TIDUNG

Ini cerita kami, Sahabat Sebenarnya (SS)

Liburan semester ini SS udah nyiapin waktu untuk jalan-jalan ke beberapa tujuan tempat wisata, tapi pada akhirnya Pulau Tidung jadi pilihan. Pertimbangan jarak dan biaya jadi prioritas hahaha..
Sayang ga semua personil SS bisa ikut (walau ga tau siapa aja personilnya), terutama Seto yang dihari-hari terakhir sebelum keberangkatan kena gejala tipes. Padahal dari semua yang udah siap untuk berangkat, dia adalah yang paling niat. Permintaan Seto selama gw di Pulau Tidung adalah supaya gw foto-foto konyol temen-temen.

Rencana awalnya adalah kami semua berangkat barengan dari stasiun Pocin menuju stasiun Kota. Tapi karena kendala jarak rumah yang berjauhan akhirnya kita semua langsung menuju stasiun Kota secara terpisah. Bejong, Vini, Tante, Oyes, Pangpang dan Tuti dari Pocin. Gw dari Tangerang, Wulan dari Jelambar, sedangkan Fani dari Tebet langsung dianterin Papa-Mamanya pake mobil keluarganya.
Pagi itu sekitar jam 5.10 gw jadi penumpang pertama Bus Transjakarta di halte Blok M. Dengan perkiraan lama perjalanan sekitar 20 menitan karena memang jalan belum macet. Tapi sayangnya meeset 10 menit hehe.. gw pun sampe di stasiun kereta Kota jam 5.40 , disana udah kumpul temen-temen, kecuali Fani. Mereka semua lagi sarapan makanan yg dijual disekitar tempat itu.

Setelah sarapan kita nyarter angkot menuju Muara Angke. Setelah tawar menawar harga sewa angkot itu adalah 65 ribu. Walaupun banyak orang bilang harga sewa angkot disitu harusnya lebih murah dari itu tapi kami ga mau ambil pusing, karna udah ga sabar mau sampe Tidung !! hehehe..

Kitapun turun di pelabuhan sekaligus pasar ikan Muara Angke, tepatnya di POM bensin Muara Angke. Sembari nunggu Fani yang masih di jalan kami masih sempet bercanda-canda dengan mengobservasi kelucuan di sekitar tempat itu. Misalnya tukan ojek yang kami bayangkan sebagai Fani, ataupun bapak-bapak berbaju merah yang kami bayangkan sebagai pelawak. Dan bahkan kami masih sempat berimajinasi seandainya Papa Fani datang nanti, beliau akan ngikutin sambil melambaikan tangan kami sampai kapal kami pergi dan itu beliau lakukan sambil berenang di laut.. hihihi

Setelah Fani datang kami berpamitan dengan Papa dan Mama Fani…
Sejujurnya Pelabuhan Muara Angke sangatlah bau dan jorok, tapi apa mau dikata itu kan pasar tradisional yang udah khas banget🙂

Kapal kamipun berangkat tepat jam 7.30 pagi. Pagi itu kapal kami lumayan penuh tapi masih wajar, jadi kami masih bisa narsis dengan foto-foto sok oke kami haha. Gw, Pangpang, Bejong, Tuti dan Vinni duduk diluar untuk menikmati pemandangn laut yang masih di selimutin segarnya pagi hari. Sepanjang mata memandang banyak kapal-kapal kecil yang diatasnya ada nelayan yang menjala ikan ataupun hanya memancing ikan dengan alat sederhana.

On boot

On boot


enjoy the trip

enjoy the trip


Menurut Bejong perjalanan dengan kapal menuju Pulau Tidung butuh waktu 1 jam 45 menit. Beberapa temenpun satu persatu berguguran dan tertidur karna jenuh dan ngantuk. Sedangkan gw selama perjalanan ga tertidur, karna suara kapal itu cukup mengganggu. Entahlah mungkin karena gw adalah orang auditori jadi tiap ada suara-suara yang “beda” dari biasanya pasti gw akan ngikutin ritmenya dan merangkai nadanya dalam imajinasi, jadi susah untuk tidur hehehe..
Tuti - Wulan - Bejong tidur

Tuti – Wulan – Bejong tidur

Warna air laut di sekitar Muara Angke cukup mengecewakan, karna sangat hijau kecoklatan yang menandakan air itu kotor. Bahkan pulau wisata terdekat yaitu Pulau Bidadari airnyapun masih hijau dan kotor. Barulah setelah satu jam perjalanan air mulai terlihat biru dan bersih, matapun enak ngeliatnya🙂 , sampai akhirnya kami tiba di dermaga Pulau Tidung airnya makin bersih dan kami bisa melihat karang dari atas kapal.

