Pak Kartono, Sederhana Tapi Istimewa

Namanya Kartono, nama yang sederhana yang saya sendiri belum tau artinya. Saya pertama kali mengenal beliau pada tahun 2004. Ketika itu beliau bertugas sebagai salah satu panitia penerimaan siswa baru di SMAN 32 Jakarta.

Di SMAN 32 Jakarta Pak Kartono adalah seorang guru olah raga. Awalnya saya tidak percaya, karena postur tubuh beliau yang sama pendeknya dengan saya. Sampai akhirnya kami bertemu dilapangan basket untuk pertama kalinya sebagai guru dan murid.

Menjadi seorang guru olah raga tentunya akan sangat sulit untuk menghafal nama-nama murid, tapi beda halnya dengan beliau. Hanya butuh tiga pertemuan beliau sudah mengenal semua nama murid dikelas. Pak Kartono hampir tidak pernah memanggil kami tanpa nama. Saya sangat senang kalau nama saya dipanggil, karena jarang ada orang yang bisa dengan mudah mengingat nama saya yang langka ini. “Usber, sekarang giliran kamu yang chest pass…”

Karena hal itulah akhirnya beliau sangat disenangi oleh semua muridnya. Apalagi perawakan beliau yang hampir selalu terlihat tersenyum. Mudah sekali mendapatkan canda dan tawa dari Pak Kartono. Cukup dengan bertanya apa saja maka beliau akan menjawab dengan diselipi candaan.
Selain mengajar olah raga beliau juga mengajar di ekskul bridge. Bridge adalah olah raga otak yang menggunakan kartu. Kami berlatih dua kali dalam seminggu. Disinilah hubungan kami makin akrab dan penuh emosional.

Baru enam kali latihan Pak Kartono sudah mempercayakan saya untuk ikut kerjurnas bridge siswa. Tentunya bukan saya saja, semua siswa di ekskul bridge diajaknya yang totalnya ada 24 orang. Mungkin kalau dilihat dari jumlahnya itu merupakan pemborosan tapi bukan itu ternyata yang beliau lihat. Pak Kartono memberikan kesempatan kepada kami semua agar memiliki pengalaman bertanding sebagai bekal kedepannya, bahkan saat itu saya hanya berada di peringkat kedua terbawah.

Pak Kartono tidak pernah meragukan kami untuk terus maju, kami semua dididiknya menjadi atlit yang lebih baik dari hari-keharinya. Demi mengasah kemampuan kami beliau rela kehilangan hari minggu bersama keluarganya dan menggantikannya dengan mengadakan latih tanding antar sesama kami (muridnya) tiap menjelang turnamen besar. Meskipun ini merupakan latih tanding biasa namun kami tak pernah sepi peserta. Semangat beliau ternyata sukses masuk kedalam diri kami semua.

Saya dan partner, Suhaili, sering kali mewakili sekolah untuk kejuaraan bridge pelajar. Diturnamen-turnamen awal yang kami ikuti, kami kerap berada diperingkat bawah. Tapi berkat kepercayaan dan dukungan moral dari Pak Kartono, kami perlahan bisa meraih prestasi, sampai akhirnya bisa merasakan juara nasional pelajar pada tahun 2006.

Beliau sangat mengenal murid-murid yang ia didik, dia bisa menempatkan diri dengan tepat saat menghadapi tiap muridnya. Misalnya saja saat menghadapi saya yang cenderung banyak omong dan kurang serius. Pak Kartono akan berbicara dengan bahasanya yang sangat nyeleneh untuk ukuran seorang guru. Misalnya dengan berkata, “Yah ebrek (asal) banget kamu mainnya, hehehe..” sedangkan saat menghadapi murid yang pendiam beliau akan menggunakan penyampaian yang berbeda, “harusnya kamu gak main begitu..”, tapi ada kesamaan yang beliau lakukan ke semua muridnya, yaitu beliau tidak akan marah pada kami secara langsung tiap kali kami melakukan kesalahan besar. Beliau lebih memilih diam sampai kami menyadari kesalahan kami masing-masing. Jujur saja saya paling takut kalau beliau sudah diam. Rasanya lebih baik di tegur atau dihukum daripada melihat beliau diam. Begitulah cara beliau membuat kami nyaman sekaligus segan dengannya.

Lulus dari SMA tidak membuat kami putus hubungan. Sesekali saya datang kesekolah untuk sekedar menularkan ilmu bridge ke junior. Sesekali saya juga mendampingi junior saat lomba, sama seperti yang dilakukan Pak Kartono pada saya dulu.

Pada tahun 2008 Pak Kartono ditunjuk oleh PB GABSI menjadi ofisial pelatih. Sementara itu saya dan Suhaili ditunjuk sebagai timnas bridge U-21 untuk turnamen World Minds Sport Games di Beijing – Cina. Event ini setara denan Olympic Games, namun ini khusus olah raga otak.

Ada cerita menarik disana ketika kami akan melakukan registrasi untuk semua administrasi termasuk akomodasi hotel. Pak Kartono hanya memiliki satu kata dalam namanya, hanya Kartono, sedangkan untuk data registrasi dibutuhkan nama keluarga (marga) dan nama asli. Petugas terus-menerus mendesak agar Pak Kartono untuk memberitahu marga-nya. Saya hanya bisa tertawa kecil melihat kejadian itu. Lucu sekali rasanya mengetahui fakta aturan internasional itu hehe..

