Mau Golput ?

Gak terasa kita sudah dekat dengan pemilu 9 April 2014. Momen 5 tahun sekali yang sangat penting bagi kelanjutan nasib negeri ini. Membaik atau malah memburuk, semua masih sangat tergantung dari hasil pemilu ini.

Fenomena Golput

Banyak rakyat negeri ini yang sepertinya tidak memperdulikan pesta politik ini dan kemudian menjadi golongan putih alias golput alias tidak ikut pemilu. Berbagai alasan diberikan sebagai pembenaran atas tindakan itu (menjadi golput).

1. 1 suara saya tidak akan berpengaruh jika dibandingkan dengan 185 juta suara

Ada yang merasa 1 suaranya tidak akan berpengaruh pada hasil pemilu, padahal angka golput sejauh ini selalu lebih dari 30%, artinya ada sekitar 54 juta suara yang “tidak berbunyi” saat pemilu. Angka 54 juta bahkan jauh melebihi Parlementary Treshold atau ambang batas suatu partai untuk mengajukan presiden.

2. Saya tidak kenal dengan caleg yang ada

Alasan ini biasanya diutarakan oleh orang yang malas mencari informasi atau bahkan tidak mendapatkan informasi. Mereka beralasan untuk apa memilih orang yang tidak tau darimana asal – usulnya. Padahal informasi sudah bisa diakses lewat berbagai media, baik elektronik maupun cetak, jadi harusnya alasan ini sudah tidak perlu diutarakan lagi. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana dengan orang yang tinggal di pelosok yang tidak memiliki akses tersebut ? memang benar akan sangat sulit untuk memilih jika tidak ada sama sekali akses informasi semacam itu, tapi kabar baiknya kita masih punya solusi lain yaitu dengan bertanya kepada orang lain yang menyayangi kita yang lebih mengerti politik atau yang mengenal siapa caleg yang baik. Misalnya saja keluarga, pacar, sahabat atau tokoh agama yang kita kenal. Percayalah orang-orang itu tidak akan mengarahkan kita pada pilihan yang baik, atas dasar rasa sayang mereka pada kita.

3. Saya sudah beberapa kali ikut pemilu, saya tidak merasakan perubahan yg berarti

Alasan ini biasanya diutarakan oleh calon pemilih yang sudah berkali-kali kecewa dengan hasil pemilu, taraf ekonomi tidak berkembang dan tidak merasakan fasilitas yang dijanjikan saat kampanye dulu. Ini merupakan realita yang paling banyak dijumpai, dimana janji saat kampanye tidak bisa dipenuhi saat sudah menjabat sebagai wakil rakyat. Tanggung jawab sebagai perwakilan rakyat yang harusnya menyuarakan aspirasi dan keluh –kesah dari rakyat malah berubah menjadi cara untuk mengeruk untung dari berbagai kebijakan yang tidak jelas arus keuangannya. Biasanya hal ini terjadi karena Si Wakil Rakyat merasa sudah mengeluarkan banyak biaya saat kampanye, jadi saat terpilih dia harus mengupayakan balik modal bahkan cari untung. Artinya Si Wakil Rakyat ini saat kampanye adalah Si penebar “serangan fajar” dan Si penyumbang pamrih , jadi untuk mengantisipasinya di pemilu kali ini jangan lagi pilih caleg yang memberikan iming-iming uang ataupun sembako dadakan. Saya pribadi sangat menolak himbauan, “Terima uangnya, jangan pilih orangnya” , karena dengan melakukan itu maka kita sudah membentuk pribadi licik, hal ini akan direkam oleh genesrasi dibawah kita. Jadi sebaiknya jangan terima uangnya dan jangan pilih orangnya, bahkan akan lebih bijak lagi bila kita laporkan saja Si caleg yang melakukan itu, biar dia malu dan tidak ada yang memilihnya lagi.

Tiga poin diatas adalah yang paling sering kita jumpai, tentu masih banyak lagi alasan-alasan lain yang membuat seseorang memutuskan untuk golput. Intinya golput merupakan ketidakmauan seseorang menggunakan haknya karna alasan yang sangat subyektif. Begitu banyak kerugian yang akan terjadi apabila suara kita dipermainkan oleh pihak-pihak yang hendak bermain curang. Bayangkan 54 juta suara golput bila disulap menjadi suara untuk partai kotor, maka besar kemungkinan nasib kita 5 tahun kedepan akan dipimpin oleh orang-orang kotor.

Dari beberapa penjelasan saya untuk mengatasi perilaku golput diatas mungkin masih ada diantara kita yang belum bisa menemukan sosok caleg yang akan dipilih, maka solusi terakhir agar suara kita tidak dipermainkan adalah dengan tetap datang ke TPS lalu rusak surat suaranya dengan cara anda sendiri. Bisa dengan dicoblos lebih dari 1 kali, bisa pula dengan merobek surat suara tersebut. Yang penting surat suara tersebut menjadi tidak sah dan tidak mungkin dipermainkan oleh pihak-pihak yang curang. Daripada anda tidak datang ke TPS dan kemudian surat suara anda menjadi utuh, lalu oleh pihak-pihak curang tersebut suara anda dicoblos oleh mereka sendiri saat penyetoran ke kantor KPU.

Ingat menjadi golput artinya kita membuang hak kita sendiri tapi kita tetap diharuskan untuk menjalani kewajiban kita sendiri. Kita telah membuang kesempatan kita sendiri untuk memilih orang yang akan memperjuangkan hak kita. Hak atas pendidikan, kesehatan, kesejateraan dan fasilitas penunjuang kehidupan lainnya.

Berhenti untuk tidak peduli politik

Kita tidak harus menjadi politisi untuk berpolitik. Dengan datang ke TPS dan mencoblos kita sudah terjun ke politik. Mengapa kita harus berhenti tidak peduli ? karena segala kebijakan di negeri ini masih ditentukan oleh kekuatan politik. Kebijakan ekonomi, kebijakan sosial, kebijakan hukum dan bahkan kebijakan beragama masih ditentukan oleh pemangku kekuasaan yang dipilih dari hasil pemilu, dan itu adalah buah dari partisipasi politik kita.

Sat No To Golput !

Warm Regard

Usber Fransiskus M.tolak-golput-3a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s