukup dengan menutup penuh kaca helm maka kami berdua lebih aman.

Lalu perjalanan pulang menuju rumah, sore itu jalanan macet sekali. Ketidaktertiban menambah kemacetan, bahkan suara berisik knalpot motor – motor besar makin membuat suasana tambah riuh. Tuhan Kau tahu aku tidak suka menembus jalan macet karena sangat memusingkan bahkan kecelakaan bisa saja terjadi. Tapi itu bukan masalah karena aku cukup menepi dijalan sampai macet berkurang maka kesalkupun hilang.

Sekarang aku dirumah, kepala pusing, suhu badan meningkat, selara makan turun. Kau tau Tuhan aku akan sakit bila begini terus sedangkan aku tetap mau beribadah pusa dan pantang. Tapi itu bukan masalah, karena cukup bagiku untuk tidur maka semua akan membaik saat aku bangun.

Lihatlah Tuhan dalam sehari saja begitu banyak hal – hal yang hampir menjadi masalah buatku. Tapi sesungguhnya aku mau bertanya pada-Mu. Tuhan, ada berapa pertolongan dari-Mu selama ini sampai – sampai aku selalu bisa membuat semuanya menjadi bukan masalah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s