Pada akhirnya Pak Kartono memiliki nama internasional yang baru, yaitu Kartono Kartono hehehe.. jadi jangan heran kalau atlit angkat besi peraih medali perak olimpiade London juga memiliki nama Tryatno Tryatno🙂

Di Beijing ada sebuah pusat perbelanjaan bernama “Silk Street”. Disaat istirahat Pak Kartono sering berkunjung ke sini bersama ofisial lainnya. Disini pelayan tokonya hampir semua berwajah ABG dengan kemampuan bahasa inggris yang lumayan. Tapi lucunya Pak Kartono bukanlah orang yang fasih berbahasa inggris, jadi beliau lebih banyak menggunakan bahasa Tarzan saat melakukan transaksi. Hahaha..Pak Kartono bilang bahwa pedagang disini “gila” semua jadi kita harus lebih “gila” dari mereka. Bukan tanpa alasan beliau berkata seperti itu, karena penjaga toko akan menwarkan harga pembuka setinggi langit. Misalnya saja sebuah kemeja yang di bandrol 760 Yuan, dengan kurs saat itu maka harga kemeja itu berkisar satu juta rupiah. Tapi oleh Pak kartono kemeja itu ditawar dengan sangat nekat. Beliau menawarnya menjadi 25 Yuan ! hahaha.. Pak Kartono bilang kita harus menganggap semua harga di toko itu seperti harga di Blok M. Dan benar saja ternyata harga sepakat mereka setelah tarik urat syaraf adalah hanya 65 Yuan (tidak sampai 10% dari harga pembuka). Dari sini saya belajar bahwa komunikasi itu sangat penting, seandainya saja Pak Kartono menolak untuk tawar-menawar dengan penjaga toko itu maka besar sekali kerugian yang akan dialami. Nice, Pak !🙂

Kami muridnya mengenal beliau sebagai orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan saking banyaknya kenalan, Pak Kartono tak pernah kehabisan cerita tentang orang yang dikenalnya. Masih jelas diingatan saya ketika sedang berada di mobil beliau menuju tempat pertandingan di Cikampek. Pak Kartono beberapa kali menunjuk arah jalan lalu berkata, “Disana ada kenalan saya tuh, orangnya… bla.. bla..bla..”, semua yang beliau ceritakan adalah orang-orang hebat dan berpengaruh. Maka dari itu kami tidak pernah bosan mendengar cerita beliau.

Oh iya selain bekerja sebagai guru olah raga, beliau juga merupakan pelatih tenis dan golf. Belakangan ini beliau sering mendampingi anak beliau, Ana Karenina, untuk ikut kejuaraan golf internasional. Pada tahun 2009 Ana mulai mengikuti turnamen tahunan Callaway Junior World Golf Championship di San Diego, Amerika Serikat dan berlanjut sampai tahun ini.

Dalam hal mendidik anak, Pak Kartono punya cara yang sangat unik. Beliau bilang ia tidak pernah memberi uang jajan kepada Ana, dengan alasan belum waktunya Ana mengenal uang. Menurut beliau kalau seorang anak mengenal uang sebelum waktunya maka akan berdampak kurang baik, misalnya saat anak ingin jajan maka si anak akan meminta uang sesuai apa yang mau dibelinya dan hal ini akan terus-menerus diulang oleh si anak. Pada akhirnya si anak akan menjadi pribadi yang boros. Untuk menyiasati itu Pak Kartono lebih memilih memberikan secara langsung barang atau makanan yang ingin dimiliki Ana.

Selain mendidik kami, beliau juga membuka peluang bagi murid-muridnya untuk melanjutkan ke universitas dengan fasilitas beasiswa di universitas yang dipilih muridnya. Sudah banyak murid beliau yang melanjutkan kuliah dengan mendapatkan beasiswa termasuk saya sendiri. Semua berkat campur tangan beliau.

Saya ingat sekali pesan dari beliau tentang bagaimana cara menjadi sukses. Beliau bilang kita harus memilih bidang yang tidak banyak pesaingnya tapi potensial, misalnya saja olah raga bridge, golf dan tenis. Di Indonesia olah raga itu gaungnya tak sebesar sepak bola ataupun bulu tangkis, maka peluang untuk masuk ke jajaran tim nasional cukup besar. Itu semua sudah beliau buktikan lewat beragam prestasinya, baik di dunia olah raga maupun bidang lainnya. Selain itu beliau juga berpesan agar kita mau berafiliasi dengan banyak kalangan, agar kita bisa menggali ilmu walau sedikit dan memperluas jaringan. Bukan tidak mungkin orang-orang tersebut suatu saat akan menjalin kerjasama dengan kita di masa mendatang.

Pribadi yang baik ditambah ketekunan merupakan teladan yang selalu diberikan Pak Kartono kepada semua orang di sekelilingnya. Kesederhanaan yang berbuah pada kesuksesan bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi juga orang disekitarnya.

Terima kasih Bapak Kartono untuk semua, salam hangat dari muridmu Usber Fransiskus Manurung.

Pak Kartono & Ana at San Diego

Pak Kartono & Ana at San Diego


Pak Kartono & Ana

Pak Kartono & Ana


Ana Karenina

Ana Karenina


Pak Kartono at Beijing

Pak Kartono at Beijing

Pak Kartono dan keluarga

Pak Kartono dan keluarga


Happy birthday Pak Kartono

Happy birthday Pak Kartono


bridge angkatan 2010 with Pak Kartono

bridge angkatan 2010 with Pak Kartono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s