Begitu menginjakkan kaki kami di Pulau Tidung kami disambut gapura bertuliskan “Tidung – Keep it Clean”.

Gapura Tidung

Gapura Tidung

Bersamaan dengan itu, Oyes menelepon guide kami selama di Pulau Tidung. Namanya Mas Kodel, orangnya sangat bersahabat, murah senyum dan on time. Penampilannya khas anak pantai, dengan perawakan kurus
berwajah cokelat dan berambut agak kuning karena matahari.

Kami sangat beruntung karena agen travel yang kami pilih menyediakan fasilitas yang baik, dengan penginapan dan alat-alat yang masih tergolong baru. Bahkan kami disediakan sepeda yang pelastik pembungkusnya masih melekat di beberapa bagian. Sepeda ini adalah kendaraan yang disediakan untuk kami selama berada di Pulau Tidung.

homestay

homestay

homestay rev

homestay rev

homestay

homestay

Begitu sampai di penginapan kami sudah disediakan makan siang. Beberapa dari kami langsung makan dan sebagian lagi lebih memilih nonton gosip hahaha.. lalu setelahnya kami bersiap menuju kapal yang akan membawa kami untuk ber-snorkling di pulau lain. Nah inilah pertama kalinya kami memakai sepeda imut bertuliskan nama “Soleha” di bagian keranjang depannya.

Sepeda Soleha

Sepeda Soleha


Lagi-lagi kami beruntung karna kami dilayani oleh seorang pengendali air (re: nelayan) yang baik dan murah senyum bahkan sering ikut tertawa bersama kami. Yang mengejutkan dalam perjalanan menuju tempat snorkling ini adalah jarak tempuh yang sangat jauh. Hampir satu jam kami baru sampai di lokasi tersebut, bahkan kami sempat terkena ombak-ombak kecil yang cukup mengagetkan. Terutama untuk teman kami Tante (Ria) yang ga bisa berenang, maka dari itu diapun sudah memakai safety vest walaupun belom sampe lokasi snorkling. Hihihi..

Pulau pertama yang kami kunjungi untuk tempat snorkling adalah Pulau Aer (Air). Kami semua tanpa berlama-lama langsung menyiapkan perlengkapan snorkling itu, tapi payahnya ga ada satupun yang berani nyebur duluan hahaha.. akhirnya gw lah yang pertama kali memberanikan diri untuk nyebur dan ngeliat kondisi di dalem laut itu. DAN GW PUN DIKEJUTKAN DENGAN IKAN-IKAN DAN KARANG YANG BESAR !!! gw pun sempat ngeri ngeliatnya.. karna laut itu keliatan dalem banget. Tapi ternyata itu semua hanya tipuan kaca mata doank !!! hahaha.. kaca mata snorkling yang gw kami pake ternyata ngebikin semuanya jadi lebih besar. Gw baru sadar pas tangan gw nyoba untuk megang ikan-ikan itu, ternyata ikan itu lebih kecil dari ukuran tangan gw. Seiringan itu mulailah temen-temen turun, kecuali Bejong yang sengaja turun belakangan karna mau ngambil foto-foto kita terlebih dulu.

