Pelayan Mahasiswa

Kali ini gw mau cerita tentang apa yang baru aja terjadi kemarin (19 Maret 2014). Cerita kali ini masih seputar kehidupan gw di kampus, sebagai salah satu pelayan mahasiswa.

Meskipun jabatan kami adalah aslab tapi bukan berarti kerja kami hanya di lab, tapi juga merangkap sebagai programmer, lab attendant, workshop mentor, infrastruktur – maintenance dan operator lapangan. Intinya semua itu adalah pelayan buat mahasiswa.  Nah, kebetulan hari rabu kemarin gw dan Wayan ditugasin sebagai operator lapangandi Sport Center. Sebenernya jumlah aslab di tahun ini lumayan banyak tapi karena perbedaan jadwal kuliah, banyak aslab baru yang ga bisa tugas dihari yang bersamaan. Maka gak heran kalo tiap harinya paling banyak hanya 13 orang yang bertugas dan tersebar di beberapa lantai. Jadi paling banyak hanya 4 orang yang bertugas ditiap lantai.

Oke langsung aja fokus ke gw..

Pagi itu gw tugas di Sport Center, berhubung lapangan masih sepi dan memang baru ada yang make di jam 10.00 gw iseng ke lab lantai 3 untuk liat jalannya praktikum, tapi ternyata pagi itu praktikum masih ada kendala jadi gw putuskan untuk langsung turun lagi menuju SC.

Dari pagi sampai malam relatif ga ada masalah berarti, gw dan Wayan bisa saling berbagi tugas hari itu. Sesekali ada aja mahasiswa yang ngelanggar aturan tapi masih bisa ditolerir setelah ditegur. Tapi ada satu kejadian yang akhirnya bikin gw pengen nulis cerita ini.

Tiap rabu mulai jam 19.00 – 20.55 lapangan dijadwalkan khusus karyawan(OB, Satpam dan pekerja proyek) dan UKM Futsal, yang terbagi dalam 3 lapangan. 1 lapangan futsal dan 1 lapangan voli untuk karyawan, sementara 1 lapangan lagi dipake untuk UKM Futsal.

Seperti biasanya gw akan menegur lewat microphone kalo ada yang bersandar dijaring lapangan, karena dianggap sebagai perusakan fasilitas kampus. Gak peduli siapapun yang melanggar kami harus tegur. Di jam 20.25 gw ngeliat di lapangan futsal A dan C ada beberapa pemain cadangan yang bersandar di jaring. Maka gw tegur tapi respon berbeda yang ditunjukin sama kedua lapangan itu. Di lapangan A yang diisi sama karyawan, mereka langsung menyadari kesalahan mereka dan segera berdiri dan pindah posisi supaya ga merusak jaring. Semetara itu dilapangan C yang diisi sama UKM Futsal mereka hanya menegakkan punggung tanpa beranjak dari tempatnya duduk.

20.40 kejadian yang sama berulang lagi, tapi hanya di lapangan C yang diisi UKM Futsal. Gw langsung tegur lagi lewat microphone, tapi seolah ga peduli beberapa dari mereka cuma menegakkan punggung lalu beberapa menit kemudian kembali menyandarkan punggung mereka ke jaring pembatas. Entah harus bilang apa lagi supaya mereka ngerti dan ikut aturan.

Kemudian di jam 20.55 gw pencet bel pertanda waktu penggunaan lapangan sudah habis. Pengguna lapangan A dan B langsung segera keluar dari lapangan dan beresin jaring voli. Sedangkan di lapangan C masih terus main, maka gw pun pencet bel sekali lagi. Berharap mereka segera menyudahi permainan mereka tapi yang terjadi adalah mereka masih sempat 2 kali kick off. Di saat itu beberapa OB langsung ngeliat ke arah gw dan seolah ngasih isyarat, “Mas, matiin aja lampunya”. Isyarat itu bukan yang pertama kali dilakuin, kami memang pernah melakukan hal yang sama ketika ada yang tetap bermain disaat bel sudah berbunyi.

