Bersyukur Bahagia Sukses

Kemarin diskusi sama temen lama via telepon. Rupanya dia sekarang sudah punya tabungan 9 digit dari hasil kerja kerasnya, tapi dengan jujur dia mengaku bahwa dia merasa gak lebih bahagia dari gw.

Dari pengakuannya dia tidak korupsi ataupun melakukan kecurangan lainnya, dan memang demikianlah dia yang selama ini gw kenal, selain baik dia juga taat.

Karena penasaran sama ucapan dia yang bilang gw lebih bahagia dibanding dia, gw pun bertanya, “Emang menurut lu apa yang bikin gw terlihat lebih bahagia dibanding lu ?”

Lalu dia jawab, “Lu itu hidupnya kayak gak punya target, jadi gak dikejar-kejar waktu.”

Mendengar ucapan itu gw langsung sanggah, “Eitss salah, gw juga punya target, bahkan mungkin lebih tinggi dibanding target lu sekarang.”

Lalu dia lanjut bertanya, “Maksudnya lebih tinggi gimana ? Kok lu gak keliatan kayak dikejar-kejar ? Malahan masih sempet-sempetnya aktif di sosial media.. haha..” ucap dia dengan tawanya yang keras..

Dengan cukup tenang gw menjawab dia yang kecepatan nafasnya mulai cepat.

“Sebenernya kita sama aja, sama-sama sedang menuju sukses, bedanya gw sedang membangun fondasi yang luas sedangkan lu sedang membangun menara yang lebih tinggi.”

“Mungkin hal yang paling keliatan beda adalah strategi sukses kita, gw berpikir politis sedangkan lu berpikir pragmatis. Gw berusaha merangkul semua kalangan, sedangkan lu memperkokoh posisi dengan hanya bergaul dengan kalangan bisnis saja dengan harapan lu bisa saling sharing ilmu dan saling berbagi bisnis.” lalu dia membenarkan ucapan gw itu.

“Terus, apa yang gw lakukan salah ?” tanya dia lagi.

“Oh tentu nggak, tapi mungkin hal itulah yang membuat lu merasa seperti dikejar-kejar. Karena orang pada level tertentu punya kultur tertentu juga. Dengan cara gw bergaul dengan semua level maka gw punya toleransi yang rentangnya lebih luas, jadi ketika gw capek ada kalangan yang bisa memaklumi gw, sedangkan ketika gw semangat ada kalangan yang bisa mendorong gw lebih tinggi lagi sambil menjaga gw dari bawah. Sedangkan lu, semua rekan lu adalah orang yang ada di level yang tinggi, jadi mereka semua sedang mengangkat lu dari atas. Ketika lu gak cukup kuat menahan tarikan mereka dari atas lalu lu jatuh, mereka akan sulit untuk membantu narik lu ke atas lagi, bukan gak bisa, tapi sulit”

“Karena menghadapi situasi dan konsekuensi itulah lu akan berusaha untuk menggenggam tarikan mereka sekuat tenaga, makanya sekarang lu merasa dikejar-kejar. Iya sih, kita akan bekerja lebih baik, lebih maksimal dan lebih powerfull saat kita dalam keadaan terdesak, tapi apa iya lu mau berada dalam posisi terdesak terus-menerus ?, kalo iya wajarlah kalo lu selalu kelelahan, selalu tidak bahagia.”

“Lu munafik, Ben, kalo bilang uang gak bisa bikin lu bahagia. Hehehe..” katanya..

“Justru lu yang munafik, kalo bilang lu bahagia dengan uang. Karena sebenernya bahagia itu adalah ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita punya dan orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Bahagia itu bakal berlipat ganda rasanya ketika orang lain ikut bahagia melihat apa yang kita raih. Gw bisa berbagi bahagia dengan uang Rp. 10.000 ketika gw pake duit itu untuk beliin coklat kesukaan keponakan gw. Tapi di sisi lain apakah partner bisnis lu itu akan suka ketika lu beli sesuatu seharga Rp. 10. 000 ? bahkan mungkin lu aja minder pas beliinnya, kan ?”

Lalu dengan nada rendah dia bilang, “Iya sih..”

Lalu obrolan kami berlanjut cukup lama dengan dia yang sudah bisa memandang dari perspektif lain yang gw punya. Diapun kembali bersemangat dan berjanji akan mencoba untuk menemukan definisi bahagianya supaya tidak terus-menerus merasa tertekan. Diapun dengan ramah menutup obrolan kami saat itu,“Thanks Ben untuk sharing hari ini, lain kali kita harus ngobrol lagi..”

Jadi ya begitulah gak ada yang salah dengan impian menjadi sukses, tinggal bagaimana kita menyikapi cara dan konsekuensi yang akan kita hadapi di depan, dan yang perlu diingat adalah kita harus mengenal diri kita terlebih dahulu, tau batasan kemampuan diri kita jadi gak akan ada yang namanya jatuh terperosok sangat dalam lalu sulit untuk bangkit.

Hal terakhir dan yang utama harus disadari adalah bahwa orang hanya akan sukses ketika dia bahagia, bukan sebaliknya. Karena hanya dengan pikiran yang damai (bahagia) kita bisa bekerja dengan maksimal, menularkan energi positif kepada orang sekitar dan mendapatkan dukungan tulus dari orang lain.

Bersyukur → Bahagia → Sukses

Kau dengan kelompokmu - Aku dengan mereka semua

Kau dengan kelompokmu – Aku dengan mereka semua

3 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s