Snorkling

Snorkling

Snorkling

Snorkling


Diantara kami semua, Fani dan Bejong adalah yang paling lancar berenangnya. Mereka berdua sama sekali ga pake pelampung. Sementara itu gw yang bisa berenang sedikit-sedikit malah panik tiap kali ngelepas pelampung. Hahaha..
Agung Hercules

Agung Hercules

Berbeda dengan paket travel lain yang mengenakan tarif tambahan untuk foto underwater, kami dapet fasilitas foto underwater gratis. Dan hasilnyapun cukup memuaskan🙂

Setelah puas dengan tempat snorkling di arean Pulau Aer kamipun di ajak menuju Pulau Payung sebagai destinasi snorkling selanjutnya. Ada pemandangan indah sesaat kapal akan dinyalakan kembali. Ada beberapa lumba-lumba yang melintas di dekat kapal kami. Ini adalah pertama kamlinya gw ngeliat langsung ikan lumba-lumba dari jarak sedekat itu di laut.🙂

Di Pulau Payung ada perbedaan yang cukup mencolok, yaitu kalo di Pulau Aer kita disuguhin dengan pemandangna ikan yang beragam sedangkan di Pulau Payung kita di manjakan dengan terumbu karang yang besar dan berwarna-warni, bahkan kami masih bisa berdiri diatas karang yang besar didalam air saking kokohnya karang itu, tentunya setelah bertanya pada guide kami.

underwater

underwater

underwater

underwater

me and Vinni underwater

me and Vinni underwater

Tuti underwater

Tuti underwater


Setelah puas dengan ber-snorkling ria ternyata perut kami mulai lapar, kamipun menuju spot paling terkenal di Pulau Tidung yaitu Jembatan Cinta, bukan untuk bermain wahana air atau berfoto-foto di sana.. KAMI HANYA LAPAAAAAAAAAAAAAAAARRRRR hahaha.. oh iya makanan disini harganya cukup terjangkau, mirip dengan harga makanan di sekitar kampus.

Setelah selesai makan kami langsung pulang menuju dermaga awal kami berangakt snorkling tadi, lalu menuju penginapan…

Setelah mandi dan makan malam kami menuju Jembatan Cinta untuk berfoto di sana di malam hari. Kami berangkat dengan sepeda imut dipandu Mas Kodel. Walau kami berjumlah sembilan orang tapi kami hanya memakai delapan sepeda karena si Wulan ga bisa naik sepeda hahaha.. tugas memboceng di serahkan kepada Bejong, sedangkan gw selama perjalanan berada di barisan paling belakang supaya temen-temen yg perempuan terproteksi dengan baik (halah bahasa apa ini??)

Ditengah perjalanan Wulan mulai merasa ada yang aneh, tapi Bejong ga terlalu menggubris. Sampai akhirnya Mas Kodel berenti di tengah jalan, kamipun semua berenti karena bingung. Ternyata menurut Mas Kodel baru saja ada kuntilanak yang lewat di hadapannya. Maka Mas Kodel berdoa dan meminta izin untuk lewat mengantarkan kami. Gw yang ngeliat Mas Kodel begitu cuma bisa diem karna takutnya si Kuntilanak itu tersinggung sama kami. Ya gw memang percaya dengan adanya makhluk gaib tapi ngga sampe jadi takut yang kayak orang-orang lain. Hehehe..

Gara-gara kejadian itu kita semua jadi sangat hati-hati di sana, karna kita ga pernah tau apa yang akan terjadi. Bahkan waktu foto-foto di sekitar Jembatan Cinta gw sesekali ngeliat ke berbagai arah, karna penasaran dengan keberadaan Kuntilanak itu. Begitupun pas perjalanan pulang, berhubung gw ada dibarisan paling belakang jadi gw sering nengok kebelakang cuma buat mastiin gw ga lagi diikutin Kunti hahaha…
Sesampainya dipenginapan topik Kunti masih jadi obrolan yang hangat. Sejujurnya gw ga takut, tapi karna mereka pada berekspresi takut gw jadi ikut-ikutan kayak takut.. ah elah dasar manusia masih aja konformitas hahha..

Night capture

Night capture

Setelah suasana mulai mengendur, beberapa dari kami ada yang mulai tertidur, sedangkan sisanya malah asik nonton tv. Nah yang nonton tv ini nih yang pada gila-gila !! hahaha.. tontonannya adalah Trans 7.

