No repress anymore

16 April 2012
Hari ini kelas kami, 3 PA 01, mendapat kesempatan sangat berharga bisa belajar diluar kurikulum perkuliahan. Sebenarnya hari ini adalah jadwal kuliah biasa, tapi tadi di jam kuliah psikologi eksperimen yang diajarkan oleh Pak Prof. Hendro Prabowo, aku dengan sengaja menanyakan masalah kuesioner yang minggu sebelumnya diminta Pak Hendro untuk diisi.

Isi dari kuesioner itu adalah mengenai identitas dan penilaian diri. Di kuesioner itu itu kami diminta menceritakan diri kami masing – masing, serta kami juga diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui gaya belajar, untuk yang satu ini kami sudah membahasnya dikelas minggu lalu.

Pak Hendro adalah salah satu dosen favoritku, ada banyak hal yang membuatnya berbeda dengan dosen lainnya. Beliau merupakan salah satu psikolog yang mengikuti aliran psikolog positif, dimana manusia dipandang dari sisi potensi diri, bukan sisi patologisnya. Beliau menanamkan pada kami bahwa psikologi adalah ilmu yang seharusnya mengarahkan kami untuk melihat kedalam diri, bukan sekedar menjadi penilai orang lain.

Setelah membahas masalah kuesioner itu Pak Hendro awalnya ingin melanjutkan materi perkuliahan, tapi Pak Hendro melihat kami sangat ingin membahas lebih lanjut mengenai follow up dari kuesioner itu, lalu setelah itu beliau menawarkan kami untuk belajar menilai diri sendiri dengan cara meminta ke pada kami untuk bercerita mengenai diri sendiri. Seto, Ade, Icha, Tika, mendapatkan kesempatan diawal untuk mulai menceritakan tentang diri mereka masing – masing. Banyak hal – hal yang tidak kami tau sebelumnya dari mereka yang kemudian kami tau setelah mendengarnya langsung dari mereka. Sebuah kejujuran yang sepertinya sangat sulit untuk di gali, maka Pak Hendro selalu memberikan apresiasi dengan tepuk tangan yang kemudian dikuti seluruh penghuni kelas.

Kemudian giliran selanjutnya adalah salah satu sahabatku si Maizar atau yang biasa disapa Bejong. Sebenernya aku sangat berharap beberapa orang dikelas ini tidak mendapat giliran menceritakan dirinya, dan salah satunya adalah Bejong. Kenapa aku berharap demikian? karena aku yakin akan ada tangisan dari mereka kalau harus cerita tentang diri mereka terutama latar belakang dan keluarga. Begitu Bejong dapet giliran dia sempat ngucapin kalimat yang seolah bercanda, “Kalo nanti nangis gimana Pak ?” , penghuni kelaspun tertawa. Dan benar saja, baru dua kalimat yang dia ucapkan dia sudah tidak bisa menahan air matanya yang sejak tadi minta ditumpahkan si empu-nya.

Aku sebenarnya sudah tau hal – hal yang diceritakan Bejong, tapi tetap saja air mata ini tidak bisa ditahan. Tentu bukan salah kami terlahir sebagai pria bila kami harus meneteskan air mata. Sebuah bentuk empati – simpati yang alamiah dirasakan hampir seluruh penghuni kelas, terutama yang memiliki kemiripan cerita misalnya Uti, yang ikut larut dalam suasana haru dikelas karena banyak hal yang dialami Bejong juga dialami Uti. Boleh dibilang aku cukup dekat dengan Uti, tapi belum pernah aku tau cerita – cerita yang diucapkan Uti, rasa – rasanya hari ini kami semua diberi kebebasan untuk mengekspresikan apa yang kami pendam. Tidak ada beban saat mereka mulai bercerita, mereka mempercayakan semua cerita itu kepada kami, tanpa rasa takut ataupun malu.

Setelah Uti bercerita tentang kondisi dirinya dan keluarganya, Pak Hendro menghentikan sesi itu. Entahlah, mungkin karena beliau tidak ingin seluruh penghuni kelas terlalu larut dalam nuansa yang semakin haru. Yang jelas aku pribadi setuju dengan hal yang dilakukan Pak Hendro. Kemudian Pak Hendro mengajak kami untuk masuk ke sesi lain, dimana kami akan menyelami alam bawah sadar kami masing – masing.

Sesi kali ini dibagi kedalam tiga bagian, secara bertahap kami diminta untuk mengenali diri kami masing – masing, berbicara pada jantung, merasakan aliran nafas, mengamati respon tubuh kami. Kemudian kami diminta mengamati dan memerankan sub kepribadian diri kami masing – masing. Disinilah aku mulai merasa seperti terjun bebas dari jurang yang sangat tinggi, bahkan aku tak pernah menyentuh dasarnya, aku hanya merasakan sensasi terjatuhnya tanpa merasakan sakitnya. Aku yang memiliki sub kepribadian sebagai seorang pemikir seolah ditegur oleh otak. Dia berbicara dalam bahasa yang sederhana dan mudah kupahami, “Kamu egois, kamu paksa aku terus bekerja, tapi ya sudahlah.. pakailah aku sebaik mungkin, karena kamu sudah mengeksploitasi aku”. Mungkin kedengarannya aneh tapi itulah yang terjadi, otakku mengeluh. Aku merasa bersalah sekali setelahnya, bagaimanapun juga aku sudah terlalu banyak memaksa otak untuk berpikir. Sebagai contoh adalah ketika aku kuliah, hampir setiap kali dosen ataupun teman berbicara aku hampir selalu memikirkan apa yang diucapkan, bahkan hal – hal yang kurang penting juga kadang sempat terproses diotak. Ya itulah kegoisanku, demi terlihat baik ataupun pintar aku memaksakan otak untuk terus berpikir, bahkan saat sedang bersenang – senang. Lalu kapan otakku istirahat ? mungkin itulah maksud yang dikeluhkan otakku.

Disaat bersamaan salah seorang temanku, Kiki, yang kebetulan duduk disebelahku kembali menangis, kalau tadi dia menangis karena cerita – cerita teman lainnya, kali ini dia menangis karena dia berhasil menemukan apa yang dikeluhkannya. Dia sempat bercerita bahwa dia merasa dibebani tanggung jawab yang terlalu berat, dia tak mau takdirnya sebagai anak tertua membuatnya harus kekurangan kasih sayang, dan banyak lagi cerita lainnya yang dia kuak sendiri dihadapan Pak Hendro.

Hari ini kami belajar banyak, kami semakin disadarkan bahwa tak ada manusia yang sempurna, bahkan tak ada satupun manusia yang tak memiliki masalah. Perbedaan kami hanyalah seberepa baik kami dalam menerima diri kami masing – masing. Semua tinggal bagaimana menyikapinya dan bertanggung jawab atas diri masing – masing.

Terima kasih Pak Hendro, terima kasih 3 PA 01 aku bangga memiliki kalian..

Warm Regard
Usber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s