Ternyata setelah matiin lampu siapa sangka beberapa dari mereka langsung ngeliat keaera gw dan salah satunya langsung nyamperin gw lalu berbicara dengan nada angkuh dan mengancam karena gak suka sama apa yang gw lakuin. Kejadian ini diliat dan didengar langsung sama salah satu OB. Yang lagi bersihin ruang kerja gw. Entah bagaimana perasaan Mas OB ini ngedenger ucapan mahasiswa itu, pastinya geram karena sebenernya dialah yang harusnya marah ke mahasiswa. Tapi yang bisa dilakukan Mas OB Cuma geleng-geleng kepala aja.

Bukan yang pertama

 

Sebenernya para OB ini udah lumayan sering harus pulang lebih malam karena mereka gak mungkin pulang kalo lapangan belum dibersihin,  dan mereka gak mungkin bersihin lapangan kalo masih ada yang main di lapangan. Mereka pengen banget negur langsung tapi mereka merasa gak punya wewenang apa-apa untuk negur, maka mereka akan bilang ke operator lapangan untuk negur pengguna lapangan yang masih membandel.

Semua orang punya jam kerjanya masing-masing tapi kami disatukan oleh jadwal yang sudah ditetapkan, maka seharusnya tiap individu ikut aturan dan jadwal yang sudah ditentukan. Termasuk OB dan kami operator lapangan. Mereka para OB pasti lelah kerja seharian dan pengen segera pulang dan ketemu keluarga masing-masing. Gw pun demikian, sejak gw memutuskan untuk ga pake kendaraan sendiri tiap ke kampus dan beralih ke kendaraan umum otomatis gw harus mengikuti jadwal angkutan umum yang ada.

Berdasarkan jadwal yang ada, Commuterline terakhir untuk jurusan Universitas Pancasila – Tanah Abang adalah 21.15. Dengan estimasi perjalanan naik angkot dari kampus gw ke stasiun UP adalah 10 menit maka sudah seharusnya gw angkat kaki jam 21.00 , tapi karena kejadian seperti diatas, suatu ketika gw baru bisa pulang jam 21.10 dari kampus alhasil gw ketinggalan kereta. Bus Debora jurusan Lebak Bulus juga udah ga ada. FYI rumah gw berada disekitar Bintaro, Tangerang. Jadi ada 2 alternatif transportasi, pertama naik kereta transit menuju Tanah Abang lalu sambung ke arah Serpong. Lalu alternatif ke dua adalah naik Bus Debora transit ke Lebak Bulus dan lanjut naik angkot ke arah Bintaro.

Lanjut lagi ke cerita keterlambatan gw naik kereta. Akhirnya gw keluar stasiun dan naik angkot 129 menuju Pasar Minggu lalu nyambung Metro mini menuju Blok M. Lalu dari Blok M gw sambung lagi dengan angkot C 01 jurusan Ciledug – Kebayoran Lama, tapi kebetulan kalo udah jam 22.00 rutenya adalah Ciledug – Pasar Senen jadi gw bisa naik dari Blok M untuk menuju Ciledug.

Sampe di Universitas Budi Luhur gw masih harus nelepon kaka gw untuk jemput disana karena ojek jam segitu emang udah ga ada. Dan tahukah kalian itu jam berapa ? Jam 23.30 WIB

Hanya karena telat 10 menit pulang dari kampus, gw harus pulang selarut itu. Dan apakah ada mahasiswa yang peduli ? Ya memang ada beberapa, misalnya anak UKM Basket yang beberapa udah paham mengenai jadwal Commuterline. Jadi mereka bisa saling ngingetin temen lainnya kalo masih ada yang main basket setelah bel berbunyi.

Sebenernya ketua UKM Futsal cukup akrab sama gw, kami sering ngobrol banyak terutama tentang perizinan penggunaan lapangan. Rencananya dalam waktu dekat mereka akan ngadain turnamen. Jadi agak heran kalau situasinya begini, disaat gw dan ketuanya bisa sangat akrab tapi ada anggota UKM Futsal lainnya ga bisa meniru apa yang dilakukan ketuanya.

Sudah semestinya semua saling belajar dan berbenah diri, menghargai profesi masing-masing. Jangan karna profesi orang lain adalah pelayan maka kita merasa lebih tinggi. Gw akui memang gw adalah aslab yang paling keras dibanding aslab lainnya, tapi itu semua hanya sebatas tugas. Di luar itu gw adalah orang yang sama kayak orang lainnya, yang suka ketawa dan suka sama hal – hal menghibur.

Warm Regard

Usber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s