Oh iya gw ini kan orangnya sensitif banget sama suara, nah pas sekitar jam 3an tiba-tiba ada suara lagu Chritina Perry.. “Heart beat fast coluor…..”
Tadinya gw pikir ada salah satu diantara kami yang ngegalau terus nyetel lagu itu. Gw langsung ngecek kamar mereka satu-persatu.. kan ga enak aja kalau ada temen galau malah didiemin.. ternyata pas gw cek, ga ada satupun yang bangun. Mereka semua tidur pules.. (hiiii horor)
Ternyata pas gw telisik lebih lanjut ada hape yg kedap-kedip di samping tv. Dan ternyata itu adalah alarm hp Bejong !#%^%&%$@^^%$$^^*(&&^%%$!!
Ya kali alarm bunyinya lagu galau ???????? hahha ada-ada aja…

Lanjut lagi…

Walaupun alarm udah berkoar-koar tapi belom ada satupun yang bangun, padahal niatnya kami mau liat sunrise. Sementara itu gw udah ga bisa tidur lagi. Nah daripada bengong, gw pun berak, tapi emang dasarnya kaga mules-mules amat yaudah gw jongkok aja di wc sambil berharap ada “benda” yang keluar. Tapi sialnya gw malah ketiduran.. dan bangunnya pas ada suara dari surau yang bersebelahan sama pengnapan kami. Pas udah selesai berak gw tiduran lagi sambil nunggu temen yang lain bangun..

Lalu ga berapa lama setelah mulai rebahan lagi, terdengarlah suara dari Masjid yang mengumumkan waktu sholat subuh, “Waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh.. waktu sholat shubuh adalah pukul empat lewat empat tiga. Ayo bangun.. ayo bangun..” begitulah kira-kira kalimat yang terdengar dari Masjid. Ternyata di Pulau Tidung memang begitulah kulturnya. Masyarakat Pulau Tidung sangat taat pada aturan agama. Kebetulan masyarakat disini seratus persen (100%) beragama Islam. Salah satu bukti nyata masyarakat disini sangat taat adalah warung di depan penginapan kami yang selalu tutup disetiap jam sholat. Oh iya selain taat, warga Pulau Tidung sangat santun dan sangat mengutamakan kepuasan pengunjung. Beberapa hal yang bisa dilihat adalah ; pertama tiap kali kita lewat naik sepeda ngelewatin jalan warga maka warga disekitar itu akan dengan senang hati menepi. Lalu kalau kita menghalangi jalan maka mereka tidak akan menekan klakson ataupun berteriak, mereka justru akan menunggu kita menengok kearah mereka dan tersenyum, otomatis kita akan mengerti maksud senyum mereka adalah untuk meminta agar kita menepi. Lalu kalau ditempat wisata lain yang udah pernah gw kunjungi, biasanya pedagan kalau menawarkan dagangannya bisa terlihat sangat memaksa, tapi di sini para pedagan akan membiarkan kita melihat dan memutuskan akan membeli atau tidak. Dan masih banyak lagi hal lain yang menunjukkan keramahan warga Pulau Tidung.

Oke lanjut lagi ke cerita kami pagi itu…
Pagi itu semua beberes dan berdandan supaya pas foto sunrise-nya bagus. Tapi gara-gara kelamaan kita jadi ga ngeliat sunrise tepat waktu, apalagi kita harus naik sepeda sekitar 10 menit dulu menuju Jembatan Cinta.
Kalau temen-temen yang lain dandanannya masih pada nyambung, beda halnya dengan gw yang malah kaga nyambung sama sekali hahaha… gw sengaja bawa doji dari rumah, gw pikir sih kalo mau eksis harus pol-polan hahaha..
Tapi setelah di foto ternyata oke juga🙂

after sunrise

after sunrise

doji with good environment

doji with good environment

with Tante Ria

with Tante Ria


Setelah matahari mulai panas kitapun balik lagi ke penginapan untuk istirahat, kebetulan beberapa dari kami ada yang masuk angin dan ga enak badan karna begadang.
fever

fever


Setelah istirahat cukup dan selesai makan siang kami balik lagi ke Jembatan Cinta. Kali ini kita mau main wahana air.
Bejong, Tuti, Vini, Pangpang, Fani dan Oyes main banana boot, sedangkan gw yang ngerekam video buat mereka. sementara itu Tante dan Wulan asik sendiri foto-foto😀
banana boot

banana boot


Tante

Tante

Tante - Wulan

Tante – Wulan


Awalnya semua berjalan lancar, tapi ada insiden kocak terjadi.. kan kalo main banana boot itu pasti nantinya diceburin ditengah laut yah.. nah ternyata setelah diceburin di tengah laut, si Tuti ga bisa naik lagi ke banana bootnya hahaha.. lamaaaaaaa banget dia naiknya sampe memory card abis buat ngerekamnya hahaha..
Akhirnya semua nolongin dia, termasuk si Bapak yang bawa kapal boot, dia berenang ngebantu yang lain buat naikin Tuti hihihi..

Setelah cekikian ga kuat nahan ketawa gara-gara ngeliat Tuti kamipun istirahat minum es kelapa..
Selanjutnya giliran kita main cano..
Dulu waktu dikampung ( di Toba ) gw pernah nyoba untuk naik cano yg terbuat dari kayu, kalo orang batak sih nyebutnya sampan. Nah gw itu ga pernah bisa naik cano, bahkan dulu hampir tenggelem di danau😀
Gw pikir kalo cano yang ada disini lebih gampang jaga keseimbangannya eh ternyata sama aja susahnya. Tapi sesusah apapun tetep aja si Bejong bisa, yah namanya juga anak pantai..

Cano

Cano

Cano

Cano

Setelah puas main cano Bejong menuju Jembatan Cinta buat loncat dari atas jembatan itu ke laut. Emang dasar anak pantai, dia sama sekali kaga takut. Gw dan Oyes pun ikutan nyoba loncat, dan kami berdua sama-sama takut haha.. tapi pada akhirnya kami berani juga, ternyata ga bahaya, malah asik banget.

Bejong - Fani "Jumping"

Bejong – Fani “Jumping”

Tuti  "Jumping"

Tuti “Jumping”

Tuti  "Jumping" byuuuurrrrr

Tuti “Jumping” byuuuurrrrr

Oyes "Jumping"

Oyes “Jumping”

 Me "Jumping"

Me “Jumping”


Ngeliat gw dan Oyes sukses terjun, si Tuti ga mau kalah.. dia ikutan loncat juga. Dan seperti yang udah di prediksi pasti airnya akan tumpah ruah hahaha.. dan yang paling kocak adalah, biasanya orang yang terjun paling lama 3 detik akan muncul ke permukaan air, eh kalo Tuti malah lebih dari 5 detik.. jangan-jangan dia sempet tembus ke dasar laut haha..
Semua orang yang ngeliat Tuti terjun langsung pada ketawa puas..

Haripun mulai gelap, kita semua udah ga diizinin lagi untuk loncat karna air laut akan surut yang artinya akan berbahaya kalo loncat dan membentur karang.
Kitapun pulang..
Pas naik sepeda menuju penginapan gw merasa ada yang aneh, terasa agak seret di pantat. Pas lagi mandi gw buka donk itu sempak, nah ternyata banyak banget pasir disempak gw. kira-kira banyaknya sekitar seperempat gula pasir hahaha..
Selesai mandi dan makan malam kami pergi barbeque-an ikan laut di tepi laut dekat dermaga kapal nelayan.
Berhubung kami semua udah makan malem, jadi rasanya kurang bergairah makan ikan bakar lagi. Selama beberapa saat ikan itu cuma jadi obejk foto-foto aja tanpa dimakan. Tapi Fani akhirnya berinisiatif untuk nyuapin kita semua supaya ikannya abis. Ah so sweet banget Fani :*

Fani - Tante

Fani – Tante

Jamban

Jamban

Disuapin Fani

Disuapin Fani

Suir- suir ikan

Suir- suir ikan


Oh iya di pulau ini banyaaaaaakkk banget kucing, dan kebetulan gw ini cepet banget bisa akrab sama kucing. Bahkan udah beberapa yang gw kasih nama sesuka hati gw haha..
with Buluk the cat

with Buluk the cat

with Mario Teguh the cat

with Mario Teguh the cat

Mario Maurer the sleepy cat by wulan side

Mario Maurer the sleepy cat by wulan side

Setelah itu kami pulang dan beristirahat untuk persiapan pulang besok paginya🙂

@weare_SS

@weare_SS


Thanks Tidung.. you give us something that unforgotable🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s